TEKNIK SCRIPTING SEBAGAI RUMINATION PADA ANAK DISKALKULIA DENGAN TIPE INHIBITION

Melani Arnaldi dan Supra Wimbarti

 

Melani Arnaldi

Melani Arnaldi

Masalah kesulitan belajar matematika sering menjadi masalah yang ditakuti orang tua sejak anak duduk di bangku sekolah dasar. Anak umunya melihat materi pelajaran matematika sulit, karena  menuntut  sejumlah tahapan proses kognitif, seperti kosentrasi, memori, pemahaman, analisa, sintesa, evaluasi dan kreativitas (Arnaldi, 2011). Dehaene (2011) dalam buku “The Number sense”  menjelaskan bagaimana masalah Diskalkulia pada akhirnya dimasukan kedalam masalah kesulitan belajar yang bersifat sementara, dalam arti  latihan secara prosedural dapat memperbaiki masalah Diskalkulia. Pada umumnya masalah “sulit” dan “perasaan cemas” di saat pertama kali seorang anak belajar matematika dapat berubah menjadi perasaan mudah saat anak mengikuti banyak latihan. Kondisi ini menjelaskan mengapa kemampuan latihan dapat memperbaiki masalah Diskalkulia, mekanisme apa yang terjadi dan bagaimana menjelaskannya dari sudut pandang neuropsikologi.

Dehaene (2011)  menjelaskan bahwa sense terhadap matematika telah dimiliki seorang anak sejak lahir atau dikenal dengan istilah “ Number sense”. Digambarkan bahwa bayi berusia 6 bulan sudah dapat mengenali bentuk,  mengenali penambahan dan pengurangan pada sekelompok benda. Pada saat balita  kemampuan tersebut berkembang menjadi lebih kompleks, seperti kemampuan mengenali banyak atau sedikitnya jumlah sekelompok benda  (magnitude), mengurutkan angka (numberline) dan melakukan penjumlahan angka secara berurutan berkisar dari angka 2 sampai 10. Kemampuan  ini menunjukan bahwa sense terhadap angka telah berfungsi secara kognitif dan akan berhubungan dengan fungsi kognitif lainnya. Sejumlah bagian yang terlibat dalam kemampuan angka seperti  wernick, cerebral korteks, prefrontal korteks, bangsal ganglia akan mempengaruhi kemampuan berhitung seorang anak (Dehaene, 2011).

Bedasarkan masalah tersebut, akhirnya Dehaene  (2011)  membagi masalah kesulitan belajar matematika  menjadi tiga tipe, tipe pertama berkaitan dengan kemampuan verbal, tipe kedua berkaitan dengan kemampuan visual persepsi, tipe ketiga berkaitan dengan masalah inhibition. Masalah pertama dan kedua berkaitan dengan masalah biologik yang  secara genetik telah ada sejak kelahiran  (Dehaene, 2011. Hal.274). Masalah ini bermula dari adanya lesi di bagian parietal yang sangat berkaitan dengan kemampuan berhitung. Kerusakan pada bagian ini menyebabkan anak tidak memiliki sense terhadap angka. Biasanya masalah pada bagian ini  tidak  berdiri sendiri, seringkali mengalami kormorbid dengan gangguan lainnya seperti, disleksia, disgraphia, dementia, dipraksia (Ardilla dan Roselli, 2002). Untuk itu masalah kesulitan belajar matematika tipe tersebut seringkali sulit di tangani dan menjadi masalah hambatan fungsi yang serius dikemudian hari.

Kondisi masalah berbeda dengan tipe ketiga, karena dikaitkan dengan masalah  inhibition dalam executive function. Masalah ini banyak kita temui sebagai masalah kesulitan belajar pada anak di sekolah umum dan menjadi tipe gangguan yang bersifat sementara. Masalah yang tampak jelas terjadi pada kasus anak dengan tipe hiperaktif (ADHD). Anak dengan ADHD di kenal memiliki masalah inhibition sehingga menjadi masalah attention dan cendrung impulsive. Menurut Douglas (2005) masalah inhibition pada executive function pada akhirnya ajan menggangu working memory, karena berhubungan dengan kemampuan  executive process . Kemampuan executive process  berperan dalam kemampuan seleksi, memelihara kosentrasi dan kemampuan switching dengan bagian otak lainnya. Kontrol inhibition di bagian prefrontal korteks berawal di bagian amigdala, sehingga erat kaitannya dengan kondisi psikologis seseorang (Carter, 1009).  Dijelaskan dalam scan MRI  bagaimana Executive Function terlihat seperti sinyal (difuse order) yang sifatnya murni sebagai psychological sense dan berfungsi untuk mengholding informasi dalam mind (Stuss dan Aleksander, 2011). Oleh sebab itu kondisi psikologis seperti depresi terbukti dapat mempengaruhi  proses kontrol inhibition dalam working memory (Joorman & Gotlib 2010).

