Menelaah Otak Saat Pikiran Tergantikan

Fungsi kerja otak adalah berpikir.  Bagaimana dia menghasilkan respon atas perintah atau pun kebebasan memilih adalah sebuah rangkaian proses dari berpikir.  Produk atau hasil akhir berpikir adalah tindakan.

Bila individu berpikir atau tidak, dapat dilihat dari tindakan atau perilakunya, apakah sesuai perintah atau tidak. Ini adalah bentuk suatu keterpaksaan.  Disisi lain, individu juga bebas memilih.  Dia memiliki inisiatif, yaitu kebebasan memilih suatu tindakan.

Fungsi kerja otak adalah reaksi dari jutaan syaraf yang membentuk suatu mekanisme.  Mereka terhubungkan satu dengan yang lain dalam bentuk impuls listrik.  Reaksi kimia neurontransmitter dan kejutan listrik yang terjadi di otak, membentuk suatu rangkaian reaksi sehingga terbentuk tindakan atau perilaku.  Inilah kerja dari berpikir.

Mekanisme syaraf ini menekankan pemilihan dan awalan dari tindakan sukarela dalam ketidakhadiran perintah dari luar yang tidak dimengerti.  Sebuah proses dari berpikir.  Mekanisme ini biasanya diteliti menggunakan paradigma bahwa perbedaan pilihan gerakan merupakan diciptakan sendiri oleh partisipan dari penelitian pada setiap uji coba.

Fleming, Mars, Gladwin, dan Haggard, meniliti bagaimana ketika pikiran berubah.  Apa yang terjadi di otak.  Mekanisme apa yang terjadi secara neurologi. Mereka melihat “Kebebasan Memillih” ini dibandingkan dengan “Pilihan Terpaksa”, dimana sebuah  rangsangan dari subjek tercatat dimana tindakan untuk membuat pada setiap uji coba.

Berikut adalah rangkaian percobaan dan hasil pencitraan otak dari penelitian mereka.

action selection

Scalp Distribution

S1-locked

 

Preparation Potential

Penelitian Fleming, Mars, Gladwin, dan Haggard, ini berjudul When the brain changes its mind: flexibility of action selection in instructed and free choices, dipublikasikan dalam Cerebral Cortex, 11 February 2009.

Peneliti tersebut memperkenalkan paradigma baru untuk meneliti bentuk dari tindakan terpaksa.  Hal ini dilakukan dengan mengukur teraktifkannya proses-proses otak.  Fungsi kerja ini diawali dengan sebuah instruksi,  baik itu berbalik atau mempertahankan kebebasan dan pilihan terpaksa  dalam periode sebelum sebuah sinyal “go”.

Perintah tak terduga untuk merubah sebuah rencana tanggapan  memiliki perbedaan efek atas pilihan kebebasan dan terpaksa.  Pada percobaan terpaksa, perubahan petunjuk membangkitkan sebuah P300 yang lebih besar dari pada tidak ada perubahan petunjuk.

Hal ini menyebabkan kepada sebuah interaksi signifikan dari pilihan dan perubahan kondisi.  Percobaan Pilihan-bebas menampilkan sebuah kecenderungan melalui pola yang bertolak belakang.

Hal ini menghasilkan usulan bahwa ada perbedaan antara memperbaharui dari tindakan atas pilihan terpaksa dan bebas.

Peneliti ini mengusulkan sebuah kerangka teoritis untuk tindakan yang terbentuk dari dalam dimana mewakili dari tindakan pilihan yang masih tersisa hingga tahap akhir dalam persiapan motorik.  Kerangka teori ini menekankan tingginya modalitas dari tindakan sukarela.

 

Referensi

S.M., Fleming, R.B. Mars, & T.E. Gladwin, and P. Haggard. When the Brain Changes Its Mind: Flexibility of Action Selection in Instructed and Free Choices.  Cerebral Cortex,February 11, 2009 doi:10.1093/cercor/bhn252

Remaja Golongan Ekonomi Bawah Mampu Mengendalikan Diri?

Isu pada remaja adalah bagaimana mereka mengendalikan diri.  Salah satu bentuk pengabdian masyarakat kami adalah kunjungan ke sekolah berupa kuliah umum atau talk show kepada remaja tingkatan SMA

Isu pada remaja adalah bagaimana mereka mengendalikan diri. Salah satu bentuk pengabdian masyarakat kami adalah kunjungan ke sekolah berupa kuliah umum atau talk show kepada remaja tingkatan SMA

Sudah kita ketahui bahwa tekanan hidup pada golongan ekonomi bawah begitu besar.  Tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup tidak berbanding lurus dengan kemampuan.  Akibatnya banyak permasalahan yang terjadi sehingga dapat menimbulkan gangguan kejiwaan, misalnya stress dan depresi.

