Terapi Musik Untuk Penyembuhan Psikologis

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu

Setiap orang pasti suka musik meski dengan genre berbeda-beda.  Jazz, clasic, pop, ataupun dangdut memiliki nuansa yang disukai setiap individu. Namun disisi lain, musik juga memiliki kekuatan penyembuhan secara psikologis, misalnya menurunkan stress, depresi, dan anxiety.  Oleh karena itu dikembangkanlah terapi musik untuk penyembuhan psikologis.

Terapi musik adalah pelayanan kesehatan yang didirikan di mana musik yang digunakan dalam hubungan terapi untuk mengatasi kebutuhan fisik, emosi, kognitif, dan sosial individu. Setelah menilai kekuatan dan kebutuhan masing-masing klien, terapis musik yang berkualitas memberikan perlakuan yang ditunjukkan termasuk membuat, menyanyi, pindah ke, dan / atau mendengarkan musik. Melalui keterlibatan musik dalam konteks terapi, kemampuan klien diperkuat dan ditransfer ke area lain dari kehidupan mereka. Terapi musik juga menyediakan jalan untuk komunikasi yang dapat membantu bagi mereka yang merasa sulit untuk mengekspresikan diri dengan kata-kata. Penelitian di terapi musik mendukung efektivitas dalam banyak bidang seperti: rehabilitasi fisik secara keseluruhan dan memfasilitasi gerakan, meningkatkan motivasi masyarakat untuk menjadi terlibat dalam pengobatan mereka, memberikan dukungan emosional bagi klien dan keluarga mereka, dan memberikan jalan keluar bagi ekspresi perasaan (American Music Therapy Association).

Musik memiliki kualitas nonverbal, kreatif, struktural, dan emosional. Ini digunakan dalam hubungan terapi untuk memfasilitasi kontak, interaksi, kesadaran diri, belajar, ekspresi diri, komunikasi, dan pengembangan pribadi (Music Therapy Association Ontario)

Penelitian Jaakko Erkkilä , Marko Punkanen , Jörg Fachner , Esa Ala-Ruona , Inga Pöntiö , Mari Tervaniemi, MaunoVanhalaChristian Gold menggambarkan bahwa  terapi musik individu dikombinasikan dengan perawatan standar menjadi  efektif untuk penanganan depresi di antara orang-orang usia kerja. Hasil penelitian ini bersama dengan penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa terapi musik dengan kualitas tertentu adalah perangkat tambahan yang berharga untuk praktik pengobatan yang ditetapkan. Dalam artikelnya yang berjudul “Individual music therapy for depression: randomised controlled trial” menunjukkan bahwa individu dengan perawatan standar disertai terapi musik memperlihatkan perbaikan yang lebih besar dibandingkan dengan individu yang hanya melakukan perawatan standar.  (Erkkilla et al, 2011).

Proses terapi musik dapat bekerja untuk memulihkan, mempertahankan, dan  atau mempromosikan mental, fisik, emosional, dan  atau kesehatan rohani dari semua orang di seluruh jangka hidup dan berfungsi secara berkelanjutan (termasuk mereka yang memiliki gangguan berat dan melemahkan kognitif, neurologis, perilaku dan / atau gangguan emosi seperti yang digariskan dalam DSM-IV-TR) (Music Therapy Association Ontario).

Selain itu seperti yang kita ketahui bahwa anak kebutuhan khusus secara potensial memiliki keterbatasan kecerdasan verbal. sehingga terapi musik juga akan mendorong anak agar dapat mengembangkan kecerdasan musik sebagai bekal kehidupan di masa depan (sebagai guru atau pemain musik dengan bakat profesional).

Oleh karena itu, Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu memberikan pelayanan terapi musik yang terbukti mampu memberikan pengaruh positif secara psikologis. Terapi musik berlangsung selama satu jam, dimulai dengan session meditasi memusatkan kosentrasi dengan hipnosis musik selama 15 menit. Setelah itu anak mulai berlatih musik selama 40 menit, latihan musik kemudian  diakhiri dengan mendengarkan dan menonton pertunjukan musik klasik selama 10 menit untuk memberikan inspirasi dan memotivasi bakat yang ada.

Dengan bantuan terapis dan ahli neuropsikologi, siswa terapi musik akan di tinjau perkembangan mentalnya melalui konseling CBT dan alat EEG. Harapan untuk memperdalam keterampilan bermusik dapat terwujud sekaligus sebagai pelepasan atau release emosi mereka.  Alat musik yang digunakan untuk terapi piano, key board atau gitar yang disediakan sebagai sarana terapi.

Tidak hanya sebagai sarana terapi, peserta  terapi musik yang berbakat akan dipersiapkan untuk ujian sekolah musik agar dapat  memperoleh bersertifikat dan melanjutkan ke jenjang sekolah musik yang lebih tinggi (Yamaha/YPM).

Terapi musik dilakukan dengan frekuensi seminggu dua kali dengan durasi satu jam dengan  biaya Rp.800.000,- per bulan atau frekuensi 1 kali seminggu dengan durasi satu jam dengan biaya Rp.500.000,- per bulan

Untuk informasi dan keterangan lebih lanjut info terapi musik dapat menghubungi:

Muhbikun 085813985500

Wisnu 087770003827

Agus 081389143854

Referensi

Music Therapy Association Ontario. http://www.musictherapyontario.com/page-1090464. Diakses 28 Februari 2015.

American Music Therapy Association. http://www.musictherapy.org/about/musictherapy/. Diakses 28 Februari 2015

Jaakko Erkkilä, Marko Punkanen, Jörg Fachner, Esa Ala-Ruona, Inga Pöntiö, Mari Tervaniemi, MaunoVanhalaChristian Gold. 2011. Individual music therapy for depression: randomised controlled trial. The British Journal of Psychiatri. 31 Juli 2011. DOI: 10.1192/bjp.bp.110.085431

FISIOTERAPI UNTUK KESULITAN BELAJAR

Penanganan kesulitan belajar juga dapat dilakukan dengan fisioterapi.  Fungsi fisiologi tubuh khususnya syaraf  pusat dan tepi  dapat dioptimalkan dengan bantuan fisioterapi.  Terlebih pada kasus hambatan kognitif, misalnya slow learner, learning disability, keterlambatan bicara, gangguan sensoris, gangguan motorik halus dan kasar, adhd, Pdd nos dan autisme. Fisioterapi dapat diberikan sejak bayi usia dua minggu sampai dengan usia dewasa.