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu.   Terapi Anak Kesulitan Belajar, salah satunya yang mengalami hambatan matematika (Diskalkulia)

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu.
Terapi Anak Kesulitan Belajar, salah satunya yang mengalami hambatan matematika (Diskalkulia)

Depresi dapat diterjemahkan sebagai  suatu kondisi yang terjadi akibat stress yang berlangsung secara terus menerus. Dapat dilihat bagaimana kondisi anak yang mengalami kesulitan belajar matematika akan mengalami depresi jika tidak segera ditangani. Keadaan depresi jelas akan mengganggu proses inhibition (Joorman & Gotlib, 2010). Masalah inhibition akan mempengaruhi  kemampuan attention dan comprehension (Anderson Damasio Dan Tranell dalam Stuss & Aleksander, 2000). Anak yang mengalami masalah inhibition akan menjadi lemah dalam fungsi consciousness awareness. Padahal fungsi consciousness awareness sangat penting didalam proses retrieval dalam memori (Baddeley,2000). Proses retrieval dalam memori  merupakan bagian explicit didalam membentuk  strategi procedural (Ashcraft dalam Price et al, 2013). Oleh sebab itu masalah kesulitan belajar matematika tipe inhibition dapat merujuk pada ketidakmatangan strategi procedural yang dimiliki anak sehingga kemampuan matematika terlihat buruk secara performance (Mazzocco etal, dalam price etal, 2013).

Sebenarnya banyak sekali strategi prosedural yang diperkenalkan pada anak  yang mengalami Diskalkulia, seperti program computer “Number world” yang diperkenalkan Griffins (2004) atau program “Big Math for Little Kids” yang diperkenalkan oleh Greenes, Ginsburg, Balfanz (2004). Program ini hadir dalam bentuk aktivitas bermain, cerita, bentuk, pola, logika reasoning, pengukuran, operasi angka, ruang. Masalahnya program tersebut kurang efektif untuk membantu meningkatkan kemampuan numeriositiy pada anak yang mengalami kesulitan belajar matematika tipe inhibition.

Secara mekanisme kesulitan belajar matematika dengan tipe inhibition  menunjukan kelemahan dalam kemampuan attention. Dalam kenyataanya kemampuan attention diproses didalam dua bagian yang berbeda di dalam otak. Bagian pertama kemampuan attention yang berada di bagian lobus frontalis dan Bagian kedua kemampuan attention yang berada di bagian girus angularis. Kedua proses  bagian ini menghasilkan fungsi yang berbeda, kemampuan inhibition di bagian lobus frontalis berkaitan dengan proses inhibition pada executive function yang dikaitkan dengan kondisi psikologis, sedangkan bagian girus angularis berkaitan dengan kemampuan strategi asosiasi secara visual dan tidak berkaitan dengan kondisi psikologis. Dalam kenyataannya fungsi di dibagian girus angularis memiliki peran yang sama pentingnya dengan bagian lobus frontalis, seperti fungsi perkembangan bahasa, number processing, spatial cognition, memory retrieval, attention dan theory of mind (Ramachandran & Hubbard, 2003).

Proses kognitif yang terjadi di bagian girus angularis merupakan proses scripting (asosiasi visual) yang penting  digunakan untuk membantu proses retrieval dalam memori. Kemampuan ini  erat kaitannya dengan tugas consciousness awareness. Consciousness awareness merupakan  bentuk dari Self awareness yang digunakan untuk memilh strategi saat dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu masalah. Kemampuan Self awareness berperan penting dalam membentuk strategi rumination pada anak yang mengalami kesulitan belajar matematika. Rumination disebut juga sebagai “recycling thought” yaitu gaya dari proses berpikir yang digunakan untuk membantu inhibition bila dihadapkan pada  hal yang sulit (Nolen-Hoeksema dalam Joorman & Gotlib, 2010). Anak yang terbiasa di ajarkan strategi belajar secara otomatis akan memiliki self awareness dalam menghadapi berbagai soal. Hanya saja anak yang mengalami gangguan inhibition jelas akan menggunakan strategi yang berbeda. Masalah inhibition membuat anak lemah dalam kemampuan attention di bagian lobus frontalis sehingga fungsi attention di bagian penglihatan. Fungsi attention dibagian penglihatan dikenal dengan sebutan proses scripting.

Dijelaskan bahwa ketika anak kesulitan belajar matematika mengalami  depresi, secara otomatis dia akan melakukan proses rumintation. Pada saat ini anak akan menggunakan tehnik scripting sebagai tehnik procedural dalam berhitung. Anak yang sering dilatih kemampuan tehnik procedural akan memiliki self awareness yang baik jika dihadapkan pada soal matematika yang sulit. Self awareness dalam hal ini merupakan bagian intergal dari directive esecutive Function, yang memiliki peran kendali psikologis seperti passion yang menimbulkan perasaan senang (mood positif) saat berhasil menggunakan tehnik scripting tersebut secara berulang. Terdapat dua macam tehnik prosedural scripting (asosiasi visual) yang dapat dilatih pada anak kesulitan belajar matematika antara lain  adalah tehnik asosiasi visual (mnemonic) dan tehnik visual spasial (sketch-pad). Kedua tehnik ini terbukti dapat membantu kemampuan visual semantik dalam memori jangka panjang (Baddeley, 2012 hal 11).

 

Daftar Pustaka

Ardilla, A. Roselli. M (2002) Acalculia and Discalculia.Neuropsycholoogi review vol. 12 no.4

Arnaldi, Melani. (2011). Cognitive process to parameter assessment learning disability of children. Procedia Social and Behavioral Science. 29, 170-178.