Telah diketahui juga bahwa manusia memiliki fungsi penyesuaian diri atau adaptasi yang lentur.  Manusia mampu mengatasi permasalahan dengan fungsi ini sehingga kehidupannya lebih baik.  Hal ini terlihat dari pengendalian diri atau self-regulation yang baik.  Dimana mereka mampu mengatasi keadaan lingkungan yang keras terhadapnya.

Banyak penelitian tentang pengendalian diri melibatkan anak dan terkait kepada luaran khusus dalam suatu area tunggal dari fungsi penyesuaian diri.  Buckner, Mezzacappa, dan Beardslee, memilliki ketertarikan terhadap hal ini. Penelitian mereka dipublikasikan dalam artikel  Self-regulation and its relations to adaptive functioning in low income youths. Artikel ini dimuat pada American Journal of Orthopsychiatry, tahun 2009, Vol. 79, No. 1, 19–30.

Mereka meneliti keterkaitan dari pengendalian diri  dengan kisaran yang mengarahkan kepada fungsi penyesuaian diri pada 155 remaja berumur 8 – 18 tahun dari keluarga dengan pendapatan yang rendah.  Penelitian ini menggambarkan bagaimana remaja dari golongan ekonomi bawah memiliki pengendalian diri yang baik serta proses penyesuaian dari yang terjadi pada mereka.

Hasil penelitian menunjukkan adanya kendali kepada variabel-variabel penjelas, bahwa pengendalian diri pada remaja tersebut sangat kuat terhubungkan dengan beberapa luaran ukuran dalam lingkup kesehatan mental, perilaku, pencapaian akademik, dan keterampilan sosial.

Peneliti ini juga membedakan secara relatif antara remaja dengan pengendalian diri yang tinggi dan rendah (kuartil atas dan kuartil bawah).  Ditemukan bahwa remaja dengan pengendalian diri yang baik memiliki arahan dari fungsi adaptasi terhadap ukuran keterampilan sosial, pencapaian akademik, kelas, problem behavior, depresi dan kecemasan yang lebih baik dari pada lawannya dengan pengendalian diri yang rendah.

Sebagai tambahan, remaja dengan keterampilan pengendalian diri yang baik memiliki umpan balik yang tersesuaikan dalam bagaimana mereka mengatasi (coping) kejadian masa lalu yang sangat membuatnya stress atau tertekan.  Selain itu dan bagaimana mereka mampu mengatasi pemicu stress (stressor).

Temuan Buckner, Mezzacappa, dan Beardslee ini mengindikasikan bahwa pengendalian diri  terhubungkan secara kuat dengan kisaran dari arahan pentingnya fungsi penyesuaian diri terhadap berbagai kenyataan.

 

Referensi

Buckner, J.C., E. Mezzacappa, & W.R. Beardslee.  Self-regulation and its relations to adaptive functioning in low income youths. American Journal of Orthopsychiatry .2009, Vol. 79, No. 1, 19–30

Skema Alur Informasi Arimatika Pada Otak Manusia

Misteri proses pengolahan informasi numerikal, khususnya aritmatika terlah terpecahkan.  Artikel Dehaene, Molko, Cohen dan Wilson (2004), telah membuka tabir misteri ini.  Bagaimana proses pengolahan aritmatika digambarkan dari penelitian mereka terkait pasien yang mengalami gangguan dalam proses pengolahan matematika, misalnya disklakulia.  Dehaene dkk (2004) melakukan  studi literatur dan berbagai pendekatan neuropsikologi dengan memandingkan gambar MRI, dan pencitraan otak lainnya. Proses ini tidak hanya bergantung kepada otak kiri, namun otak kanan juga berperan ketika pemerosesan aritmatika terjadi di otak.

Skema proses pengolahan informasi aritmatika dalam otak,

Skema proses pengolahan informasi aritmatika dalam otak.  Singkatan:left AG, Angular Gyrus bagian kiri; FuG, fusiform gyrus; HIPS, horizontal segment of intraparietal sulcus; IFG, inferior frontal gyrus

 