Klinik psikoneurologi menyediakan fasilitas fisioterapi, seperti:

tens 6 chanel

tens 6 channel, untuk motorik halus dan kasar.  

Tens atau yang dikenal dengan transcutaneus electricanervestimulation (TENS) berfungsi untuk kasus adanya rasa nyeri, kelemahan otot, dan keterbatasan lingkup gerak sendi yang ternyata mempengaruhi motorik halus anak saat menulis.  Kondisi ini harus diperbaiki agar kemampuan motorik halus anak dapat segera terkondisi sedini mungkin sebelum anak memasuki usia sekolah yang menuntut aktivitas motorik halus yang lebih intensif.  Kekuatan otot tulang belakang untuk menyangga anak duduk saat belajar yang memakan waktu sekitar empat jam membutuhkan kekuatan otot yang baik.  Masalah pada kekuatan otot tulang belakang juga bisa berdampak pada kemampuan anak untuk bisa mempertahankan konsentrasinya saat belajar.  Biasanya gangguan ini dialami oleh anak ADHD/hiperaktif yang memang tidak melalui proses merangkak pada saat bayi.  Sehingga otot tulang belakangnya kurang kuat untuk mempertahankan duduk saat belajar lebih lama.

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu

infra merah, untuk rangsangan syaraf di batang otak.  

Alat infra merah ini berguna untuk memperbaiki motorik karena adanya fungsi syaraf dan otot yang lemah, terutama gangguan pada syaraf tepi, radang selaput otak, sumbatan di selaput otak akibat virus maupun karena kelainan fungsi perkembangan yang menyebabkan gangguan pergerakan motorik anak.  Dengan cara memberikan panas dibagian kepala, leher, dan punggung.  Tujuan terapi ini agar anak memiliki kekuatan otot dan sendi-sendi tulang belakang dan tulang leher yang baik saat duduk berkonsentrasi belajar.

ultrasound

ultra sound untuk motorik halus dan jari.  

Ultrasound digunakan untuk penurunan nyeri tangkuk dan motorik halus seperti tangan dan jari-jari. Melepaskan perlengketan dan gumpalan di leher akibat adanya pembengkakkan otot yang tertarik. Semua fungsi ini berperan aktif saat seseorang melakukan konsentrasi atau mempertahankan duduk dalam waktu yang lama.  Pada kasus anak dengan kesulitan belajar, motorik halus seperti jari-jari ada yang memiliki hambatan di dalam aktivitas menulis sehingga tulisannya menjadi kurang rapi dan cenderung tidak dapat dibaca.  Fisioterapi ini dilakukan secara rutin tiga kali seminggu selama enam bulan, akan menunjukkan perbaikan yang signifikan pada motorik halusnya.

Microwave diathermy

Microwave Dia thermy

Microwavve  diat hermy juga dapat membantu memperlancar peredaran darah, mengurangi rasa sakit, mengurangi spasme otot, membantu meningkatkan kelenturan jariangan lunak, dan mempercepat penyembuhan radang.  Pada kasus anak kesulitan belajar sering mengalami gangguan pada tulang belakang seperti rasa sakit, spasme otot, kekakuan jaringan lunak yang seharusnya diperbaiki dengan fisioterapi agar konsentrasi belajar dapat dicapai dengan baik.  Pada anak dengan kasus kesulitan belajar gangguan sensori motorik jadi masalah karena adanya gangguan pada batang otak atau tulang belakang yang menyimpan banyak syaraf. Oleh sebab itu perbaikan sedini mungkin pada kasus tersebut akan membantu proses perkembangan sensori integrasi motorik dengan lebih baik.

thermal untuk tulang belakang.  Alat ini  mampu memberikan kekuatan energi pada tulang belakang dengan memberikan radiasi gelombang panas pada frekuensi tertentu.  Pada sebagian orang khususnya anak yang mengalami cerebalpalsi mengalami gangguan tulang belakang.

Nebulizer, Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu

Nebulizer, Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu

nebulizer utk terapi paernapasan yang mengalami gangguan kosentrasi dan memori kesulitan belajar.

Alat ini adalah alat untuk melancarkan pernapasan karena gangguan pernapasan seperti batuk, pilek, ataupun asma bisa mengganggu paru-paru.  Kondisi ini mempengaruhi suplai oksigen ke otak, yang apabila berlngsung terus menerus akan mengganggu konsentrasi dan memori.  Oleh sebab itu, beberapa kasus gangguan pernapasan akibat alergi dalam jangka panjang, dapat menyebabkan anak akan mengalami gangguan kesulitanbelajar apabila tidak segera ditangani.

20150227_134224

EEG

Alat eeg untuk latihan menstabilkan emosi.

Adalah jenis fisioterapi untuk orang yang mengalami manik depresif, depresi, dan obsesif kompulsif yang menyerang usia anak-anak. Kecenderungan anak yang sulit mengontrol  emosinya pada ssaat dewasa akan memberikan pengaruh pada kemampuan konsentrasi pada saat belajar.  Dengan menggunakan alat EEG, anak dapat mengntrol sendiri ambang batas emosi yang dimilikinya dan cara mengatasi perasaan emosi itu yang berupa mood untuk menjadi lebih baik dengan kekuatannya sendiri.

 

Fisioterapi Akupuntur Listrik setara akupuntur 1000 jarum

alat elektroakupuntur

Fisoterapi ini mampu meningkatkan fungsi fisiologi syaraf pusat dan tepi sehingga mampu meningkatkan kecerdasan.  Teknik ini setara dengan 1000 jarum akupuntur namun  tidak menimbulkan rasa sakit serta aman bagi anak.  Melalui bantuan teknik akupuntur listrik ini, tumbuh kembang fisiologi tubuh anak dioptimalkan sehingga mampu meningkatkan kecerdasan.

