Launching Biosel Belmont Clinic & Klinik Tumbuh Kembang Bayi, Balita, serta Daycare Cabang Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu

Perkembangan masalah atau gangguan psikologis tidak hanya dilakukan terapi secara psikologis. Pada beberapa gangguan dapat juga dilakukan treatment secara medis. Di latar belakangi dengan perkembangan terkini tersebut, maka pada tanggal 18 Februari 2018 diadakan launcing pembukaan Biosel Belmont Clinic, di Apartment Belmont Residence, Tower Athena, Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat.

IMG-20180218-WA0005

Launching Biosel Belmont Clinic (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

IMG-20180218-WA0010

Foto bersama staf Biosel Belmont Clinic beserta tamu, Prof. Dr. Mutia Hatta (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Biosel Belmont Clinic memberikan beberapa pelayanan terhadap anak berkebutuhan khusus seperti anak dengan autism dan anak dengan cerebral palsy. Pelayanan yang diberikan berupa terapi imun serta terapi sel punca (stem cell). Pelayanan ini berada dalam supervise dari Prof. Dr. Med. Fred Frandrich dari Jerman.  Beberapa paten yang dimiliki oleh beliau dan terdaftar di United States Patent and Trademark Office (USPTO) adalah dalam terapi sel punca.

IMG-20180218-WA0011.jpg

Foto bersama staf dan pemilik Klinik Psikoneurologi dan Biosel Belmont Clinic dengan Prof Dr. Med. Fred Fandrich (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Pada acara pembukaan ini juga sekaligus pembukaan cabang Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu dengan pelayanan day care serta klinik tumbuh kembang anak serta balita di Tower Athena, Apartment Belmont Resideng. Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu memiliki fasilitas yang sama antara lain ruang terapi metakognitif, ruang sensori integrasi, ruang terapi bermain, dan ruang assessment.

IMG-20180220-WA0020

Ruang Terapi Metakognitif (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

IMG-20180217-WA0003

Ruang Terapi Bermain (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

IMG-20180217-WA0004

Ruang Terapi Sensori Integrasi (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

IMG-20180217-WA0006

Ruang Terapi Bayi (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

IMG-20180217-WA0007

Ruang Play Ground (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

IMG-20180217-WA0009

Ruang Terapi Belajar (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Pada acara tersebut dilakukan juga demo alat serta fasilitas yang ada di Biosel Belmont Clinic dan Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu. Beberapa demo yang dilakukan antara lain pelayanan terapi sensori integrasi, terapi metakognitif, terapi neurofeedback, terapi bermain, dan treatment medis. Para tamu dan undangan selain melakukan demo uji treatment, juga melakukan tinjauan terhadap fasilitas yang tersedia di klinik.

IMG-20180220-WA0002

Ruang treatment Biosel Belmont Clinic (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

IMG-20180220-WA0003

Ruang treatment Biosel Belmont Clinic (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

IMG-20180220-WA0004

Ruang Test Psikologi Biosel Belmont Clinic (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

IMG-20180220-WA0005

Ruang Konseling dan Rapat Biosel Belmont Clinic (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

IMG-20180220-WA0007

Biosel Belmont Clinic (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

IMG-20180220-WA0008

Ruang Konsultasi Biosel Belmont Clinic (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

IMG-20180220-WA0009

Lobi  Biosel Belmont Clinic (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

IMG-20180220-WA0010

Lobi Biosel Belmont Clinic (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

IMG-20180220-WA0012

Lobi  Biosel Belmont Clinic(Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

IMG-20180220-WA0013

Ruang Treatment Biosel Belmont  Clinic (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

(Agus/Klinik Psikoneurologi Hang lekiu)

Iklan

TERAPI METAKOGNITIF UNTUK SISWA TINGKATAN SMA

Kasus kesulitan belajar di tingkatan SMA memiliki tantangan yang besar. Hal ini dikarenakan tidak hanya masalah intelegensi yang menjadi tantangan, namun juga materi pelajaran di sekolah formal Indonesia yang cukup berat dan banyak. Tercatat di sekolah formal berkurikulum nasional, siswa tingkat SMA minimal memiliki 12 mata pelajaran. Oleh karena itu, tantangan yang dihadapi ini membutuhkan pendekatan yang dapat mengatasi permasalahan kesulitan belajar yang dialami oleh siswa serta tantangan kurikulum.