Gambar di atas, menyesuaikan dengan domain nomor model multiple – rute klasik dari membaca kata, merupakan sintesis disederhanakan diagram yang sama di referensi dalam Dehaena, dkk (2004). Meski masih kurang ditentukan baik di tingkat anatomi dan fungsional, diagram tersebut mungkin mulai menjelaskan berbagai dissociations neuropsikologi yang diamati dalam kasus kerusakan otak pada manusia dewasa ( situs kerusakan fungsi otak ditunjukkan dengan bintang ) . Lesi 1 , terkait dengan Alexia murni, akan menciptakan ketidakmampuan untuk membaca angka dan untuk perkalian , tetapi tidak membandingkan atau mengurangi. Lesi 2, terkait dengan disleksia fonologi, akan menciptakan ketidakmampuan untuk membaca angka, tetapi tidak untuk perkalian, mengurangi atau membandingkan. Lesi 3 dan 4 mungkin menjelaskan sering disosiasi ganda antara perkalian dan pengurangan pada pasien yang masih bisa membaca angka, dan ada atau tidak adanya defisit terkait dibandingkan dan pengolahan numerosity non – simbolis. Lesi 5 mungkin menjelaskan kemampuan perhitungan sisa pada pasien yang gagal untuk menghasilkan solusi dari masalah aritmatika lisan, tapi masih bisa menyelesaikannya dalam menulis.

Uraian skema di atas adalah sebagai berikut.  Informasi angka yang ditangkan indera dalam bentuk visual number form, diolah pada fusiform gyrus bagian kiri dan kanan.  Bila masuk ke dalam fusiform gyrus kiri dalam hemisphere kiri maka output yang keluar adalah dalam bentuk fonologikal.  Di dalam hemisphere kiri terjadi verbal representation, serta quantity representation.  Informasi ini masuk ke dalam hemipshere kiri dimana ini adalah ranah bahasa dan pemanggilan informasi yang disimpan karena bersifat menghapal.  Namun ketika terjadi quantity representation seperti membandingkan mana yang lebih besar atau lebih banyak, maka terjadi pengolahan informasi pada hemisphere kiri dan kanan, khususnya pada hemisphere kanan.  Quantity represntation ini terjadi pada HIPS baik di bagian kiri maupun bagian kanan.  Untuk mempermudah gambaran di atas dapat kita lihat pada anatomy otak di bawah ini.

Anatomi otak

Anatomi otak

Secara gamblang skema di atas menjelaskan bahwa proses aritmatika ataupun matematika yang terjadi adalah proses komplek. Ada proses pengenalan simbol, membaca, pemahaman, dan juga proses aritmatika.  Bagimana bagian otak teraktifkan akibat rangkaian proses yang ada.  Tidak hanya bergantung kepada otak kiri, namun juga bagaimana otak kanan teraktifkan dalam pemerosesan aritmatika. Tidak parsial namun bersinergi antar semua bagian.

Gambaran informasi di atas menunjukkan keilmuan psikologi memiliki peran untuk mengetahui fungsi-fungsi otak dari bagian yang ada, khususnya dalam bidang neuropsikologi.  Jika terjadi kerusakan  fungsi, maka tugas dari psikolog dan terapis untuk memperbaikinya dengan intervensi.  Bagaimana sentuhan keilmuan psikologi ini berperan di masyarakat dari informasi penelitian Dehaene, dkk (2004). Khususnya bagaimana membantu individu dengan kesulitan belajar matematika dengan menerapkan intervensi yang berbasiskan pada brain-oriented.

Referensi

Dehaene, S.,  N. Molko, L. Cohen & A.J. Wilson. 2004.  Arithmetic and the brain. Current Opinion in Neurobiology, 14:1–7. [Online]. Diakses 31 Mei 2014.

http://www.aboutdyscalculia.org/DehaeneMolkoCohenWilson2004.pdf

TIPS PERSIAPAN UJIAN KENAIKAN KELAS DI RUMAH

IMG_4287Resize

Setiap individu memiliki strategi belajar yang berbeda dalam persiapan ujian kenaikan kelas. Latihan Working Memory adalah cara yang efektif untuk persiapan evaluasi belajar tersebut

Ujian kenaikan kelas semakin dekat.  Kurang dari dua minggu ke depan, siswa sekolah dari tingkatan SD hingga SMA akan menghadapi ujian kenaikan kelas.  Sudah tentu hal ini membuat orang tua menjadi khawatir, bahkan ada yang cenderung menjadi stress.  Bagaimana tidak? Nasib putra dan putri kesayangan mereka berada pada hasil ujian yang akan dihadapi.

Sudah menjadi momok dan ketakutan bagi orang tua jika anak akan ujian.  Terlebih saat ujian kenaikan kelas. Adalah menjadi sebuah kebanggaan dan prestise bagi orang tua jika anaknya berprestasi.  Namun banyak juga orang tua yang khawatir, khususnya ketika anak mereka berada pada peringkat bawah di kelas.  Namun, tak jarang bagi anak, hal ini menjadi beban tersendiri yang dapat menjadi bumerang bagi mereka saat ujian.  Proses belajar di rumah pun tidak optimal karena kondisi psikis anak yang tidak baik akibat tuntutan dan ancaman dari orang tua agar mereka lebih berprestasi. Oleh karena itu orang tua dan anak perlu bekerja sama jelang ujian kenaikan kelas ini.