Penelitian yang dilakukan oleh Tian YPQi RLi XLWang YLZhang YJi THou CYWang LJ. dalam artikel ilmiahnya yang berjudul “Acupuncture for promoting intelligence of children–an observation on 37 cases with mental retardation” memberikan gambaran bagaimana teknik akupuntur mampu meningkatkan kecerdasan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah dilakukan terapi selama empat minggu, anak yang dilakukan terapi akupuntur terjadi peningkatan IQ yang lebih baik dibandingkan kontrol.

mekanisme perjalanan elektromagnetik di dalam otak, dijelaskan sebagai bentuk perangsangan syaraf atau neuron di otak. Proses pembelajaran melibatkan penguatan pengkondisian neurons jika dilakukan secara terus menerus. Penguat neurons menyebabkan terbentuknya synapse yang menghubungkan sirkuit saraf (dendrite) dengan sirkuit saraf yang menghubungkan tanggapan (axon). Synapse ini kemudian akan meneruskan sinyal  ke bagian inti sel syaraf melalui sel piramida untuk melakukan depolarisasi (percabangan) menjadi sejumlah axon. Proses ini akan meransang pembenatukan sinapsis karenaa elektro akupuntur melalui dua bentuk ransangan long term depression (LTD) dan long term potensial (LTP). Keduanya merupakan sirkuit neuron yang memperkuat proses terbentuknya synapse melalui proses associative. LTP  akan merangsang reseptor AMPA dan NMDA didalam dendrite ( Carlson 2010, hal 454)

Sinapsis

Gambar 1. Long-term Potentiations  dalam Carlson, N.R. (2010). Physiology of Behavior. Boston : Allyn & Bacon hal 446)

Dalam setiap bagian dendrite dibutuhkan sejumlah neurotransmitter untuk memperkuat jalannya proses. Neurontransmitter yang sangat penting dalam proses pembelajaran adalah hormon dopamine. Badan sel dari sistem yang paling penting dari neuron dopaminergik terletak di bagian ventral tegmental. Bagian ini yang akan meransang akson untuk kemudian memproyeksikan  inti sel di bagian prefrontal cortex, dan amygdala (Carlson , 2010). Studi microdialysis menunjukkan bahwa pemberian penguat (reinforcement) secara  alami ataupun buatan dapat merangsang pelepasan di accumbers inti pada manusia untuk menghasilkan dompamine yang berguna dalam proses pembelajaran (Carlson, 2010 hal .446-449).

Dalam penelitian lainnya, peneliti menemukan bahwa akupunktur dapat “secara efektif meredakan gejala autisme anak dan meningkatkan kecerdasan, kemampuan bahasa dan kemampuan sosial adaptif.” Penelitian ini mendokumentasikan bahwa usia bukan faktor. 4 sampai 6 tahun kelompok usia ditingkatkan dan 2 sampai 3 tahun kelompok usia meningkat sama. Prinsip kulit kepala pengobatan akupunktur yang digunakan dalam penelitian ini adalah “mendapatkan kembali kesadaran dan membuka lubang tersebut.” Sebuah studi yang sama menyimpulkan bahwa kulit kepala akupunktur dikombinasikan dengan terapi bahasa “memiliki efek signifikan positif pada perkembangan bahasa pada anak-anak dengan autisme.” Masih dalam studi lain , 12 kunjungan akupunktur menggunakan elektro-akupuntur meningkatkan fungsi pada anak dengan autisme. Elektro-akupunktur menyebabkan perbaikan dalam pemahaman bahasa dan kemampuan perawatan diri untuk anak-anak di double-blind,, percobaan ini acak, sham dikontrol klinis akupunktur untuk pengobatan gangguan spektrum.

Untuk informasi dan keterangan lebih lanjut, dapat menghubungi:

Muhbikun 085813985500

Diana 085693621369

Agus 08561785391

Referensi

Acupuncture enhances IQ-New discovery. http://www.healthcmi.com/Acupuncture-Continuing-Education-News/1196-acupuncture-enhances-iq-new-discovery#sthash.24pCjnuz.dpuf

Allam H, ElDine NG, Helmy G. Scalp acupuncture effect on language development in children with autism: a pilot study. J Altern Complement Med. 2008 Mar;14(2):109-14.

Huang, J. B., H. F. Cao, J. Hu, L. H. Liu, Z. Wang, and H. Lin. “Clinical research on children mental retardation treated with acupuncture.” Zhongguo zhen jiu= Chinese acupuncture & moxibustion 33, no. 8 (2013): 682.

Carlson, N.R. (2010). Physiology of Behavior. Boston : Allyn & Bacon.

Tian YP1Qi RLi XLWang YLZhang YJi THou CYWang LJ. Acupuncture for promoting intelligence of children–an observation on 37 cases with mental retardation. Journal  of Traditional  Chinese Medicene. 2010 Sep;30(3):176-9.

Wong VC, Chen WX. Randomized controlled trial of electro-acupuncture for autism spectrum disorder.  Altern Med Rev. 2010 Jul;15(2):136-46. Department of Paediatrics and Adolescent Medicine, Queen Mary Hospital, The University of Hong Kong, Hong Kong, China.

Zhongguo Zhen Jiu. 2011 Aug;31(8):692-6. Treatment of autism with scalp acupuncture. Li N, Jin BX, Li JL, Liu ZH. Neuro-Rehabilitation Department, Nanhai Women and Children Hospital Affiliated to Guangzhou University of CM, Guangdong, China.

TERAPI PSIKOLOGI UNTUK REMAJA: MENINGKATKAN SELF-AWARENESS, SELF-REGULATION, DAN MOTIVASI BELAJAR

Melani Arnaldi dan sessi konseling  (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Melani Arnaldi dan sessi konseling serta CBT (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Masa  remaja merupakan masa  “kritis dan badai”, karena  adanya perubahan fisik  yang  tidak  diikuti dengan  perkembangan emosi. Hal tersebut menyebabkan remaja mudah terjeremus ke perilaku negatif (FKUI, 2000).  Secara biologis  perkembangan otak mereka belum berkembang sempurna, yang berakibat pada psikologis emosional remaja, yang kadang  bersikap seperti  anak-anak dan kadang  bersikap dewasa (Lewis, 2002). Remaja belum mempunyai kemampuan dalam  membaca dan memahami emosi dari dalam dirinya ataupun orang lain. Perubahan biologis  dan psikologis remaja  berpengaruh pada  kontrol diri, penilaian, emosi, dan pengaturan diri yang disebut dengan  fungsi eksekutif (American Bar Association, 2004). Dalam hal ini pengaruh biologis hormonal, yaitu  kortisol dikaitkan dengan sistem limbik khususnya  respon amygdala dapat merangsang impulsivitas yang menyebabkan perilaku agresivitas remaja laki-laki.

Hal ini sering kali menimbulkan masalah pada individu remaja dimana terjadi konflik antara orang tua, atau pun lingkungannya seperti sekolah.  Perilaku buruk dan pembangkangan dapat muncul sebagai akibat kurangnya kontrol diri dari remaja.  Perilaku ini muncul dapat berupa manifestasi seperti hilangnya motivasi belajar, tidak pedulii terhadap lingkungan di rumah atau sekolah, bahkan hingga tindakan kriminalitas.  Oleh karena itu pada remaja yang memiliki masalah di atas perlu dilakukan penanganan secara intensif.