Baddeley,A.(2000).The Episodic buffer: a new component of working memory. Trends in cognitive science vol.4,No.11, November 2000.

Carter, Rita (2009) Human Brain . Dorling Kindersley limited, China

Dehaene. S.(2011) The Number sense.Oxford University press

Douglas, V.I. (2005). Cognitive deficit in children with attention deficit hyperactivity disorder: a long term follow-up. Canadian Psychology/Psychologie cannadienne. 46:1, 23-31

Griffin S (2004). Building Number sense with number world: a Mathematics progam for young children. Early childhood research Quarterly 19 173-180

Joorman.J & Golib.I.H (2010). Emotion regulation in Depression:Relation to cognitive inhibition.Cognition and Emotion 281-298

Price G.R, Mazzoco M.M, Ansar D. (2013) Why Mental Arithmatic counts: Brain Activation during single digit Arithmatic Predicts High School Math Scores. DOI:10.1523/JNEUROSCI.2936-12.2013

Ramachandran, VS. Hubbard, EM,(2003) The phenomenology of synaesthesia, journal of consciousness studies, 10, No.8,.pp 49-57

Stuss,D. & M.P.Alexander (2000).Executive Functions & Frontal Lobus : a conceptual view. Psychological research.63,289-298

Baby Spa, Pelayan Terbaru Dari Kami

Kini Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu telah bertambah pelayanannya, yaitu Baby Spa.

 

 

 

 

 

 

Apa itu Baby spa?

Baby spa adalah sejenis terapi yang diberikan pada bayi yang berusia 3 -12 bulan.  Bayi akan dilatih untuk menggerakkan semua anggota geraknya saat berenang. 

 

Apakah kegunaan Babi Spa?

Dari sudut pandang fisioterapi pediatric sangat diperlukan untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak.  Terdapat 4 aspek yang bisa dioptimalkan melalui baby spa, yaitu perkembangan motorik kasar, motorik halus, personal sosial, dan bahasa

Apakah kegiatan ini dapat mendeteksi secara dini masalah gangguan pada anak? Jelas, dalam kegiatan akan terlihat hambatan apa saja yang dialami anak, sehingga dapat sedini mungkin di intervensi. 

Apakah bayi kuat untuk mengikuti aktivitas ini?

Sebenarnya Baby spa bisa dilakukan sendiri oleh orang tua di rumah asalkan orang tua mengetahui cara melakukan baby spa.  Perlu diperhatikan agar anak harus sudah makan minimal satu jam sebelumnya, supaya anak tidak mudah menggigil kedinginan. 

Penting diketahui, penelitian Diana (2014) membuktikan bahwa bayi yang mengikuti baby spa satu kali dalam seminggu akan mengalami penambahan berat badan yang cepat dan lebih nyenyak tidur di malam hari.

Jadwal pelayan: Senin- Sabtu Jam 09.00 – 17.00 wib Biaya Rp. 65.000,-

Pelayanan yang diberikan dalam Paket Treatment adalah 

  1. Berenang
  2. Massage
  3. Terapi Koordinasi motorik
  4. Pemeriksaan Dini tumbuh kembang

 Fasilitas Baby Spa

Fasilitas Baby Spa4

 

Fasilitas Baby Spa3

 

Fasilitas Baby Spa3

 

Fasilitas Baby Spa2

 

Fasilitas Baby Spa1

 

Untuk keterangan lebih lanjut, dapat menghubungi terapis baby spa, Diana 085693621369

MASALAH KEMAMPUAN SCRIPTING (GIRUS ANGULARIS) SEBAGAI BAGIAN FUNGSI SELF AWARENESS PADA KASUS ANAK KETERLAMBATAN BICARA.

Melani Arnaldi & Amitya Kumara

Terapi Wicara Tunarungu

Keterlambatan bicara pada anak usia batita merupakan masalah yang selalu menghantui para orang tua didalam menghantar  perkembangan awal usianya. Pada saat anak masuk prasekolah pada umumnya anak  akan di test kemampuan kemandirian dan komunikasi. Gierut (Kumara, 2014) mengemukakan data NIDC  bahwa lebih dari 10% anak usia prasekolah mengalami masalah fonologi dalam berkomunikasi. Kondisi ini menunjukan bahwa masalah yang sifatnya bukan neurologis (Davidson dalam Kumara 2014) harus mendapat perhatian. Karena keterlambatan bicara dapat dikaitkan dengan keterlambatan kematangan fungsi organ sehingga fungsi kognitif jadi terganggu. Gangguan itu meliputi  indra pendengaran, jalur infus ke kognitif, bagian kognitif, bagian motorik sampai dengan organ pembuat berbicara  seperti bagian wernicke dan broka.

Masalah indentifikasi menjadi sulit apabila ditemukan bahwa anak yang berusia 3 tahun (batita) memiliki fungsi fisiologis bahasa yang normal, tetapi belum dapat berbicara. Terkadang ada juga kasus seorang anak batita, dimana dia mampu mengerti pembicaraan saat orang tuanya menyuruhnya menutup pintu, tetapi tidak dapat menjawab pertanyaan secara benar. Ada juga kasus anak batita yang hampir tidak pernah berbicara tetapi secara spontan tiba tiba menyebutkan kata dengan fonologi yang benar saat melihat sebuah benda atau kasus yang lebih ekstrim dimana anak tidak mampu berkomunikasi dua arah dan sama sekali tidak memiliki attention terhadap apapun.