Ada beberapa tips yang dapat dilakukan orang tua saat mempersiapkan ananda ketika menghadapi ujian, khususnya kenaikan kelas.  Berikut adalah tips yang dapat dilakukan di rumah:

1. Buatlah kondisi anak menjadi nyaman secara fisik. 

Sehat secara fisik saat menjelang ujian adalah sangat penting. Tidur yang cukup, jauhi aktivitas fisik berlebihan, dan asupan gizi yang memadai khususnya energi untuk otak akan sangat menunjang saat anak belajar.  Kerja otak perlu diikuti dengan istirahat yang cukup.  Tentunya kita tidak ingin adanya kerja otak yang belebihan yang akan berdampak buruk.

Konsentrasi yang tinggi membutuhkan energi yang besar.  Tentunya energi untuk otak berbeda dengan energi untuk otot.  Sumber energi otak adalah gula sederhana, yaitu glukosa.  Gula adalah sumber energi bagi otak yang paling mudah dimanfaatkan dan dicerna.  Jadi, siapkan makanan atau minuman manis saat mereka sedang belajar bahkan sebelum ujian. Coklat dan teh manis adalah contoh makanan dan minuman energi untuk otak yang mudah diperoleh di rumah dan lingkungan di sekolah.

2. Buatlah mereka menjadi nyaman ketika belajar. 

Penting bagi anak untuk tidak merasa terbebani terhadap ujian yang akan dihadapinya. Tak perlu malu untuk mengobral pujian dan sanjungan kepada anak jelang ujian.  Pujian dan sanjungan dibutuhkan anak terlebih saat mereka sedang belajar.  Hal ini dapat menjadikan mereka percaya diri dan dorongan internal. Kondisi mental anak yang baik jelang ujian seperti percaya diri, tenang, dan tidak cemas, berperan penting ketika anak sedang menghadapi ujian.  Proses pengolahan informasi yang baik membutuhkan kondisi mental dan psikologis anak yang sehat seperti di atas.  Tentunya anak lebih mudah menjawab soal dalam kondisi tersebut dibandingkan saat dia tertekan karena ancaman dari orang tua.

3. Latihan working memory

Anak sudah menyimpan informasi seputar materi pelajaran dalam working memory.  Namun bagaimana informasi itu dapat bertahan lama dan mudah dipanggil saat menjawab pertanyaan, tentunya membutuhkan latihan yang tepat.  Tiap individu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing serta strategi belajar yang berbeda. Salah satu cara melatih working memory yang efektif  adalah dengan merangkum.  Bantulah anak membuat rangkuman dari materi yang akan diujikan. Anak dapat menyalin soal beserta jawaban terkait materi yang akan diujikan. Khusus untuk matematika, fisika, atau pelajaran eksakta, anak harus menyalin jalan penyelesaian soal tersebut.  Lakukan latihan ini untuk materi yang sama secara berulang.

Proses ini melatih ingatan jangka panjang (long term memory) dari infomasi yang diujikan. Proses pengulangan ini akan memperkuat short term memory anak, hingga infomasi atau materi yang diujikan menjadi long term memory.  Tentunya informasi yang berada dalam long term memory lebih mudah dipanggil karena tidak akan cepat menghilang seperti short term memory.  Jadi, untuk hasil yang baik tentunya tidak ada SKS (sistem kebut semalam). Semua itu membutuhkan proses yang baik.

Tentunya persiapan yang matang dibutuhkan saat proses evaluasi belajar atau ujian dilakukan. Hasil ujian yang bagus dan di atas KKM merupakan hasil dari rangkaian proses belajar yang baik dari anak dan tidak instan.  Wajib bagi orang tua untuk mendampingi, memantau, dan menciptakan iklim belajar yang nyaman bagi anak di rumah.  Tentunya hal ini akan berdampak positif terhadap nilai yang diperoleh anak.  Semoga tip di atas dapat bermanfaat untuk membantu proses belajar dan mengajar di rumah.

DISKALKULIA: GANGGUAN PEMEROSESAN INFORMASI NUMERIKAL DALAM TINJAUAN NEUROPSIKOLOGI

Kesulitan belajar matematika atau diskalkulia erat kaitannya dengan pemerosesan informasi numerikal.  Seiring perkembangan ilmu neuroscience, khususnya neuropsikologi, proses kerja neuron dan kerja otak yang berhubungan erat dengan keberhasilan pemerosesan informasi numerikal ini telah diketahui.  Sebelum berkembangnya neurosains, informasi tentang pemerosesan angka ini hanya seputar tentang pemerosesan simbol, aritmetika, mental matematika, dan analogi tanpa didukung informasi kerja otak dan neuron.  Para psikolog telah mengetahui fungsi pemerosesan informasi numerikal ini dan adanya hambatan pada anak dengan diskalkulia.  Hanya saja, pada bagian otak atau kerja fungsi neuron apa yang terganggu belum diketahui hingga akhir tahun 2000 awal seiring berkembangnya ilmu neurosciene.