Salah satu cara intervensi atau terapi psikologi untuk remaja yang sesuai untuk permasalahan ini adalah dengan Cognitive Behavioral Therapy (CBT).  CBT adalah pendekatan yang intensif, sesi yang pendek, dan berorientasi kepada masalah.  CBT dirancang untuk menjadi cepat, praktis, dan beorientasi kepada tujuan serta menghasilkan individu dengan keterampilan jangka panjang untuk membuat mereka tetap sehat. (Rector, 2007).   Fokus dari CBT adalah di  sini dan saat ini, dimana permasalahan terjadi pada individu dalam kehidupan sehari-hari.  CBT membantu individu untuk melihat bagaimana mereka menginterpretasikan dan mengevaluasi apa yang terjadi  disekitar mereka serta efek dari persepsi pada pengalaman emosional mereka.  (Rector, 2007).

Cognitive behavioral therapy atau CBT adalah tipe konseling umum (psychoterapy).  Melalui CBT, pasien akan berinteraksi dengan konselor (Psychotherapsit atau therapis) dalam sesi yang terstruktur, dimana menghadiri sejumlah sesi terapi yang terbatas.  CBT membantu dapat membantu remaja menjadi aware (peduli) terhadap pemikiran yang negatif atau tidak sesuai dengan diri dan lingkungan.  Hal ini membuat kita lebih berani dalam menghadapi situasi dan meresponnya dengan cara yang efisien.  CBT dapat menjadi alat yang sangat membantu dalam menangangi gangguan mental atau penyakit mental, seperti kecemasan dan depsresi.  CBT dapat menjadi alat yang efektif untuk membantu setiap orang belajar bagaimana menangani situasi dari kehidupan yang membuat diri kita stress. (Mayoclinic.org).

Keadaan hipnosis untuk memperbaiki gangguan emosional, seperti trauma yang dapat meningkatkan kepercayaan diri dan juga strategy coping bagi individu

Sesi CBT dilakukan dalam keadaan relaks dan nyaman bagi remaja dan keluarga (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Remaja yang sehat secara mental adalah ia mampu mengendalikan dirinya dengan baik.  Seiring pertumbuhan usia, maka pertumbuhan mental juga harus tumbuh kembang dengan baik.  Hal ini dapat dilihat dari adanya self-awareness,  dan self-regulation yang baik dari remaja.  Dimana mereka peduli terhadap diri dan tuntutan dari lingkungannya baik orang tua dan sekolah. Perwujudan ini nampak dari adanya motivasi belajar yang baik serta mampu mengendalikan diri dan mematuhi aturan yang ada di dalam keluarga ataupun masyarakat, misalnya sekolah.

Melalui sesi terapi CBT yang dilakukan di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu mampu meningkatkan self-awareness, motivasi belajar, dan self-regulation pada remaja yang mengalami masalah psikologis.  Sesi CBT yang dilakukan oleh terapis dalam arahan Melani Arnaldi, M.Psi., Psi., dilakukan dalam suasana yang hangat dan kekeluargaan.  Remaja dan orang tua disatukan dalam sesi sehingga permasalahan dalam keluarga maupun anggota keluarga dapat dipecahkan dan hubungan menjadi harmonis kembali.  Komunikasi yang tadinya tertutup dan tersendat, dapat menjadi lancar di dalam keluarga.  Keharmonisan ini adalah sebagai fondasi bagi remaja karena sudah meningkatnya self-awareness, dan self-regulation dalam diri mereka sehingga motivasi belajarnya pun meningkat.

Informasi seputar CBT untuk remaja, dapat menghubungi Sdr. Agus (08561785391) atau Ibu Melani Arnaldi, M.Psi., Psi., (0818788488).

Daftar Pustaka

American Bar Association. (2004). Adolescent Brain Development And Legal Culpability. Washington DC

Mayoclinic. http://www.mayoclinic.org/tests-procedures/cognitive-behavioral-therapy/basics/definition/prc-20013594

Lewis, M. (2002). Child and Adolescent Psychiatry: A Comprehensive Textbook.  Lippincott Williams and Wilkins.

Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Bagian Psikiatri FKUI / RSUPN-CM, “UP DATE” Psikiatri Anak.(2000). Universitas Indonesia: Jakarta

Rector, N.A., (2010).  Cognitive behavioral therapy: an information guide. Center of Addiction and Mental Health: Canada.

TEKNIK SCRIPTING SEBAGAI RUMINATION PADA ANAK DISKALKULIA DENGAN TIPE INHIBITION

Melani Arnaldi dan Supra Wimbarti

 

Melani Arnaldi

Melani Arnaldi

Masalah kesulitan belajar matematika sering menjadi masalah yang ditakuti orang tua sejak anak duduk di bangku sekolah dasar. Anak umunya melihat materi pelajaran matematika sulit, karena  menuntut  sejumlah tahapan proses kognitif, seperti kosentrasi, memori, pemahaman, analisa, sintesa, evaluasi dan kreativitas (Arnaldi, 2011). Dehaene (2011) dalam buku “The Number sense”  menjelaskan bagaimana masalah Diskalkulia pada akhirnya dimasukan kedalam masalah kesulitan belajar yang bersifat sementara, dalam arti  latihan secara prosedural dapat memperbaiki masalah Diskalkulia. Pada umumnya masalah “sulit” dan “perasaan cemas” di saat pertama kali seorang anak belajar matematika dapat berubah menjadi perasaan mudah saat anak mengikuti banyak latihan. Kondisi ini menjelaskan mengapa kemampuan latihan dapat memperbaiki masalah Diskalkulia, mekanisme apa yang terjadi dan bagaimana menjelaskannya dari sudut pandang neuropsikologi.

Dehaene (2011)  menjelaskan bahwa sense terhadap matematika telah dimiliki seorang anak sejak lahir atau dikenal dengan istilah “ Number sense”. Digambarkan bahwa bayi berusia 6 bulan sudah dapat mengenali bentuk,  mengenali penambahan dan pengurangan pada sekelompok benda. Pada saat balita  kemampuan tersebut berkembang menjadi lebih kompleks, seperti kemampuan mengenali banyak atau sedikitnya jumlah sekelompok benda  (magnitude), mengurutkan angka (numberline) dan melakukan penjumlahan angka secara berurutan berkisar dari angka 2 sampai 10. Kemampuan  ini menunjukan bahwa sense terhadap angka telah berfungsi secara kognitif dan akan berhubungan dengan fungsi kognitif lainnya. Sejumlah bagian yang terlibat dalam kemampuan angka seperti  wernick, cerebral korteks, prefrontal korteks, bangsal ganglia akan mempengaruhi kemampuan berhitung seorang anak (Dehaene, 2011).