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu mengembangkan terapi metakognitif untuk anak kesulitan belajar yang dirancang oleh Melani Arnaldi dan dipublikasikan pada International Conference on Educational and Educational Psychology (ICEEPSY) pada tahun 2011 di Turki. Melani Arnaldi menjabarkan parameter proses kognitif yang dapat digunakan untuk mengukur dan intervensi anak kesulitan belajar. Paramater ini diterapkan di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu dalam proses terapi dan pelatihan bagi siswa kesulitan belajar.

Cognitive Process

Parameter Proses Kognitif Melani dalam mengukur dan intervensi untuk anak kesulitan belajar (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Pada tingkatan SMA, siswa sudah harus mampu melakukan evaluasi dan kreativitas dalam proses pembelajaran yang dilakukan. Tahapan ini adalah tahapan pada tingkatan mahir dimana siswa di tingkatan SMA akan dipersiapkan ke perguruan tinggi ataupun dunia kerja

Pada tahapan evaluasi, siswa dilatih dalam kemampuan melakukan penilaian dari sejumlah pemahaman yang telah diperoleh. Penilaian tidak hanya berkaitan dengan pengujian sejauh mana seseorang telah menguasai informasi agar lebih tepat memecahkan masalah. Dalam tahapan ini seseorang harus memiliki tidak hanya kemampuan dasar dalam berpikir tetapi juga strtagei dalam berpikir. Karena strategi berpikir akan membantu kecepatan seseorang di dalam melakukan evaluasi. Dalam hal ini pelatihan ditujukan untuk menghilangkan unsur subyektifitas sehingga memiliki obyektivitas dalam berpikir, karena kemampuan evaluasi merupakan proses pengujian kemampuan diri yang dapat dinilai juga oleh orang lain (Reynold, miller & weiner, 2009).

Bloom (Krathwol, 2001) membagi evaluasi dalam dua tahap, yaitu: Checking dan critique. Checking adalah kemampuan mendeteksi ketidakonsistenan atau fallacies di dalam proses atau produk, menentukan apa saja process atau product memiliki konsistensi internal. Mendeteksi keefektifan prosedur yan dapat diimplementasikan. Dengan mengkoordinasikan, mendeteksi, memonitoring dan testing. Critiquing berguna untuk mendeteksi ketidak konsistenan antara produk dan criteria eksternal, menentukan prosedur untuk memberikan sebuah problem.

Pada tahapan creativity atau kreativitas kreatifitas tidak hanya membutuhkan suatu kemampuan kognitif tetapi juga afektif. Kemampuan kognitif yang tinggi meliputi memori, berpikir kritis, berpikir deduktif, analogi dan inferensi. Kemampuan afektif yang tinggi meliputi perasaan nyaman untuk mengembangkan rasio, perasaan, intuisi dan sensing yang membutuhkan hubungan intimitas yang kondusif bersama orang disekelilingnya. Kemampuan afektif antara lain adalah Rasio, Perasaan, Intuisi dan Sensing. Kombinasi kognitif dan afektif sangat penting karena sifat dari kreatifitas itu sendiri, yaitu original, psikodelik dan iluminatif.

 

Merangkum SMA

Proses Pelatihan dan Intervensi Metakognitif pada Siswa Tingkat SMA (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Taksonomi Bloom (Anderson & Krathwol, 2006) menggambarkan dengan jelas proses kreatifitas berpikir, yaitu Generating, Planning dan Producing. Generating adalah kemampuan untuk mengumpulkan sejumlah hipothesis, pengalaman dan pengetahuan yang relevan. Dengan mengumpulkan fakta, teori dan fakta nyata. Planning adalah kemampuan membuat perencanaan dan kerangka kombinasi dari sejumlah hipothesis diatas menjadi suatu rangkaian hubungan atau kombinasi atau alternatif baru. Producing adalah kemampuan membuat suatu keputusan dari sejumlah alternatif di atas yang telah diuji untuk menghasilkan suatu produk baru yang sesuai dengan kebutuhan situasional.