Pengetahuan tentang diskalkuia dan kesulitan belajar matematika saat ini telah berkembang pessat seiring perkembangan neuroscience.  Bahkan peneliti diskalkulia telah menciptakan perangkat lunak atau software  bernama “The Number Race” untuk mendeteksi anak dengan gangguan diskalkulia (Wilson  dkk, 2006).  Software ini diperuntukkan bagi anak usia sekolah dasar dengan hambatan matematika sebagai bahan remedial dan latihan matematika, khususnya untuk anak dengan diskalkulia.

Peneliti neuroscience telah menemukan berbagai kemajuan dalam kesulitan belajar matematika ini.  Banyak literartur yang menceritakan perkembangan diskalkulia dengan mempertimbangkan hal berikut: 1) bahwa diskalkulia dapat dibedakan antara “number sense” diskalkulia dan “verbal memory” diskalkulia, 2) mempertimbangkan hubungan antara “number sense” diskalkulia dan “verbal memory” diskalkulia, serta 3) mempertimbangkan hubungan “number sense” diskalkulia lobus parietal inferior (inferior parietal lobes), khususnya “angular gyrus” (Wilson & Dehaene, 2007).

Berikut adalah gambar penampakan otak manusia.  Bagian tertentu dari otak, khususnya horizontal intra-parietal sulcus (HIPS) berkaitan erat dengan pemerosesan informasi numerikal.

 

images_otak

Gambar 1. Penampakan Otak Manusia

 

 

 

ParietCapts_lateral

Gambar 2. Bagian Kanan Cerebral pada penampakan samping.  Bagian yang berwarna biru adalah parietal lobes. Intraparietal sulcus terletak secara horizontal pada bagian tengah dari parietal lobes.

 

nrn1684-f3_gambar

Gambar 3. Lokasi pemerosesan angka pada intraparietal sulcus (Edward M. Hubbard, Manuela Piazza, Philippe Pinel & Stanislas Dehaene. Nature Reviews Neuroscience 6, 435-448 (June 2005). doi :10.1038/nrn1684)

Wilson dan Dehaene (2007) menjelaskan bahwa jika terdapat “core defisit” tunggal yang menyebabkan diskalkulia, maka hal tersebut dikarenakan oleh:

  1.  Deficit dalam number sense atau reprentasi non-symbolic dari angka.  Deficit ini dikarenakan terjadinya imparment dari bagian HIPS.
  2. Gangguan yang terjadi pada representasi symbolic dan non-symbolic.

Lebih lanjut Wilson dan Dehaene (2007), mendeskripsikan kelompok dari diskalkulia, yaitu:

  1. Adanya deficitverbal symbolic representation”, yang berhubungan dengan kerusakan dari angular gyrus, pada bagian inferior frontal dan atau area temporal bahasa, atau pada bagian kiri basal ganglia.  Gangguan tersebut menyebabkan kesulitan belajar dan mengingat fakta-fakta aritmatika (misalnya perkalian), dan kemungkinan juga dalam belajar dari penjumlahan kompleks.
  2. Adaya deficit dalam executive function, karena disfungsi frontal.  Hal ini mengakibatkan kesulitan untuk mengingat fakta aritmatika, akan tetapi hal ini lebih lanjut mengakibatkan kesulitan dalam penggunaan strategi dan prosedur matematika.
  3. Adanya deficit dalam spatial attention, yang dikarenakan disfungsi posterior super parietal.  Tipe ini dapat dihubungkan dengan sistem pencarian “object file”, dan mengakibatkan kesulitan dalam subitizing.  Hal ini juga mengakibatkan kesulitan dalam persepsi dari non-symbolic quantity information, and quantity manipulation.  Namun demikian, dikarenakan erat kaitannya antara representasi spatial dan numerical, sub tipe ini mungkin sulit untuk dipisahkan dari subtipe “number sense”

Temuan dan informasi neuropsikologi di atas terkait diskalkulia telah sangat membantu untuk deteksi dini dan intervensi yang tepat untuk anak dengan diskalkulia atau kesulitan belajar matematika.  Melalui intervensi yang tepat sesuai akar permasalahan gangguan maka kesulitan belajar matematika atau diskalkulia dapat diatasi sehingga pencapaian akademis di sekolah menjadi optimum.

 

Referensi

Wilson, A. J. & Dehaene, S. (2007). Number sense and developmental dyscalculia. Coch, D., Fischer, K, & Dawson, G. (Eds). Human Behavior and the Developing Brain (2nd Edn).