Bedasarkan masalah tersebut, akhirnya Dehaene  (2011)  membagi masalah kesulitan belajar matematika  menjadi tiga tipe, tipe pertama berkaitan dengan kemampuan verbal, tipe kedua berkaitan dengan kemampuan visual persepsi, tipe ketiga berkaitan dengan masalah inhibition. Masalah pertama dan kedua berkaitan dengan masalah biologik yang  secara genetik telah ada sejak kelahiran  (Dehaene, 2011. Hal.274). Masalah ini bermula dari adanya lesi di bagian parietal yang sangat berkaitan dengan kemampuan berhitung. Kerusakan pada bagian ini menyebabkan anak tidak memiliki sense terhadap angka. Biasanya masalah pada bagian ini  tidak  berdiri sendiri, seringkali mengalami kormorbid dengan gangguan lainnya seperti, disleksia, disgraphia, dementia, dipraksia (Ardilla dan Roselli, 2002). Untuk itu masalah kesulitan belajar matematika tipe tersebut seringkali sulit di tangani dan menjadi masalah hambatan fungsi yang serius dikemudian hari.

Kondisi masalah berbeda dengan tipe ketiga, karena dikaitkan dengan masalah  inhibition dalam executive function. Masalah ini banyak kita temui sebagai masalah kesulitan belajar pada anak di sekolah umum dan menjadi tipe gangguan yang bersifat sementara. Masalah yang tampak jelas terjadi pada kasus anak dengan tipe hiperaktif (ADHD). Anak dengan ADHD di kenal memiliki masalah inhibition sehingga menjadi masalah attention dan cendrung impulsive. Menurut Douglas (2005) masalah inhibition pada executive function pada akhirnya ajan menggangu working memory, karena berhubungan dengan kemampuan  executive process . Kemampuan executive process  berperan dalam kemampuan seleksi, memelihara kosentrasi dan kemampuan switching dengan bagian otak lainnya. Kontrol inhibition di bagian prefrontal korteks berawal di bagian amigdala, sehingga erat kaitannya dengan kondisi psikologis seseorang (Carter, 1009).  Dijelaskan dalam scan MRI  bagaimana Executive Function terlihat seperti sinyal (difuse order) yang sifatnya murni sebagai psychological sense dan berfungsi untuk mengholding informasi dalam mind (Stuss dan Aleksander, 2011). Oleh sebab itu kondisi psikologis seperti depresi terbukti dapat mempengaruhi  proses kontrol inhibition dalam working memory (Joorman & Gotlib 2010).

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu.   Terapi Anak Kesulitan Belajar, salah satunya yang mengalami hambatan matematika (Diskalkulia)

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu.
Terapi Anak Kesulitan Belajar, salah satunya yang mengalami hambatan matematika (Diskalkulia)

Depresi dapat diterjemahkan sebagai  suatu kondisi yang terjadi akibat stress yang berlangsung secara terus menerus. Dapat dilihat bagaimana kondisi anak yang mengalami kesulitan belajar matematika akan mengalami depresi jika tidak segera ditangani. Keadaan depresi jelas akan mengganggu proses inhibition (Joorman & Gotlib, 2010). Masalah inhibition akan mempengaruhi  kemampuan attention dan comprehension (Anderson Damasio Dan Tranell dalam Stuss & Aleksander, 2000). Anak yang mengalami masalah inhibition akan menjadi lemah dalam fungsi consciousness awareness. Padahal fungsi consciousness awareness sangat penting didalam proses retrieval dalam memori (Baddeley,2000). Proses retrieval dalam memori  merupakan bagian explicit didalam membentuk  strategi procedural (Ashcraft dalam Price et al, 2013). Oleh sebab itu masalah kesulitan belajar matematika tipe inhibition dapat merujuk pada ketidakmatangan strategi procedural yang dimiliki anak sehingga kemampuan matematika terlihat buruk secara performance (Mazzocco etal, dalam price etal, 2013).

Sebenarnya banyak sekali strategi prosedural yang diperkenalkan pada anak  yang mengalami Diskalkulia, seperti program computer “Number world” yang diperkenalkan Griffins (2004) atau program “Big Math for Little Kids” yang diperkenalkan oleh Greenes, Ginsburg, Balfanz (2004). Program ini hadir dalam bentuk aktivitas bermain, cerita, bentuk, pola, logika reasoning, pengukuran, operasi angka, ruang. Masalahnya program tersebut kurang efektif untuk membantu meningkatkan kemampuan numeriositiy pada anak yang mengalami kesulitan belajar matematika tipe inhibition.

Secara mekanisme kesulitan belajar matematika dengan tipe inhibition  menunjukan kelemahan dalam kemampuan attention. Dalam kenyataanya kemampuan attention diproses didalam dua bagian yang berbeda di dalam otak. Bagian pertama kemampuan attention yang berada di bagian lobus frontalis dan Bagian kedua kemampuan attention yang berada di bagian girus angularis. Kedua proses  bagian ini menghasilkan fungsi yang berbeda, kemampuan inhibition di bagian lobus frontalis berkaitan dengan proses inhibition pada executive function yang dikaitkan dengan kondisi psikologis, sedangkan bagian girus angularis berkaitan dengan kemampuan strategi asosiasi secara visual dan tidak berkaitan dengan kondisi psikologis. Dalam kenyataannya fungsi di dibagian girus angularis memiliki peran yang sama pentingnya dengan bagian lobus frontalis, seperti fungsi perkembangan bahasa, number processing, spatial cognition, memory retrieval, attention dan theory of mind (Ramachandran & Hubbard, 2003).

Proses kognitif yang terjadi di bagian girus angularis merupakan proses scripting (asosiasi visual) yang penting  digunakan untuk membantu proses retrieval dalam memori. Kemampuan ini  erat kaitannya dengan tugas consciousness awareness. Consciousness awareness merupakan  bentuk dari Self awareness yang digunakan untuk memilh strategi saat dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu masalah. Kemampuan Self awareness berperan penting dalam membentuk strategi rumination pada anak yang mengalami kesulitan belajar matematika. Rumination disebut juga sebagai “recycling thought” yaitu gaya dari proses berpikir yang digunakan untuk membantu inhibition bila dihadapkan pada  hal yang sulit (Nolen-Hoeksema dalam Joorman & Gotlib, 2010). Anak yang terbiasa di ajarkan strategi belajar secara otomatis akan memiliki self awareness dalam menghadapi berbagai soal. Hanya saja anak yang mengalami gangguan inhibition jelas akan menggunakan strategi yang berbeda. Masalah inhibition membuat anak lemah dalam kemampuan attention di bagian lobus frontalis sehingga fungsi attention di bagian penglihatan. Fungsi attention dibagian penglihatan dikenal dengan sebutan proses scripting.