Merangkum SMA-2

Pelatihan dan Intervensi Metakognitif pada Siswa Tingkatan SMA (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Berdasarkan uraian di atas, siswa tingkat SMA harus mampu melakukan evaluasi dan kreatifitas berpikir terhadap materi pelajaran yang diberikan. Mereka harus mampu melakukan checking dan critique materi pelajaran di tahapan evaluasi. Pada tahapan kreativitas berpikir mereka juga harus mampu melakukan generating, planning, dan producing dari materi pelajaran. Proses ini dilakukan siswa dengan merangkum materi pelajaran dan mempresentasikan di depan audiens. Hal ini selain melatih evaluasi dan kreativitas berpikir, juga melatih kepercayaan diri, verbal fluency, dan keterampilan berkomunikasi.

Presentasi SMA-1

Presentasi Siswa Tingkatan SMA pada Pelatihan dan Intervensi Metakognitif (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

Pada akhirnya dengan menerapkan pelatihan metakognitif pada tahapan evaluasi dan kreativitas berpikir, siswa tingkatan SMA tidak hanya menuntaskan materi pelajaran atau bacaan dari buku teks. Namun mereka juga mampu mengaplikasikan materi pelajaran di kehidupan sehari-hari (Ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

 

PELATIHAN OTAK TENGAH DENGAN NEUROFEEDBACK

Pelatihan otak tengah adalah terapi yang digunakan untuk membantu mengenali emosi individu dan bagaimana cara untuk mengekspresikan emosinya dengan baik.  Hal ini dilakukan melalui proses pelatihan keseimbangan antara perasaan dan pikiran dengan melatih konsentrasi individu. Individu yang mengalami masalah perkembangan otak tengah akan berdampak kepada perkembangan emosi. Pelatihan ini salah satunya dengan menggunakan alat neurofeedback.

Proses EEG

Pelatihan Neurofeedback untuk keseimbangan emosi dan pikiran atau pelatihan otak tengah (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Neurofeedback adalah sejenis biofeedback yang mengukur gelombang otak untuk menghasilkan sinyal yang bisa dijadikan umpan balik untuk mengajarkan pengaturan fungsi otak sendiri.

Biofeedback didefinisikan sebagai proses untuk mendapatkan kesadaran yang lebih besar terhadap banyak fungsi fisiologis terutama dengan menggunakan instrumen yang memberikan informasi tentang aktivitas sistem yang sama, dengan tujuan untuk dapat memanipulasinya sesuka hati. Beberapa proses yang bisa dikendalikan meliputi gelombang otak, nada otot, kelarutan kulit, denyut jantung dan persepsi nyeri. Pada pelatihan neurofeedback, informasi yang digunakan sebagai pelatihan adalah gelombang otak.

Neurofeedback biasanya diberikan dengan menggunakan video atau suara, dengan umpan balik positif untuk aktivitas otak yang diinginkan dan umpan balik negatif untuk aktivitas otak yang tidak diinginkan.

Salah satu alat yang digunakan dalam melakukan pelatihan neurofeedback adalah EEG (elektroensephalografi). EEG membaca aktivitas listrik otak, khususnya pikiran. Manusia memiliki sekitar 86 miliar neuron di otak yang mengendalikan seluruh tubuh Anda dan membangkitkan pikiran di kepala. Neuron ini menyala dengan frekuensi tertentu. Perangkat EEG membaca frekuensi ini dengan membaca aktivitas listrik yang diproduksi oleh neuron. Para ilmuwan telah sepakat untuk membagi frekuensi ini di pita frekuensi yang berbeda. Semua pita frekuensi telah dipelajari secara intensif dan dikaitkan dengan beberapa keadaan pikiran:

Gelombang Delta (1-3 Hz): Meditasi terdalam dan tidur nyenyak

Gelombang Theta (4-7 Hz): Tidur normal dan meditasi normal

Gelombang Alpha (8-12 Hz): Relaksasi / refleksi

Gelombang Beta (13-30 Hz): Pemikiran aktif, fokus, waspada tinggi, cemas

Gelombang Gamma (31-50 Hz): Sadar persepsi

Gelombang Otak

Gelombang otak yang digunakan dalam pengukuran EEG dan Neurofeedback (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Pada pelatihan neurofeedback di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu, individu akan dihubungkan dengan perangkat EEG melalui Bluetooth dengan beberapa aplikasi untuk melatih fokus atau meditasi. Contohnya adalah pelatihan dimana individu harus “fokus” atau “bermeditasi” untuk mencapai suatu tujuan.  Pelatihan ini akan mengukur dan melatih mental individu dari gelombang otak yang diolah oleh aplikasi neurofeedback.

keseimbangan meditasi dan fokus

Pelatihan keseimbangan antara emosi dan pikiran dengan pengukuran pada gelombang otak (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Bagaimana mengatur pikiran dan kondisi mental sehingga mampu berkonsentrasi tinggi secepat mungkin dan membuat diri menjadi relaks selama mungkin dalam keadaan sadar. Pelatihan yang diberikan seperti permainan memindahkan bola, atau mengangkat balon. Seperti yang dapat dilihat dari uraian di atas, meditasi dan fokus adalah gelombang otak yang berlawanan. Pelatihan ini melatih kemampuan individu dalam mempertahankan keseimbangan antara emosi dan pikirannya dalam keadaan sadar.  Hal ini terlihat bagaimana menyeimbangkan antara meditasi dan fokus pada saat yang bersamaan.

Oleh karena itu harus relatif tidak mudah bagi pengguna perangkat untuk menyimpang dari pelatihan yang diberikan dengan neurofeedback.  Hal ini juga akan melatih regulasi emosi dari pelatihan-pelatihan konsentrasi yang diberikan kepada individu sehingga regulasi perilakunya menjadi baik (Ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

Assessment Anak Dengan Autisme di Pusat Layanan Autis Pemerintah Daerah Provinsi Riau

WhatsApp Image 2018-01-10 at 13.06.10

Pengukuran neuropsikologi dengan EEG dari anak dengan autisme di PLA Provinsi Riau (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

Pemeriksaan anak dengan autis, khususnya pada usia dini adalah penting.  Hal ini sebagai potret kondisi anak untuk menentukan jenis terapi apa saja yang akan diberikan.  Pemeriksaan tersebut sebaiknya dilakukan secara menyeluruh atau full assessment untuk mengetahui sumber gangguan dan masalah yang dihadapi anak.   Hal ini karena berkaitan dengan terapi yang sedang dan akan dilakukan seperti terapi behavioral, medis, nutrisi, dan pharmakologi.

 

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu bekerjasama dengan Pusat Layanan Autis, Suku Dinas Pendidikan, Pemerintah Daerah Provinsi Riau menyelenggarakan assessment anak dengan autisme dalam perspektif neuropsikologi.  Pemeriksaan ini dilakukan pada 10 – 14 Januari 2018 di Pusat Layanan Autis (PLA) Riau, yang beralamat di Jl. Bakti I, Tengkerang Baru, Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru, Riau.   Pengetesan ini dilakukan kepada 40 siswa PLA Riau.

WhatsApp Image 2018-01-15 at 20.13.14 (1)

Pengukuran fungsi psikologi anak dengan autisme di PLA Provinsi Riau (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

Pengetesan dilakukan untuk melihat fungsi neuropsikologi, yaitu fungsi psikologis dan fungsi neurobiology.  Pengukuran fungsi psikologis dilakukan untuk melihat kemampuan anak dalam hal  kecerdasan, self-awareness, theory of mind, pemahaman, fleksibilitas berpikir dan lain-lain.  Pengukuran fungsi psikologis ini dilakukan dengan alat ukur psikologi serta skala perilaku yang diisi oleh orang tua, terapis, dan psikolog.  Fungsi neuobiologi diukur melalui alat elektroensefalografi (EEG) untuk melihat aktivitas gelombang otak betha, tetha, delta, dan alpha terhadap fungsi dan aktvitas berpikir.  Pengukuran dengan EEG ini dapat melihat sejauh mana kecukupan neurotransmiter dalam aktivitas belajar.