Wilson, A.J., S.K. Revkin, D. Cohen, L. Cohen, & S. Dehaene. (2006) An open trial assessment of “The Number Race”, an adaptive computer game for remediation of dyscalculia. Behavioral and Brain Functions 2006, 2:20

CIRI KESULITAN BELAJAR MATEMATIKA (DISKALKULIA)

Math Day SD Al Azhar Pusat

Melani Arnaldi & Math Day SD Al Azhar Pusat (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Sering sekali kita menemukan siswa atau anak pada tingkatan sekolah dasar yang kesulitan dalam mengerjakan soal matematika.  Contohnya saja, kesulitan untuk menyebutkan angka, mengurutkan angka, berhitung (Operasi penjumlahan dan pengurangan sederhana) dan keterampilan matematika yang lainnya.  Ada kemungkinan anak ini mengalami hambatan atau kesulitan belajar matematika.  Secara umum, kesulitan belajar matematika (Mathematic Disabilities) dapat dikelompokkan menjadi Diskalkulia dan Acalculia.  Diskalkulia mengalami hambatan dalam keterampilan matematika atau berhitung, sedangkan acalculia adalah ketidakmampuan untuk berhitung.

Diskalkulia diartikan sebagai kisaran luas dari kesulitan belajar yang dialami sepanjang hidup dengan menunjukkan lemahnya keterampilan matematika.  Diskalkuia dapat bervariasi dari satu orang ke orang yang lain.  Dan, itu dapat berdampak terhadap seseorang secara berbeda dari tahapan kehidupan yang berbeda pula (NCLD, 2014).

Dua area hambatan yang berkontribusi terhadap kesulitan belajar matematika atau diskalkulia, yaitu:

  1. Hambatan Visual-spatial, yang berakibat kepada permasalahan pemerosesan infomasi, khususnya apa yang dilihat oleh mata.
  2. Hambatan pemerosesan bahasa, yang berakibat kepada kesulitan seseorang dalam memproses dan membuat sensasi atas apa yang ia dengar. (NCLD, 2014).

Dehaene (2014) bercerita tentang diskalkulia lebih lanjut.  Diskalkulia adalah kesulitan belajar spesifik dalam matematika.  Hal ini terjadi dikarenakan adanya hambatan dalam beberapa bagian tertentu dan otak yang melibatkan pemikiran matematika (mathematical cognition), tapi tanpa hambatan kognisi secara umum.  Definisi ini telah digunakan oleh para peneliti cognitive neuroscience saat ini.  Secara umum psikiatris menggunakan terminologi “Mathematic Disorder” (tercantum dalam DSM IV) dan para ahli pendidikan di Amerika Utara lebih banyak menggunakan terminilogi “Mathematical Disabilities”

Lebih lanjut Dehaene (2014) menjelaskan bahwa secara umum definisi “Mathematical disorder” dan “Mathematical Disablibities” memiliki kesamaan yaitu: 1) hadirnya kesulitan dalam matematika, 2) memiliki beberapa tingkatan dari kekhususan (misal pencapaian akademis yang rendah atas beberapa subjek pelajaran), 3) adanya asumsi bahwa hal ini disebabkan oleh disfungsi dari beberapa bagian kerja otak.

Apa yang menjadi tanda atau gejala dari Diskalkulia?

Memiliki masalah dalam pembelajaran matematika bukanlah secara pasti seorang individu memiliki masalah kesulitan belajar.  Setiap siswa atau anak, belajar dengan kecepatan dan cara yang berbeda.  Bagi anak, dibutuhkan waktu dan pelatihan berulang-ulang untuk mempelajari prosedur matematika formal sehingga menjadi hal yang praktis dalam kehidupan sehari-hari mereka.  Jadi, bagaimana seseorang dapat dikatakan diskalkulia? Jika seseorang secara berkelanjutan menunjukkan permasalahan pada gejala yang timbul di bagan bawah ini, dapat dipertimbangkan bagi individu tersebut untuk di test dengan psikolog khususnya test diskalkulia (NCLD, 2014).

DISKALKULIA: GEJALA UMUM BERDASARKAN USIA

Anak Usia Dini Bermasalah dengan:

  • Kesulitan dalam berhitung
  • Memiliki masalah dalam mengidentifikasi angka tertulis
  • Kesulitan menghubungkan ide dari angka (4) dan bagaimana angka tersebut hadir di dunia nyata (4 kuda, 4 mobil, 4 anak)
  • Lemah dalam mengingat angka.
  • Memiliki masalah mengelompokkan benda-benda secara logika, misal meletakkan objek yang bundar di tempat persegi dan objek persegi di tempat yang lainnya.