Dijelaskan bahwa ketika anak kesulitan belajar matematika mengalami  depresi, secara otomatis dia akan melakukan proses rumintation. Pada saat ini anak akan menggunakan tehnik scripting sebagai tehnik procedural dalam berhitung. Anak yang sering dilatih kemampuan tehnik procedural akan memiliki self awareness yang baik jika dihadapkan pada soal matematika yang sulit. Self awareness dalam hal ini merupakan bagian intergal dari directive esecutive Function, yang memiliki peran kendali psikologis seperti passion yang menimbulkan perasaan senang (mood positif) saat berhasil menggunakan tehnik scripting tersebut secara berulang. Terdapat dua macam tehnik prosedural scripting (asosiasi visual) yang dapat dilatih pada anak kesulitan belajar matematika antara lain  adalah tehnik asosiasi visual (mnemonic) dan tehnik visual spasial (sketch-pad). Kedua tehnik ini terbukti dapat membantu kemampuan visual semantik dalam memori jangka panjang (Baddeley, 2012 hal 11).

 

Daftar Pustaka

Ardilla, A. Roselli. M (2002) Acalculia and Discalculia.Neuropsycholoogi review vol. 12 no.4

Arnaldi, Melani. (2011). Cognitive process to parameter assessment learning disability of children. Procedia Social and Behavioral Science. 29, 170-178.

Baddeley,A.(2000).The Episodic buffer: a new component of working memory. Trends in cognitive science vol.4,No.11, November 2000.

Carter, Rita (2009) Human Brain . Dorling Kindersley limited, China

Dehaene. S.(2011) The Number sense.Oxford University press

Douglas, V.I. (2005). Cognitive deficit in children with attention deficit hyperactivity disorder: a long term follow-up. Canadian Psychology/Psychologie cannadienne. 46:1, 23-31

Griffin S (2004). Building Number sense with number world: a Mathematics progam for young children. Early childhood research Quarterly 19 173-180

Joorman.J & Golib.I.H (2010). Emotion regulation in Depression:Relation to cognitive inhibition.Cognition and Emotion 281-298

Price G.R, Mazzoco M.M, Ansar D. (2013) Why Mental Arithmatic counts: Brain Activation during single digit Arithmatic Predicts High School Math Scores. DOI:10.1523/JNEUROSCI.2936-12.2013

Ramachandran, VS. Hubbard, EM,(2003) The phenomenology of synaesthesia, journal of consciousness studies, 10, No.8,.pp 49-57

Stuss,D. & M.P.Alexander (2000).Executive Functions & Frontal Lobus : a conceptual view. Psychological research.63,289-298

Baby Clinic, untuk deteksi dini kelainan perkembangan anak

Kini Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu telah bertambah pelayanannya, yaitu Baby clinic. yang ditujukan untuk ,melihat perkembangan fisik dan mental bayi  secara neuropsikologi. Deteksi dilakukan oleh tenaga ahli neuropsikologi, fisioterapi dan dokter .

fasilitas yang disediakan , diantaranya adalah pemeriksaan sensori motorik dengan menggunakan  Baby spa. Baby spa adalah sejenis terapi yang diberikan pada bayi yang berusia 3 -12 bulan.  Bayi akan dilatih untuk menggerakkan semua anggota geraknya saat berenang. aktivias sensori motorik anak saat berenang akan menunjukan kematangan perkembangan mental dan refleks automatis dari perkebangan fungsi kecerdasan. melalui aktivitas ini dapat juga mendeteksi kelainan fisik atau mental secara dini untuk mendapat intervensi seperti fisioterapi sejak dini.

Apakah kegunaan Babi Spa?

Dari sudut pandang fisioterapi pediatric sangat diperlukan untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak.  Terdapat 4 aspek yang bisa dioptimalkan melalui baby spa, yaitu perkembangan motorik kasar, motorik halus, personal sosial, dan bahasa

Apakah kegiatan ini dapat mendeteksi secara dini masalah gangguan pada anak? Jelas, dalam kegiatan akan terlihat hambatan apa saja yang dialami anak, sehingga dapat sedini mungkin di intervensi.

Apakah bayi kuat untuk mengikuti aktivitas ini?

Sebenarnya Baby spa bisa dilakukan sendiri oleh orang tua di rumah asalkan orang tua mengetahui cara melakukan baby spa.  Perlu diperhatikan agar anak harus sudah makan minimal satu jam sebelumnya, supaya anak tidak mudah menggigil kedinginan.

Penting diketahui, penelitian Diana (2014) membuktikan bahwa bayi yang mengikuti baby spa satu kali dalam seminggu akan mengalami penambahan berat badan yang cepat dan lebih nyenyak tidur di malam hari.

Jadwal pelayan: Senin- Sabtu Jam 09.00 – 17.00 wib Biaya Rp. 100 000,-

Pelayanan yang diberikan adalah

  1. Berenang
  2. Massage
  3. Terapi Koordinasi motorik
  4. Pemeriksaan Dini tumbuh kembang
  5. fisioterapi untuk kecerdasan bayi

Fasilitas Baby Spa

Fasilitas Baby Spa4

Fasilitas Baby Spa3

Fasilitas Baby Spa3

Fasilitas Baby Spa2

Fasilitas Baby Spa1

Untuk keterangan lebih lanjut, dapat menghubungi,

Diana 085693621369

Muhbikun 085813985500

MASALAH KEMAMPUAN SCRIPTING (GIRUS ANGULARIS) SEBAGAI BAGIAN FUNGSI SELF AWARENESS PADA KASUS ANAK KETERLAMBATAN BICARA.