Mengenali penyebab masalah sangatlah penting karena kemampuan komunikasi dimasa batita sering dijadikan dasar penilaian kemampuan intelektual anak. Anak yang terlihat aktif berbicara sering dikategorikan anak yang cerdas sedangkan anak yang terlambat berbicara sering dikategorikan anak yang bodoh. Kondisi ini sangat mempengaruhi harapan dan label yang diberikan lingkungan pada anak. Oleh sebab itu penting pengenalan lebih dalam masalah keterlamabatan biacara dari sudut pandang psikolingusitik dan neurokognitif.

Seperti yang kita ketahui organ bicara terdiri dari bagian wernick untuk kemampuan pemahaman dan broca untuk kemampuan motorik bicara, kemudian alat penginderaan seperti bagian telinga dan mata yang mampu mempersepsi sensoris sedangkan proses dalam working memory lebih kepada kemampuan memproses infomasi yang diterima.      Selama ini tolak ukur kemampuan anak dalam berbicara terpusat pada kemampuan motorik bicara dan pendengarannya. Anak yang sulit bicara biasanya dilatih dengan tehnik ABA dan tehnik memberikan ransangan pada fungsi lidahnya. Apabila seorang ahli medis telah menyatakan semua organ telah matang hanya saja belum berfungsi dengan baik, sudah tentu intervensi akan mengarah kemasalah fungsi psikologisnya.

Dalam kenyataanya fungsi psikologis (sistem limbic) berperan sebagai energi penghantar sirkuit di dalam otak (Carter, 2009). Fungsi psikologis muncul saat anak telah memiliki self awareness terhadap lingkungannya. Anak yang telah memiliki fungsi self awareness, akan memiliki kemampuan phonological awareness karena berkaitan dengan kematangan pada organ bicaranya. Pada saat ini anak telah menyadari bahwa untuk berbicara membutuhkan kemampuan mengucapkan kata yang merupakan hasil penggabungan kata sampai terjadi rangkaian bunyi yang bermakna (westwood dalam Kumara 2014). Secara struktural, proses pengolahan infromasi didalam otak terjadi secara berurutan. Dimulai ditangkapnya sinyal oleh indera pendengaran yaitu telinga, dan proses yang langsung berhubungan dengan bagian syaraf kloklearis 8. Proses pada bagian ini kemudian  dilanjutkan di bagian (wernicke) untuk diterjemahkan dalam bentuk pemahaman sampai dengan dihasilkannya suara.

Kondisi ini ternyata berbeda saat anak menerima informasi dari indera penglihatan. Indera penglihatan memproses informasi lebih dulu di bagian girus angularis sebelum di terjemahkan di bagian wernick sampai di hasikannya suara di daerah Broca. Dibagian girus angularis terjadi fungsi perkembangan bahasa, number processing, spatial cognition, memory retrieval, attention, theory of mind (Ramachandran, VS. Hubbard, EM, 2003)

Self  awareness dalam hal ini  dikaitkan dengan passion yang berbentuk ketertarikan dari dalam diri  untuk mempertahankan attentionya  (Kobayashi, 2010). Dibagian girus angulais inilai self awareness mempertahankan attentionya untuk memproses infromasi dalam otak. Dimulai dari proses membuat bayangan spatial (scripting), proses retrieval memory, menterjemahkan sampai menghasilkan suara. Oleh sebab itu  fungsi self awareness erat kaitannya dengan kemampuan attention anak dalammemproses apa yang di persepsi di lingkungan. Self awareness terbentuk dari konsep diri dan kematangan dalam kemampuan pemahaman secara kognitif. Sehingga fungsi Self awareness pada akhirnya akan menentukan  tingkat kemampuan mental persepsi seseorang (Kobayashi,2010). Kemampuan mental persepsi berperan penting didalam memelihara proses kognisi dalam working memory. Proses kognisi meliputi kemampuan executive process yang terdiri dari  kemampuan selecting, switching, inhibition dan maintainance (Matlin,2000). Dari hasil pengalaman semua proses kognitif tersebut,semua bagian syaraf akan berkonsolidasi dan membentuk respon komunikasi secara tepat (Carter, 2009).

Menurut Piaget (Chaer, 2009) kemampuan bahasa memiliki struktur yang kompleks dan dipelajari dari lingkungan. Kemampuan bahasa tidak muncul secara alamiah tetapi melalui proses interaksi yang terus menerus antara tingkat formasi menjadi suatu fungsi kognitif anak dengan lingkungan kebahasaannya. Oleh sebab itu Piaget menekankan pentingnya kesiapan kognitif atau kematangan kognitif pada seorang anak untuk mempelajari bahasa. Piaget mengaitkan fungsi  kognitif  dengan kematangan kognitif yang terkait dengan bahasa dengan membagi dalam sejumlah tahapan perkembangan bedasarkan usia.  Piaget  menggolongkan anak yang berusia 2-6 tahun  masuk ke dalam masa pra operasional. Pada masa ini anak sudah mampu melakukan imitasi dari kemampuannya mempersepsi dan membuat perspektif secara simbolik dunia sekitarnya. Dalam tahap ini anak sudah mampu melakukan scripting (visualisasi) dan menginhbition informasi secara baik dalam bentuk  methapore. Sampai pada masa (usia 18-60 bulan)  anak sudah mampu berbahasa dan memiliki Vocabulary  mencapai 100 kata.