WhatsApp Image 2018-01-15 at 20.13.14 (2)

Foto bersama staf PLA Riau dan Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu setelah pengukuran anak autis di PLA Provinsi Riau (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

 

Hasil pengukuran yang dilakukan ini akan memberikan informasi sejauh mana efektivitas terapi yang dilakukan atau evaluasi terhadap terapi.  Terapi bagi anak autis yang dilakukan di PLA Riau antara lain terapi okupasi, terapi wicara, terapi sensori integrasi, dan terapi belajar.  Informasi ini penting bagi terapis dan orang tua untuk melakukan strategi terhadap terapi yang diberikan.  Tidak hanya terapi namun treatment lain yang diberikan kepada anak autis seperti diet makanan, obat-obatan bahkan tidak menutup kemungkinan terapi sel punca atau stem cell.

 

Orang tua siswa PLA Riau antusias terhadap assessment yang dilakukan Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu.  Banyak orang tua dari PLA Riau yang tidak mengetahui bahwa anak autis mengalami masalah atau gangguan di otaknya.  Melalui assessment yang dilakukan Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu dengan menggunakan EEG, dapat mengetahui kondisi otak dari buah hati mereka.  Hal ini dapat memberikan pencerahan kepada orang tua terhadap pola asuh dan pendidikan yang mereka lakukan di rumah (Ags/Klinik Psikonerologi Hang Lekiu)

 

Pelatihan dan Program Magang Kasus Kesulitan Belajar

Publikasi Paket Training

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu mengadakan program training dan magang untuk kasus kesulitan belajar di awal tahun 2018.  Program ini diluncurkan bertujuan untuk memperluas wacana kesulitan belajar dan intervensinya di Indonesia.  Hal ini dilatarbelakangi dengan semakin meningkatnya kasus kesulitan belajar yang terjadi di sekolah formal.  Fenomena ini tidak diiringi dengan jumlah pusat terapi dan sumber daya manusia terapis yang terlatih untuk menangani kasus kesulitan belajar di Indonesia.

Penanganan anak kesulitan belajar berbeda dengan anak berkebutuhan khusus sehingga memerlukan pendekatan yang spesifik karena mereka masih mampu bersekolah di sekolah formal.  Sering kali pendekatan remedial yang dilakukan oleh guru di sekolah mengalami kegagalan karena adanya masalah psikologis yang sifatnya klinis. Sehingga anak dengan kesulitan belajar harus ditangani oleh ahli yaitu psikolog pendidikan atau anak agar permasalahan klinisnya terselesaikan terlebih dahulu baru mereka dapat belajar seperti siswa lainnya.  Jika permasalahan klinis ini selesai, maka siswa dapat kembali ditangani oleh guru dengan program remedial yang dilakukan di sekolah.

Berdasarkan uraian di atas, anak kesulitan belajar bukanlah anak berkebutuhan khusus karena tidak memiliki kecatatan atau disfungsi secara fisik dan mental.  Namun mereka mengalami permasalahan yang serius dalam hal akademis dan masih dapat terperbaiki.  Hal ini terbukti siswa yang mengalami kesulitan belajar mampu berpretasi hingga tingkat universitas ternama jika diintervensi dengan tepat sejak dini.