Melani Arnaldi & Amitya Kumara

Terapi Wicara Tunarungu

Keterlambatan bicara pada anak usia batita merupakan masalah yang selalu menghantui para orang tua didalam menghantar  perkembangan awal usianya. Pada saat anak masuk prasekolah pada umumnya anak  akan di test kemampuan kemandirian dan komunikasi. Gierut (Kumara, 2014) mengemukakan data NIDC  bahwa lebih dari 10% anak usia prasekolah mengalami masalah fonologi dalam berkomunikasi. Kondisi ini menunjukan bahwa masalah yang sifatnya bukan neurologis (Davidson dalam Kumara 2014) harus mendapat perhatian. Karena keterlambatan bicara dapat dikaitkan dengan keterlambatan kematangan fungsi organ sehingga fungsi kognitif jadi terganggu. Gangguan itu meliputi  indra pendengaran, jalur infus ke kognitif, bagian kognitif, bagian motorik sampai dengan organ pembuat berbicara  seperti bagian wernicke dan broka.

Masalah indentifikasi menjadi sulit apabila ditemukan bahwa anak yang berusia 3 tahun (batita) memiliki fungsi fisiologis bahasa yang normal, tetapi belum dapat berbicara. Terkadang ada juga kasus seorang anak batita, dimana dia mampu mengerti pembicaraan saat orang tuanya menyuruhnya menutup pintu, tetapi tidak dapat menjawab pertanyaan secara benar. Ada juga kasus anak batita yang hampir tidak pernah berbicara tetapi secara spontan tiba tiba menyebutkan kata dengan fonologi yang benar saat melihat sebuah benda atau kasus yang lebih ekstrim dimana anak tidak mampu berkomunikasi dua arah dan sama sekali tidak memiliki attention terhadap apapun.

Mengenali penyebab masalah sangatlah penting karena kemampuan komunikasi dimasa batita sering dijadikan dasar penilaian kemampuan intelektual anak. Anak yang terlihat aktif berbicara sering dikategorikan anak yang cerdas sedangkan anak yang terlambat berbicara sering dikategorikan anak yang bodoh. Kondisi ini sangat mempengaruhi harapan dan label yang diberikan lingkungan pada anak. Oleh sebab itu penting pengenalan lebih dalam masalah keterlamabatan biacara dari sudut pandang psikolingusitik dan neurokognitif.

Seperti yang kita ketahui organ bicara terdiri dari bagian wernick untuk kemampuan pemahaman dan broca untuk kemampuan motorik bicara, kemudian alat penginderaan seperti bagian telinga dan mata yang mampu mempersepsi sensoris sedangkan proses dalam working memory lebih kepada kemampuan memproses infomasi yang diterima.      Selama ini tolak ukur kemampuan anak dalam berbicara terpusat pada kemampuan motorik bicara dan pendengarannya. Anak yang sulit bicara biasanya dilatih dengan tehnik ABA dan tehnik memberikan ransangan pada fungsi lidahnya. Apabila seorang ahli medis telah menyatakan semua organ telah matang hanya saja belum berfungsi dengan baik, sudah tentu intervensi akan mengarah kemasalah fungsi psikologisnya.

Dalam kenyataanya fungsi psikologis (sistem limbic) berperan sebagai energi penghantar sirkuit di dalam otak (Carter, 2009). Fungsi psikologis muncul saat anak telah memiliki self awareness terhadap lingkungannya. Anak yang telah memiliki fungsi self awareness, akan memiliki kemampuan phonological awareness karena berkaitan dengan kematangan pada organ bicaranya. Pada saat ini anak telah menyadari bahwa untuk berbicara membutuhkan kemampuan mengucapkan kata yang merupakan hasil penggabungan kata sampai terjadi rangkaian bunyi yang bermakna (westwood dalam Kumara 2014). Secara struktural, proses pengolahan infromasi didalam otak terjadi secara berurutan. Dimulai ditangkapnya sinyal oleh indera pendengaran yaitu telinga, dan proses yang langsung berhubungan dengan bagian syaraf kloklearis 8. Proses pada bagian ini kemudian  dilanjutkan di bagian (wernicke) untuk diterjemahkan dalam bentuk pemahaman sampai dengan dihasilkannya suara.

Kondisi ini ternyata berbeda saat anak menerima informasi dari indera penglihatan. Indera penglihatan memproses informasi lebih dulu di bagian girus angularis sebelum di terjemahkan di bagian wernick sampai di hasikannya suara di daerah Broca. Dibagian girus angularis terjadi fungsi perkembangan bahasa, number processing, spatial cognition, memory retrieval, attention, theory of mind (Ramachandran, VS. Hubbard, EM, 2003)

Self  awareness dalam hal ini  dikaitkan dengan passion yang berbentuk ketertarikan dari dalam diri  untuk mempertahankan attentionya  (Kobayashi, 2010). Dibagian girus angulais inilai self awareness mempertahankan attentionya untuk memproses infromasi dalam otak. Dimulai dari proses membuat bayangan spatial (scripting), proses retrieval memory, menterjemahkan sampai menghasilkan suara. Oleh sebab itu  fungsi self awareness erat kaitannya dengan kemampuan attention anak dalammemproses apa yang di persepsi di lingkungan. Self awareness terbentuk dari konsep diri dan kematangan dalam kemampuan pemahaman secara kognitif. Sehingga fungsi Self awareness pada akhirnya akan menentukan  tingkat kemampuan mental persepsi seseorang (Kobayashi,2010). Kemampuan mental persepsi berperan penting didalam memelihara proses kognisi dalam working memory. Proses kognisi meliputi kemampuan executive process yang terdiri dari  kemampuan selecting, switching, inhibition dan maintainance (Matlin,2000). Dari hasil pengalaman semua proses kognitif tersebut,semua bagian syaraf akan berkonsolidasi dan membentuk respon komunikasi secara tepat (Carter, 2009).

Menurut Piaget (Chaer, 2009) kemampuan bahasa memiliki struktur yang kompleks dan dipelajari dari lingkungan. Kemampuan bahasa tidak muncul secara alamiah tetapi melalui proses interaksi yang terus menerus antara tingkat formasi menjadi suatu fungsi kognitif anak dengan lingkungan kebahasaannya. Oleh sebab itu Piaget menekankan pentingnya kesiapan kognitif atau kematangan kognitif pada seorang anak untuk mempelajari bahasa. Piaget mengaitkan fungsi  kognitif  dengan kematangan kognitif yang terkait dengan bahasa dengan membagi dalam sejumlah tahapan perkembangan bedasarkan usia.  Piaget  menggolongkan anak yang berusia 2-6 tahun  masuk ke dalam masa pra operasional. Pada masa ini anak sudah mampu melakukan imitasi dari kemampuannya mempersepsi dan membuat perspektif secara simbolik dunia sekitarnya. Dalam tahap ini anak sudah mampu melakukan scripting (visualisasi) dan menginhbition informasi secara baik dalam bentuk  methapore. Sampai pada masa (usia 18-60 bulan)  anak sudah mampu berbahasa dan memiliki Vocabulary  mencapai 100 kata.