Bedasarkan ulasan diatas  dapat  disimpulkan bahwa sejak lahir seorang anak yang normal telah memiliki kemampuan untuk berbicara. Kemampuan bicara baru dapat terjadi jika anak telah memiliki kemampuan untuk memproses bahasa. Dalam kenyataanya kemampuan visual berkembang lebih dulu dibandingkan kemampuan bahasa (verbal). Oleh sebab itu kemampuan anak memahami kata dimulai saat anak telah mampu melakukan methapore sebagai cara anak mengenali kata. Setelah itu barulah anak sampai dengan kemampuan membentuk sintaksis maupun semantik. Walaupun Piaget mengatakan bahwa kematangan kognitif  mengawali semua fungsi diatas, tetapi ransangan lingkungan sosial harus mengawali semuanya. Ransangan lingkungan dalam hal ini berfungsi sebagai pembangkit (trigger) kemampuan self awareness  yang akan mendorong untuk sampai pada ketrampilan berbahasa. Lingkungan dalam hal ini mengajarkan anak cara  mengenali waktu dan saat yang tepat untuk berkomunikasi. Cara dan strategi berbahasa diajarkan kepada anak melalui proses imitasi dan methapore yang di bangun dari aktivitas di lingkungan. Dimulai dari anak meniru cara mengucapkan kata secara fonologi, membentuk sintaksis, semantik maupun grammar yang diajarkan secara tidak langsung dari lingkungan. Oleh sebab itu masalah keterlambatan bicara  haruslah digali lebih dalam dari sudut pandang neurokognitif agar dapat dibuat suatu rancangan intervensi yang  lebih mendasar.

 

Daftar Pustaka

 

Carter, Rita (2009) Human Brain Dorling Kindersleylimited:China

Chaer, A (2009). Psikolinguistik kajian teoritik. PT Rineka Cipta: Jakarta

Kobayashi, H. (2010). Self-awarenss and mental perception. Journal Indian Philosophy, 38, 233-245

Kumara, A (2014) Kesulitan berbahasa pada anak. PT Kanisius Yogyakarta

Matlin, M.W. (2002). Cognition. New York:  Wadsworth Thomson Learning

Ramachandran, VS. Hubbard, EM,(2003) The phenomenology of synaesthesia, journal of consciousness studies, 10, No.8,.pp 49-57

Menelaah Otak Saat Pikiran Tergantikan

Fungsi kerja otak adalah berpikir.  Bagaimana dia menghasilkan respon atas perintah atau pun kebebasan memilih adalah sebuah rangkaian proses dari berpikir.  Produk atau hasil akhir berpikir adalah tindakan.

Bila individu berpikir atau tidak, dapat dilihat dari tindakan atau perilakunya, apakah sesuai perintah atau tidak. Ini adalah bentuk suatu keterpaksaan.  Disisi lain, individu juga bebas memilih.  Dia memiliki inisiatif, yaitu kebebasan memilih suatu tindakan.

Fungsi kerja otak adalah reaksi dari jutaan syaraf yang membentuk suatu mekanisme.  Mereka terhubungkan satu dengan yang lain dalam bentuk impuls listrik.  Reaksi kimia neurontransmitter dan kejutan listrik yang terjadi di otak, membentuk suatu rangkaian reaksi sehingga terbentuk tindakan atau perilaku.  Inilah kerja dari berpikir.

Mekanisme syaraf ini menekankan pemilihan dan awalan dari tindakan sukarela dalam ketidakhadiran perintah dari luar yang tidak dimengerti.  Sebuah proses dari berpikir.  Mekanisme ini biasanya diteliti menggunakan paradigma bahwa perbedaan pilihan gerakan merupakan diciptakan sendiri oleh partisipan dari penelitian pada setiap uji coba.

Fleming, Mars, Gladwin, dan Haggard, meniliti bagaimana ketika pikiran berubah.  Apa yang terjadi di otak.  Mekanisme apa yang terjadi secara neurologi. Mereka melihat “Kebebasan Memillih” ini dibandingkan dengan “Pilihan Terpaksa”, dimana sebuah  rangsangan dari subjek tercatat dimana tindakan untuk membuat pada setiap uji coba.

Berikut adalah rangkaian percobaan dan hasil pencitraan otak dari penelitian mereka.

action selection

Scalp Distribution

S1-locked

 

Preparation Potential

Penelitian Fleming, Mars, Gladwin, dan Haggard, ini berjudul When the brain changes its mind: flexibility of action selection in instructed and free choices, dipublikasikan dalam Cerebral Cortex, 11 February 2009.

Peneliti tersebut memperkenalkan paradigma baru untuk meneliti bentuk dari tindakan terpaksa.  Hal ini dilakukan dengan mengukur teraktifkannya proses-proses otak.  Fungsi kerja ini diawali dengan sebuah instruksi,  baik itu berbalik atau mempertahankan kebebasan dan pilihan terpaksa  dalam periode sebelum sebuah sinyal “go”.