Hal ini adalah menjadi unik karena anak kesulitan belajar sering kali juga mengalami komorbiditas atau terjadinya dua gangguan atau lebih pada satu individu. Adapun kasus kesulitan belajar yang terjadi pada anak dari tingkatan PAUD hingga Sekolah Dasar adalah:

  1. Slow Learner
  2. ADHD (Attention Deficit / Hyperactivity Disorder)
  3. ADD (Attention Deficit Disorder)
  4. Dyscalculia
  5. Keterlambatan Bicara (Specific Language Impairment & Speech Delay)
  6. Cara Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar
  7. Depresi Pada Anak dan Remaja
  8. Sensori Integrasi dan Sensory Processing Disorder
  9. Dyslexia

 

Guru, psikolog, konselor, terapis, orang tua, dan pemerhati pendidikan memiliki peranan penting dalam mendeteksi serta memberikan intervensi terhadap permasalahan kesulitan belajar yang dialami oleh anak.  Di sisi lain, mahasiswa program psikologi ataupun keguruan sebagai calon ujung tombak pendidikan di masa depan juga perlu memperluas pengalaman kesulitan belajar sebelum terjun di lapangan.  Kepekaan deteksi dini dan bagaimana intervensinya atas kasus kesulitan belajar dari stake holder pendidikan formal tersebut akan sangat membantu anak sehingga pencapaian akademisnya menjadi optimal.  Sehingga program pelatihan dan magang ini menjadi penting bagi lembaga ataupun individu yang berhadapan dengan kasus kesulitan belajar.

Program pelatihan ini dilakukan oleh Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu, yang telah teruji dengan menangani kasus kesulitan belajar hamper 10 tahun dengan lebih dari 1000 kasus individual. Keberhasilan penanganan kasus kesulitan belajar inilah yang akan dibagikan kepada peserta pelatihan. Peserta dapat mengasah keterampilan deteksi dini dan intervensi kesulitan belajar dari berbagai kasus dengan keunikan yang berbeda-beda.

Program pelatihan dan magang ini dirancang dilakukan selama 12 minggu atau 3 bulan.  Adapun materi yang diberikan adalah

  1. Pengenalan & Pendalaman Teori
  2. Video Kasus, Bedah Kasus (Blind Cases)
  3. Pelatihan untuk observasi dan Intervensi
  4. Cara Analisa Test Psikologi

 

Diharapkan dengan waktu yang relatif panjang ini, peserta lebih dapat memahami dan mempraktekkan keterampilan deteksi dini serta intervensi kesulitan belajar selama program ini berlangsung. Pelatihan juga dilakukan secara dalam kelas kecil sehingga lebih diskusi yang dilakukan dengan pemateri dan kepala Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu, Dr. (cndt). Melani Arnaldi, S.Psi., M.Psi., Psi. dapat lebih optimal.  Untuk informasi dan pendaftaran dapat menghubungi sdr. Agus (08561785391).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Test Kesiapan Belajar, Deteksi Dini Gangguan Sensori dan Kesulitan Belajar Pada Tingkatan PAUD dan TK

kesiapan belajar

Apakah anak siap untuk bersekolah atau memang masih harus dipersiapkan pada fase sosialisasi di PAUD dan TK? (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Lanjut ke tingkatan lebih tinggi atau tetap di PAUD atau TK?

Ini adalah pertanyaan umum yang sering ditanyakan oleh orang tua ataupun guru TK dan PAUD bagi siswa yang mengalami masalah dalam fase sosialisasi di tingkatan tersebut.  Dimana siswa mengalami hambatan dalam kegiatan belajar dan mengajar di kelas sehingga dipertanyakan kesiapannya untuk lanjut pada tingkatan di atasnya. Tentu saja perlu kearifan dalam menentukan kelanjutan sekolah siswa dengan disertai informasi dari ahli terkait kondisi terkini dan hambatan yang dialami.

Masa Sosialisasi pada PAUD dan TK

Play

Fase sosialisasi dilakukan pada tingkatan PAUD dan TK dan butuh kesiapan belajar untuk memasuki tingkatan sekolah dasar atau fase bersekolah dari anak (Klinik Anak Kesulitan Belajar)

 

Usia 3—6 tahun adalah masa konkret operasional dan waktunya untuk belajar sosialiasisasi di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan    Taman Kanak  Kanak (TK).  Namun seiring usia mereka seharusnya lanjut ke sekolah dasar untuk melanjutkan fase bersekolah.