Bedasarkan ulasan diatas  dapat  disimpulkan bahwa sejak lahir seorang anak yang normal telah memiliki kemampuan untuk berbicara. Kemampuan bicara baru dapat terjadi jika anak telah memiliki kemampuan untuk memproses bahasa. Dalam kenyataanya kemampuan visual berkembang lebih dulu dibandingkan kemampuan bahasa (verbal). Oleh sebab itu kemampuan anak memahami kata dimulai saat anak telah mampu melakukan methapore sebagai cara anak mengenali kata. Setelah itu barulah anak sampai dengan kemampuan membentuk sintaksis maupun semantik. Walaupun Piaget mengatakan bahwa kematangan kognitif  mengawali semua fungsi diatas, tetapi ransangan lingkungan sosial harus mengawali semuanya. Ransangan lingkungan dalam hal ini berfungsi sebagai pembangkit (trigger) kemampuan self awareness  yang akan mendorong untuk sampai pada ketrampilan berbahasa. Lingkungan dalam hal ini mengajarkan anak cara  mengenali waktu dan saat yang tepat untuk berkomunikasi. Cara dan strategi berbahasa diajarkan kepada anak melalui proses imitasi dan methapore yang di bangun dari aktivitas di lingkungan. Dimulai dari anak meniru cara mengucapkan kata secara fonologi, membentuk sintaksis, semantik maupun grammar yang diajarkan secara tidak langsung dari lingkungan. Oleh sebab itu masalah keterlambatan bicara  haruslah digali lebih dalam dari sudut pandang neurokognitif agar dapat dibuat suatu rancangan intervensi yang  lebih mendasar.

 

Daftar Pustaka

 

Carter, Rita (2009) Human Brain Dorling Kindersleylimited:China

Chaer, A (2009). Psikolinguistik kajian teoritik. PT Rineka Cipta: Jakarta

Kobayashi, H. (2010). Self-awarenss and mental perception. Journal Indian Philosophy, 38, 233-245

Kumara, A (2014) Kesulitan berbahasa pada anak. PT Kanisius Yogyakarta

Matlin, M.W. (2002). Cognition. New York:  Wadsworth Thomson Learning

Ramachandran, VS. Hubbard, EM,(2003) The phenomenology of synaesthesia, journal of consciousness studies, 10, No.8,.pp 49-57

Menelaah Otak Saat Pikiran Tergantikan

Fungsi kerja otak adalah berpikir.  Bagaimana dia menghasilkan respon atas perintah atau pun kebebasan memilih adalah sebuah rangkaian proses dari berpikir.  Produk atau hasil akhir berpikir adalah tindakan.

Bila individu berpikir atau tidak, dapat dilihat dari tindakan atau perilakunya, apakah sesuai perintah atau tidak. Ini adalah bentuk suatu keterpaksaan.  Disisi lain, individu juga bebas memilih.  Dia memiliki inisiatif, yaitu kebebasan memilih suatu tindakan.

Fungsi kerja otak adalah reaksi dari jutaan syaraf yang membentuk suatu mekanisme.  Mereka terhubungkan satu dengan yang lain dalam bentuk impuls listrik.  Reaksi kimia neurontransmitter dan kejutan listrik yang terjadi di otak, membentuk suatu rangkaian reaksi sehingga terbentuk tindakan atau perilaku.  Inilah kerja dari berpikir.

Mekanisme syaraf ini menekankan pemilihan dan awalan dari tindakan sukarela dalam ketidakhadiran perintah dari luar yang tidak dimengerti.  Sebuah proses dari berpikir.  Mekanisme ini biasanya diteliti menggunakan paradigma bahwa perbedaan pilihan gerakan merupakan diciptakan sendiri oleh partisipan dari penelitian pada setiap uji coba.

Fleming, Mars, Gladwin, dan Haggard, meniliti bagaimana ketika pikiran berubah.  Apa yang terjadi di otak.  Mekanisme apa yang terjadi secara neurologi. Mereka melihat “Kebebasan Memillih” ini dibandingkan dengan “Pilihan Terpaksa”, dimana sebuah  rangsangan dari subjek tercatat dimana tindakan untuk membuat pada setiap uji coba.

Berikut adalah rangkaian percobaan dan hasil pencitraan otak dari penelitian mereka.

action selection

Scalp Distribution

S1-locked

 

Preparation Potential

Penelitian Fleming, Mars, Gladwin, dan Haggard, ini berjudul When the brain changes its mind: flexibility of action selection in instructed and free choices, dipublikasikan dalam Cerebral Cortex, 11 February 2009.

Peneliti tersebut memperkenalkan paradigma baru untuk meneliti bentuk dari tindakan terpaksa.  Hal ini dilakukan dengan mengukur teraktifkannya proses-proses otak.  Fungsi kerja ini diawali dengan sebuah instruksi,  baik itu berbalik atau mempertahankan kebebasan dan pilihan terpaksa  dalam periode sebelum sebuah sinyal “go”.

Perintah tak terduga untuk merubah sebuah rencana tanggapan  memiliki perbedaan efek atas pilihan kebebasan dan terpaksa.  Pada percobaan terpaksa, perubahan petunjuk membangkitkan sebuah P300 yang lebih besar dari pada tidak ada perubahan petunjuk.

Hal ini menyebabkan kepada sebuah interaksi signifikan dari pilihan dan perubahan kondisi.  Percobaan Pilihan-bebas menampilkan sebuah kecenderungan melalui pola yang bertolak belakang.

Hal ini menghasilkan usulan bahwa ada perbedaan antara memperbaharui dari tindakan atas pilihan terpaksa dan bebas.

Peneliti ini mengusulkan sebuah kerangka teoritis untuk tindakan yang terbentuk dari dalam dimana mewakili dari tindakan pilihan yang masih tersisa hingga tahap akhir dalam persiapan motorik.  Kerangka teori ini menekankan tingginya modalitas dari tindakan sukarela.

 

Referensi

S.M., Fleming, R.B. Mars, & T.E. Gladwin, and P. Haggard. When the Brain Changes Its Mind: Flexibility of Action Selection in Instructed and Free Choices.  Cerebral Cortex,February 11, 2009 doi:10.1093/cercor/bhn252

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.