Perintah tak terduga untuk merubah sebuah rencana tanggapan  memiliki perbedaan efek atas pilihan kebebasan dan terpaksa.  Pada percobaan terpaksa, perubahan petunjuk membangkitkan sebuah P300 yang lebih besar dari pada tidak ada perubahan petunjuk.

Hal ini menyebabkan kepada sebuah interaksi signifikan dari pilihan dan perubahan kondisi.  Percobaan Pilihan-bebas menampilkan sebuah kecenderungan melalui pola yang bertolak belakang.

Hal ini menghasilkan usulan bahwa ada perbedaan antara memperbaharui dari tindakan atas pilihan terpaksa dan bebas.

Peneliti ini mengusulkan sebuah kerangka teoritis untuk tindakan yang terbentuk dari dalam dimana mewakili dari tindakan pilihan yang masih tersisa hingga tahap akhir dalam persiapan motorik.  Kerangka teori ini menekankan tingginya modalitas dari tindakan sukarela.

 

Referensi

S.M., Fleming, R.B. Mars, & T.E. Gladwin, and P. Haggard. When the Brain Changes Its Mind: Flexibility of Action Selection in Instructed and Free Choices.  Cerebral Cortex,February 11, 2009 doi:10.1093/cercor/bhn252

Remaja Golongan Ekonomi Bawah Mampu Mengendalikan Diri?

Isu pada remaja adalah bagaimana mereka mengendalikan diri.  Salah satu bentuk pengabdian masyarakat kami adalah kunjungan ke sekolah berupa kuliah umum atau talk show kepada remaja tingkatan SMA

Isu pada remaja adalah bagaimana mereka mengendalikan diri. Salah satu bentuk pengabdian masyarakat kami adalah kunjungan ke sekolah berupa kuliah umum atau talk show kepada remaja tingkatan SMA

Sudah kita ketahui bahwa tekanan hidup pada golongan ekonomi bawah begitu besar.  Tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup tidak berbanding lurus dengan kemampuan.  Akibatnya banyak permasalahan yang terjadi sehingga dapat menimbulkan gangguan kejiwaan, misalnya stress dan depresi.

Telah diketahui juga bahwa manusia memiliki fungsi penyesuaian diri atau adaptasi yang lentur.  Manusia mampu mengatasi permasalahan dengan fungsi ini sehingga kehidupannya lebih baik.  Hal ini terlihat dari pengendalian diri atau self-regulation yang baik.  Dimana mereka mampu mengatasi keadaan lingkungan yang keras terhadapnya.

Banyak penelitian tentang pengendalian diri melibatkan anak dan terkait kepada luaran khusus dalam suatu area tunggal dari fungsi penyesuaian diri.  Buckner, Mezzacappa, dan Beardslee, memilliki ketertarikan terhadap hal ini. Penelitian mereka dipublikasikan dalam artikel  Self-regulation and its relations to adaptive functioning in low income youths. Artikel ini dimuat pada American Journal of Orthopsychiatry, tahun 2009, Vol. 79, No. 1, 19–30.

Mereka meneliti keterkaitan dari pengendalian diri  dengan kisaran yang mengarahkan kepada fungsi penyesuaian diri pada 155 remaja berumur 8 – 18 tahun dari keluarga dengan pendapatan yang rendah.  Penelitian ini menggambarkan bagaimana remaja dari golongan ekonomi bawah memiliki pengendalian diri yang baik serta proses penyesuaian dari yang terjadi pada mereka.

Hasil penelitian menunjukkan adanya kendali kepada variabel-variabel penjelas, bahwa pengendalian diri pada remaja tersebut sangat kuat terhubungkan dengan beberapa luaran ukuran dalam lingkup kesehatan mental, perilaku, pencapaian akademik, dan keterampilan sosial.

Peneliti ini juga membedakan secara relatif antara remaja dengan pengendalian diri yang tinggi dan rendah (kuartil atas dan kuartil bawah).  Ditemukan bahwa remaja dengan pengendalian diri yang baik memiliki arahan dari fungsi adaptasi terhadap ukuran keterampilan sosial, pencapaian akademik, kelas, problem behavior, depresi dan kecemasan yang lebih baik dari pada lawannya dengan pengendalian diri yang rendah.

Sebagai tambahan, remaja dengan keterampilan pengendalian diri yang baik memiliki umpan balik yang tersesuaikan dalam bagaimana mereka mengatasi (coping) kejadian masa lalu yang sangat membuatnya stress atau tertekan.  Selain itu dan bagaimana mereka mampu mengatasi pemicu stress (stressor).

Temuan Buckner, Mezzacappa, dan Beardslee ini mengindikasikan bahwa pengendalian diri  terhubungkan secara kuat dengan kisaran dari arahan pentingnya fungsi penyesuaian diri terhadap berbagai kenyataan.