Di sisi lain, beberapa siswa dapat mengalami hambatan yaitu gangguan sensori (sensory processing disorder /SPD atau sensory integration disorder) dan kesulitan belajar.  Hal ini terjadi  di mana siswa mengalami masalah dalam penerimaan,   pengolahan,   dan   respon   terhadap sensori yang diterima sehingga mereka mengalami masalah    dalam kegiatan belajar mengajar di PAUD dan TK.

Prevalensi SPD pada anak usia taman kanak-kanak cukup tinggi. Berdasarkan penelitian Ahn, Miller, Milberger, dan McIntosh (2004)  dari data persepsi  orang tua dengan anak usia taman kanak-kanak saat penerimaan siswa baru, anak yang mengalami SPD dapat mencapai 5,3%.

Sensory Processing Disorder (SPD) dan Kesulitan Belajar?

Gangguan sensori (SPD) dapat terjadi pada beberapa atau keseluruhan dari sistem indrawi    termasuk sentuhan/peraba, pendengaran, penglihatan, perasa, penciuman,  motorik tubuh (proprioceptive),  dan keseimbangan. Ganguan sensori ini dapat  berdampak negatif   kepada perkembangan dan kemampuan fungsi dari perilaku, emosi,   motorik, dan   kognitif   atau berpikir.

SPD

Gangguan Sensory Processing Disorder (SPD) atau Sensory Integration Disorder (SID) yang berkaitan dengan masalah lainnya, salah satunya adalah kesulitan belajar (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

Gangguan atau masalah  SPD merupakan hulu dari berbagai gangguan bahkan       kesulitan belajar di usia bersekolah seperti austime, ADHD, Slow learner, Keterlambatan Bicara, Disleksia, Diskalkulia.

Deteksi Dini SPD dan Kesulitan Belajar

Usia anak pada tingkatan PAUD dan TK adalah kunci dalam deteksi dini  terhadap hambatan yang dialami sebelum    mereka masuk usia bersekolah atau sekolah dasar (SD).

Pada usia ini, anak sedang mengalami  pertumbuhan yang pesat atau golden age sehingga jika dideteksi mengalami hambatan lalu segera diintervensi kepada ahli seperti psikolog atau dokter anak, maka perbaikan yang terjadi   menjadi optimum.

Oleh karena itu, guru dan manajemen dari PAUD dan TK sudah selayaknya peka terhadap gangguan atau masalah SPD dan Kesulitan belajar yang berpotensi dialami siswa didik.

Permasalahan kesiapan belajar tidak hanya kemampuan baca, tulis, dan berhitung, tapi bagaimana sensori bekerja optimal sehingga fungsi berpikir (kognitif), emosi, dan    perilaku siswa siap untuk belajar di tingkat lebih tinggi. Solusi dari penanganan masalah ini adalah melalui deteksi dini dan pengetesan kesiapan belajar siswa yang           mencakup kepekaan terhadap SPD.

Ciri Anak dengan Hambatan Sensori (SPD)  Pada Tingkatan PAUD dan TK

  1. Tidak melakukan kontak mata
  2. Over-sensitif terhadap sentuhan, suara, bau, orang lain
  3. Kesulitan dalam berteman
  4. Kesulitan berganti pakaian, makan, tidur, dan / atau pelatihan toilet
  5. Ceroboh; keterampilan motorik yang buruk; lemah
  6. Sering marah atau marahnya berkepanjangan
  7. Sulit mengikuti aturan di kelas atau arahan dari guru
  8. Tidak bisa menenangkan diri
  9. Tidak mengucapkan kalimat dengan benar
  10. Tidak komunikasi dua arah
  11. Kosa kata yang kurang dari 50 kata

Pelayanan Test Kesiapan Belajar Siswa PAUD & TK

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu memberikan layanan Pengetesan Kesiapan Belajar dengan kepekaan SPD.     Informasi hasil tes dapat merujuk orang tua untuk melakukan intervensi kepada ahli dan bagi guru dapat  dijadikan dasar pengelolaan siswa di kelas pada tahun  ajaran yang berlangsung.