 

Anak Usia Sekolah Bermasalah dengan:  

  • Memiliki masalah dalam pembelajaran fakta matematika (penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian)
  • Memiliki masalah dalam perkembangan keterampilan problem-solving matematika
  • Lemah dalam memory jangka panjang khususnya fungsi matematika
  • Tidak awam dengan kosa kata matematika
  • Kesulitan mengukur benda Menghindari permaina yang membutuhkan strategi
Remaja dan Dewasa Bermasalah dengan:

  • Kesulitan memperkirakan/estimasi biaya seperti barang belanjaan.
  • Kesulitan belajar konsep matematika diantara fakta-fakta matematika dasar
  • Lemah kemampuannya untuk membuat anggaran atau biaya dari catatan keuangan
  • Bermasalah dengan konsep waktu, misal menepati jadwal atau memperkirakan waktu
  • Bermasalah dalam hal mental matematika
  • Kesulitan menemukan pendekatan-pendekatan atas satu permasalahan

(NCLD, 2014)

Referensi

NCLD. (2014). Dyscalculia. http://www.ncld.org/types-learning-disabilities/dyscalculia/what-is-dyscalculia diakses 26 Maret 2014, 7.33

Dehaene, S. (2014). What is dyscalculia. http://www.aboutdyscalculia.org/dyscalculiamain.html diakses 26 Maret 2014, 7.33

WORKING MEMORY (II)

Melani Arnaldi (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Melani Arnaldi saat menjadi pembicara si Forum Indonesia Muda (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Bagaimana Working memory Berkaitan dengan Kesulitan Belajar?

 

Working memory dapat menjadi masalah utama bagi banyak orang dengan   Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD), kata Cruger. Atau, mungkin salah satu dari banyak hal yang lemah di antara satu set perhatian (attention) dan masalah executive function.

Mereka dengan working memory yang lemah cenderung memiliki gangguan belajar. Dalam sebuah studi yang didanai pemerintah, Alloway dan rekannya menguji lebih dari 3.000 sekolah dasar dan anak-anak SMP di Inggris Mereka menemukan bahwa satu dari sepuluh siswa memiliki working memory yang lemah.

Hal ini ternyata menjadi indikator yang dapat diandalkan saat pembelajaran dilakukan di kelas. Bahkan, ketika menindaklanjuti enam tahun kemudian, mereka menemukan working memory menjadi prediktor yang lebih kuat daripada IQ ketika datang untuk belajar.  “Sembilan puluh delapan persen siswa dengan working memory yang buruk memiliki skor sangat rendah dalam uji berstandar pemahaman membaca dan matematika.”

Kelemahan ini mungkin muncul kemudian, ketika keterampilan eksekutif dari pemahaman dan analisis ikut bermain, kata Swanson. “Sekolah melakukan pekerjaan yang cukup baik dari drill dan pengulangan, serta mengajar phonics kepada anak-anak. Akan tetapi ketika Anda masuk ke hal-hal seperti pemahaman, mulai berantakan.” Hal ini menunjukkan adanya permasalahan di dalam working memory.

Dan, jika seorang anak memiliki kesulitan belajar, working memory yang lemah dapat menambahkan penghinaan yang dialami dan menjadi cedera. Sebagai contoh, adalah memalukan ketika siswa kelas lima yang masih terdengar mengucapkan kata-kata saat membaca.  Dan hal tersebut bergantung atas working memory untuk membantu kompensasi terkait masalah tersebut. Hal ini seperti menempatkan pajak besar pada sistem working memory, kata Cruger. Pada tahap ini, Anda ingin membaca lebih otomatis. Anda ingin dapat melihat kata dan mengenalinya, dan tidak perlu menggunakan attentional (perhatian) yang penuh atau sumber daya dari working memory untuk tugas mengenali kata. Tapi untuk anak dengan kesulitan tersebut, perlu untuk mengimbanginya namun jika tidak dapat mengandalkan kerja penyimpanan informasi dalam working memory, proses tersebut dapat menjadi semakin menyakitkan bagi anak.

Kelemahan ini mungkin senyawa bagi mereka dengan kesulitan belajar, kata Alloway. “Saya telah bekerja di sekolah-sekolah di mana rata-rata 10 tahun dapat mengingat dan memproses empat potongan informasi, tetapi satu dengan working memory yang buruk dapat terlihat seperti rata-rata lima tahun,” katanya. “Untuk anak seperti ini, saat guru berbicara terlalu cepat, sehingga sulit bagi anak untuk mengikutinya. Jadi anak mungkin akhirnya mulai melepaskan diri sama sekali dari tugas yang diberikan.”