 

Referensi

Buckner, J.C., E. Mezzacappa, & W.R. Beardslee.  Self-regulation and its relations to adaptive functioning in low income youths. American Journal of Orthopsychiatry .2009, Vol. 79, No. 1, 19–30

Skema Alur Informasi Arimatika Pada Otak Manusia

Misteri proses pengolahan informasi numerikal, khususnya aritmatika terlah terpecahkan.  Artikel Dehaene, Molko, Cohen dan Wilson (2004), telah membuka tabir misteri ini.  Bagaimana proses pengolahan aritmatika digambarkan dari penelitian mereka terkait pasien yang mengalami gangguan dalam proses pengolahan matematika, misalnya disklakulia.  Dehaene dkk (2004) melakukan  studi literatur dan berbagai pendekatan neuropsikologi dengan memandingkan gambar MRI, dan pencitraan otak lainnya. Proses ini tidak hanya bergantung kepada otak kiri, namun otak kanan juga berperan ketika pemerosesan aritmatika terjadi di otak.

Skema proses pengolahan informasi aritmatika dalam otak,

Skema proses pengolahan informasi aritmatika dalam otak.  Singkatan:left AG, Angular Gyrus bagian kiri; FuG, fusiform gyrus; HIPS, horizontal segment of intraparietal sulcus; IFG, inferior frontal gyrus

 

Gambar di atas, menyesuaikan dengan domain nomor model multiple – rute klasik dari membaca kata, merupakan sintesis disederhanakan diagram yang sama di referensi dalam Dehaena, dkk (2004). Meski masih kurang ditentukan baik di tingkat anatomi dan fungsional, diagram tersebut mungkin mulai menjelaskan berbagai dissociations neuropsikologi yang diamati dalam kasus kerusakan otak pada manusia dewasa ( situs kerusakan fungsi otak ditunjukkan dengan bintang ) . Lesi 1 , terkait dengan Alexia murni, akan menciptakan ketidakmampuan untuk membaca angka dan untuk perkalian , tetapi tidak membandingkan atau mengurangi. Lesi 2, terkait dengan disleksia fonologi, akan menciptakan ketidakmampuan untuk membaca angka, tetapi tidak untuk perkalian, mengurangi atau membandingkan. Lesi 3 dan 4 mungkin menjelaskan sering disosiasi ganda antara perkalian dan pengurangan pada pasien yang masih bisa membaca angka, dan ada atau tidak adanya defisit terkait dibandingkan dan pengolahan numerosity non – simbolis. Lesi 5 mungkin menjelaskan kemampuan perhitungan sisa pada pasien yang gagal untuk menghasilkan solusi dari masalah aritmatika lisan, tapi masih bisa menyelesaikannya dalam menulis.

Uraian skema di atas adalah sebagai berikut.  Informasi angka yang ditangkan indera dalam bentuk visual number form, diolah pada fusiform gyrus bagian kiri dan kanan.  Bila masuk ke dalam fusiform gyrus kiri dalam hemisphere kiri maka output yang keluar adalah dalam bentuk fonologikal.  Di dalam hemisphere kiri terjadi verbal representation, serta quantity representation.  Informasi ini masuk ke dalam hemipshere kiri dimana ini adalah ranah bahasa dan pemanggilan informasi yang disimpan karena bersifat menghapal.  Namun ketika terjadi quantity representation seperti membandingkan mana yang lebih besar atau lebih banyak, maka terjadi pengolahan informasi pada hemisphere kiri dan kanan, khususnya pada hemisphere kanan.  Quantity represntation ini terjadi pada HIPS baik di bagian kiri maupun bagian kanan.  Untuk mempermudah gambaran di atas dapat kita lihat pada anatomy otak di bawah ini.

Anatomi otak

Anatomi otak

Secara gamblang skema di atas menjelaskan bahwa proses aritmatika ataupun matematika yang terjadi adalah proses komplek. Ada proses pengenalan simbol, membaca, pemahaman, dan juga proses aritmatika.  Bagimana bagian otak teraktifkan akibat rangkaian proses yang ada.  Tidak hanya bergantung kepada otak kiri, namun juga bagaimana otak kanan teraktifkan dalam pemerosesan aritmatika. Tidak parsial namun bersinergi antar semua bagian.

Gambaran informasi di atas menunjukkan keilmuan psikologi memiliki peran untuk mengetahui fungsi-fungsi otak dari bagian yang ada, khususnya dalam bidang neuropsikologi.  Jika terjadi kerusakan  fungsi, maka tugas dari psikolog dan terapis untuk memperbaikinya dengan intervensi.  Bagaimana sentuhan keilmuan psikologi ini berperan di masyarakat dari informasi penelitian Dehaene, dkk (2004). Khususnya bagaimana membantu individu dengan kesulitan belajar matematika dengan menerapkan intervensi yang berbasiskan pada brain-oriented.

Referensi

Dehaene, S.,  N. Molko, L. Cohen & A.J. Wilson. 2004.  Arithmetic and the brain. Current Opinion in Neurobiology, 14:1–7. [Online]. Diakses 31 Mei 2014.

http://www.aboutdyscalculia.org/DehaeneMolkoCohenWilson2004.pdf

TIPS PERSIAPAN UJIAN KENAIKAN KELAS DI RUMAH

IMG_4287Resize

Setiap individu memiliki strategi belajar yang berbeda dalam persiapan ujian kenaikan kelas. Latihan Working Memory adalah cara yang efektif untuk persiapan evaluasi belajar tersebut

Ujian kenaikan kelas semakin dekat.  Kurang dari dua minggu ke depan, siswa sekolah dari tingkatan SD hingga SMA akan menghadapi ujian kenaikan kelas.  Sudah tentu hal ini membuat orang tua menjadi khawatir, bahkan ada yang cenderung menjadi stress.  Bagaimana tidak? Nasib putra dan putri kesayangan mereka berada pada hasil ujian yang akan dihadapi.