Tahapan Test yang dilakukan yaitu:

  1. Test fungsi psikologis (psikotest)
  2. Test neurobrain (EEG)
  3. Konseling hasil test

Test dapat dilakukan secara perseorangan (individual) atau klasikal yang diselenggarakan oleh pihak sekolah TK dan PAUD.

Untuk tingkatan TK dan PAUD di wilayah JABODETABEK Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu memberikan promo biaya test, yaitu biaya test tersebut diserahkan kepada kebijakan pihak sekolah dan ketersediaan budget yang tersedia untuk penerimaan siswa baru atau yang lanjut ke sekolah dasar pada tahun ajaran baru, 2018/2019.

Kontak person

Agus (08561785391 wa/sms)

Muhbikun (082213386726 wa/sms)

Yakub (081908877279 wa/sms)

Intervensi Dalam Membentuk Neuroplastitas di Otak

 

WhatsApp Image 2017-12-04 at 20.29.31

Sesi foto bersama seminar ILDNS, Sabtu, 25 November 2017 (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Neuroplastisitas dianggap sebagai perubahan dalam tingkatan neuron, dan bukan hanya perubahan perilaku.  Di sisi lain neuroplatisitas terjadi karena hasil dari pembelajaran (pengalaman dan pembentukan memori) dan perbaikan yang terjadi dari luka pada otak sehingga mempengaruhi besarnya sistem syaraf pusat (central nervous system / CNS).   Proses neuroplastisitas berkaitan dengan bagaimana sistem syaraf mengubah sistem encoding selama proses neruobiologi berlangsung.

Hal ini dijelaskan oleh Dr. (cndt). Melani Arnaldi, S.Psi., M.Psi., Psi., Kepala Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu dalam seminar Introduction to Learning Disability & Neurospychology Seminars (ILDNS) dengan tema “Mekanisme Neuroplastisitas di Otak”, pada Sabtu, 25 November 2017.  Acara tersebut dihadiri oleh orang tua siswa terapi di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu, guru tingkatan TK, SD, dan SMP dari wilayah Jakarta Selatan.

WhatsApp Image 2017-12-04 at 20.29.32 (1)

Sesi pemaparan teori oleh Dr. (cndt). Melani Arnaldi, S.Psi., M.Psi., Psi. (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Pada acara ini dijelaskan bagaimana proses percabangan syaraf di otak bertumbuh pesat saat masa anak-anak.  Perbaikan atau proses neuroplastitas dapat terjadi karena adanya intervensi.  Sebagaimana digambarkan oleh Melani Arnaldi, dianalogikan bagaimana otak pemikir besar seperti Einstein memiliki ukuran otak yang melebihi orang normal.

Namun perlu diperhatikan juga bagi orang tua dan guru, bahwa pengelolaan emosi yang buruk dapat berdampak kepada neuroplastistas yang maladaptif.  Stress yang berkepanjangan sehingga menyebabkan depresi akan merubah struktur kimia dan biologi dari otak.  Hal ini terjadi bagaimana otak mengalami atropi atau penyusutan baik akibat fenomena depresi ini.  Hal ini berakibat pada perilaku yang memburuk pada individu yang depresi.

Terkait dengan intervensi, beberapa hal yang dapat meningkatkan neuroplastisitas di otak adalah dengan 1) Rangsangan motorik melalui brain gym, 2) metode pembelajaran, 3) intervensi metakognitif, dan 4) Pembelajaran social dengan lima aktivitas mayor.

WhatsApp Image 2017-12-04 at 20.29.31 (1)

Sesi pemutaran video tentang kesulitan belajar, otak, sistem syaraf, dan neuroplastisitas (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Dalam acara ini juga diulas sekilas tentang kesulitan belajar, penggolongan, serta intervensi yang dapat dilakukan oleh Agus Syarifudin, S.Si., Research Assistant Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu.  Digambarkan juga melalui sesi pemutaran video tentang otak, sistem syaraf, serta neuroplastisitas.  (Agus/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)