Kombinasikan permasalahan ini dengan kecemasan yang tinggi, yang juga menempatkan tuntutan pada working memory, dan itu menjadi lebih serius. “Keadaan emosional Anda dapat memainkan peran dalam kinerja working memory, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi kinerja pada tes yang dilakukan oleh anak,” kata Alloway.

Bagaimana kita dapat mendeteksi permasalahan di dalam Working memory?

Jadi bagaimana kita dapat tahu apakah seorang anak memiliki masalah dengan working memory? Pertama, perhatikan tanda-tanda. Kemudian, mempertimbangkan pengujian atau pengetesan untuk mengkonfirmasi kelemahan, dan menilai kedua jenis memori kerja.

Mengetahui tanda-tanda.   Alloway telah membantu mengembangkan checklist 22-item, standar untuk sekolah dasar dan siswa SMP dan diterbitkan oleh Pearson Assessment di Inggris (Versi AS akan segera tersedia.) Disebut Memory Working Rating Scale (WMRS), membantu guru menentukan masalah ini dengan daftar perilaku yang khas dari seseorang dengan memori kerja yang buruk seperti:

  • Meninggalkan kegiatan-kegiatan sebelum menyelesaikan mereka
  • Suka melamun
  • Gagal untuk menyelesaikan tugas
  • Mengacungkan tangan untuk menjawab pertanyaan tapi lupa apa yang ingin dia katakan (misalnya, ini khas untuk siswa berumur lima tahun, tetapi tidak untuk yang berusia sebelas tahun)
  • Gabungan kata atau kalimat dengan kompsisi yang tidak tepat, misalnya saat menggabungkan dua kalimat
  • Lupa bagaimana untuk melanjutkan aktivitas yang dia mulai, meskipun guru telah menjelaskan langkah-langkahnya.

Alloway menekankan bahwa siswa selalu dibandingkan dengan rekan-rekan untuk mengetahui apa yang khas untuk kelompok usia tertentu. Itu karena working memory berkembang dari waktu ke waktu. Rata-rata pada usia lima tahun, menurut Alloway, siswa dapat mempertahankan dan memproses satu atau dua potongan informasi atau perintah. Tapi saat usia sepuluh tahun dapat melakukan ini dengan tiga potongan informasi dan saat usia empat belas tahun dengan empat potongan informasi atau perintah.   Seorang guru TK baru-baru ini mengatakan kepada Alloway, “Sekarang masuk akal mengapa mereka tidak mendengarkan saya karena saya selalu memberi mereka sekitar empat instruksi pada satu waktu!”

Pertimbangkan pengujian formal.   Seorang psikolog anak atau pendidikan dapat menguji working memory dengan tes seperti Indeks Working memory WISC. Sayangnya banyak siswa dengan working memory yang buruk tidak terdiagnosis. Itu karena mereka belajar untuk mengkompensasi atau mengatasinya, kata Swanson. “Basis pengetahuan mereka atau keterampilan dasar yang diperoleh dalam domain akademik tertentu, seperti membaca atau matematika, membantu mereka menghadapi tuntutan working memory terkait dengan tugas tertentu.”

Menilai kedua jenis working memory.   Dari perspektif pendidikan, penting untuk mengetahui perbedaan antara dua jenis working memory, yaitu auditory dan visual spatial, karena anak-anak dengan kebutuhan belajar yang berbeda mungkin memiliki profil memori kerja yang sangat berbeda, kata Alloway.

“Seorang mahasiswa dengan gangguan membaca dapat memiliki kelemahan dalam memori kerja auditori tetapi kekuatan relatif dalam visual yang memori kerja spasial,” kata Alloway. “Tapi mahasiswa lain dengan dyspraxia mungkin memiliki defisit di seluruh papan tetapi terutama dengan visual spatial working memory.”

Juga perlu diketahui bahwa working memory auditory biasanya mempengaruhi belajar lebih besar daripada memori kerja visual-spasial, kata Alloway. Itu karena, dengan begitu banyak informasi yang disampaikan secara lisan di sekolah, lebih sulit bagi siswa untuk dengan mudah menemukan cara untuk mengimbanginya.

Sekarang kita telah memahami peran working memory, mungkin sudah waktunya untuk mencari bantuan untuk anak kita jika memiliki masalah seperti gambaran di atas. Tanpa intervensi yang secara khusus membahas kelemahan ini, siswa dengan working memory yang buruk tidak akan mengejar dari waktu ke waktu, kata Alloway. Untungnya, ada cara yang lebih dari sebelumnya untuk membantu.

 

Referensi

National Center for Learning Disabilities. (2014). What is working memory and why does it matter? http://www.ncld.org/types-learning-disabilities/executive-function-disorders/what-is-working-memory-why-does-matter?start=2 diakses 2 April 2014

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.