Sudah menjadi momok dan ketakutan bagi orang tua jika anak akan ujian.  Terlebih saat ujian kenaikan kelas. Adalah menjadi sebuah kebanggaan dan prestise bagi orang tua jika anaknya berprestasi.  Namun banyak juga orang tua yang khawatir, khususnya ketika anak mereka berada pada peringkat bawah di kelas.  Namun, tak jarang bagi anak, hal ini menjadi beban tersendiri yang dapat menjadi bumerang bagi mereka saat ujian.  Proses belajar di rumah pun tidak optimal karena kondisi psikis anak yang tidak baik akibat tuntutan dan ancaman dari orang tua agar mereka lebih berprestasi. Oleh karena itu orang tua dan anak perlu bekerja sama jelang ujian kenaikan kelas ini.

Ada beberapa tips yang dapat dilakukan orang tua saat mempersiapkan ananda ketika menghadapi ujian, khususnya kenaikan kelas.  Berikut adalah tips yang dapat dilakukan di rumah:

1. Buatlah kondisi anak menjadi nyaman secara fisik. 

Sehat secara fisik saat menjelang ujian adalah sangat penting. Tidur yang cukup, jauhi aktivitas fisik berlebihan, dan asupan gizi yang memadai khususnya energi untuk otak akan sangat menunjang saat anak belajar.  Kerja otak perlu diikuti dengan istirahat yang cukup.  Tentunya kita tidak ingin adanya kerja otak yang belebihan yang akan berdampak buruk.

Konsentrasi yang tinggi membutuhkan energi yang besar.  Tentunya energi untuk otak berbeda dengan energi untuk otot.  Sumber energi otak adalah gula sederhana, yaitu glukosa.  Gula adalah sumber energi bagi otak yang paling mudah dimanfaatkan dan dicerna.  Jadi, siapkan makanan atau minuman manis saat mereka sedang belajar bahkan sebelum ujian. Coklat dan teh manis adalah contoh makanan dan minuman energi untuk otak yang mudah diperoleh di rumah dan lingkungan di sekolah.

2. Buatlah mereka menjadi nyaman ketika belajar. 

Penting bagi anak untuk tidak merasa terbebani terhadap ujian yang akan dihadapinya. Tak perlu malu untuk mengobral pujian dan sanjungan kepada anak jelang ujian.  Pujian dan sanjungan dibutuhkan anak terlebih saat mereka sedang belajar.  Hal ini dapat menjadikan mereka percaya diri dan dorongan internal. Kondisi mental anak yang baik jelang ujian seperti percaya diri, tenang, dan tidak cemas, berperan penting ketika anak sedang menghadapi ujian.  Proses pengolahan informasi yang baik membutuhkan kondisi mental dan psikologis anak yang sehat seperti di atas.  Tentunya anak lebih mudah menjawab soal dalam kondisi tersebut dibandingkan saat dia tertekan karena ancaman dari orang tua.

3. Latihan working memory

Anak sudah menyimpan informasi seputar materi pelajaran dalam working memory.  Namun bagaimana informasi itu dapat bertahan lama dan mudah dipanggil saat menjawab pertanyaan, tentunya membutuhkan latihan yang tepat.  Tiap individu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing serta strategi belajar yang berbeda. Salah satu cara melatih working memory yang efektif  adalah dengan merangkum.  Bantulah anak membuat rangkuman dari materi yang akan diujikan. Anak dapat menyalin soal beserta jawaban terkait materi yang akan diujikan. Khusus untuk matematika, fisika, atau pelajaran eksakta, anak harus menyalin jalan penyelesaian soal tersebut.  Lakukan latihan ini untuk materi yang sama secara berulang.

Proses ini melatih ingatan jangka panjang (long term memory) dari infomasi yang diujikan. Proses pengulangan ini akan memperkuat short term memory anak, hingga infomasi atau materi yang diujikan menjadi long term memory.  Tentunya informasi yang berada dalam long term memory lebih mudah dipanggil karena tidak akan cepat menghilang seperti short term memory.  Jadi, untuk hasil yang baik tentunya tidak ada SKS (sistem kebut semalam). Semua itu membutuhkan proses yang baik.

Tentunya persiapan yang matang dibutuhkan saat proses evaluasi belajar atau ujian dilakukan. Hasil ujian yang bagus dan di atas KKM merupakan hasil dari rangkaian proses belajar yang baik dari anak dan tidak instan.  Wajib bagi orang tua untuk mendampingi, memantau, dan menciptakan iklim belajar yang nyaman bagi anak di rumah.  Tentunya hal ini akan berdampak positif terhadap nilai yang diperoleh anak.  Semoga tip di atas dapat bermanfaat untuk membantu proses belajar dan mengajar di rumah.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.