Seminar Neuropsikologi dan Kesulitan Belajar

poster-seminar-disleksia-dan-diskalkulia

 

TERAPI SENSORI INTEGRASI METAKOGNITIF

Melani Arnaldi

Sensori integrasi adalah suatu proses neurologi yang berfungsi mengorganisasikan informasi dari tubuh dan dunia luar dalam dunia sehari-hari.

Proses ini bekerja sebagai system di saraf pusat yang berisi jutaan neuron di sumsum tulang belakang dan otak.  Dalam kenyataannya, gangguan kemampuan sensori integrasi yang dialami anak sejak lahir akan mengganggu proses pengorganisasian, pikiran, dan perilaku.  Kondisi ini dapat dilihat, bagaimana regulasi diri anak dalam mengontrol aktivitas perilakunya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

Banyak sekali permasalahan anak kebutuuhan khusus yang membutuhkan terapi sensori integrasi di tujuh tahun awal kehidupannya, seperti ADHD, Autisme, Cerebal Palsy, PDD-NOS.

Gejala yang dapat terlihat, yaitu:

  1. Terlalu sensitif atau kurang sensitive terhadap sentuhan, gerakan, penglihatan, atau suara di lingkungan
  2. Tingkatan aktivitas yang tidak biasa seperti anak lainnya, dapat sangat aktif atau kurang aktif
  3. Mudah terganggu; miskin perhatian terhadap tugas
  4. Keterlambatan dalam bicara, keterampilan motoric, atau pretasi akademis
  5. Masalah koordinasi seperti kikuk atau canggung
  6. Miskin kesadaran tubuh
  7. Kesulitan belajar tugas baru atau mencari tahu bagaimana untuk bermain dengan mainan baru
  8. Tampak tidak teratur di hamper setiap waktu
  9. Kesulitan dengan transisi antara kegiatan atau lingkungan baru
  10. Keterampilan sosial yang belum matang
  11. Impulsif atau kurangnya pengendalian diri
  12. Kesulitan menenangkan diri setelah terganggu secara emosional
  13. Masalah self regulation

 

Masalah sistem sensitivitas tactil 

Sistem tactil bermain di dalam kemampuan fisik, mental, dan emosional di dalam membentuk perilaku.  Setiap orang memiliki sensitivitas tactile ketika semua fungsi penginderaannya dapat menghantarkan informasi di dalam fungsi persepsi visual, planning motoric, body awareness, maupun terhadap kemampuan social skill.  Kondisi ini sangat mempengaruhi rasa aman secara emosional dan kemampuan belajar secara akademik.  Terdapat dua kemampuan dasar sensitivitas tactile yang harus dimiliki, pertama kemampuan sensitivitas untuk mempertahankan diri, kemampuan sensitivitas untuk membedakan rangsang, dan kemampuan  untuk mengontrol sensitivitas dari susunan saraf pusat.

Kondisi ini biasanya dialami oleh anak-anak yang mengalami hipersensitivitas atau hiposensitivitas.  Bahkan kesulitan membedakan rangsang penginderaan

Masalah sensitivitas vestibular

Sistem vestibular adalah kemampuan memperoleh keseimbangan antara gerak dan koordinasi pikiran. Salah satu cara yang digunakan adalah menghubungkan pesan sensoris ke bagian syaraf pusat melalui pengalaman yang dibuat sampai terbentuknya kerangka kerja dari syaraf pusat secara efektif.

Pada umumnya anak yang mengalami gangguan sensitivitas vestibular, akan mengalami masalah pada saat bermain.  Umumnya anak akan sering terjatuh, menabrak barang-barang, sampai denngan kesulitan untuk duduk diam saat membaca.  Emosinya sering terlihat naik turun, dengan attention yang tidak terpelihara dalam waktu yang diharapkan.  Melalui terapi sensori integrasi yang dikombinasikan dengan metode metakognitif, anak akan diajarkan bagaimana dapat mengendalikan pikirannya untuk mengontrol gerak tubuhnya agar terjadi keseimbangan antara sensasi yang masuk, gerak, gravitasi, keseimbangan, dan ruang.

Masalah Sistem Propioseptik

Sistem propioseptik adalah kemampuan diri untuk mengontol posisi gerak tubuh.  Kondisi ini berkaitan dengan proses integrasi antara sensasi gerak dan sentuhan.  Proses penerimaan sensasi propioseptik berkaitan dengan otot, ligament, tendon, dan lapisan penguhung antar motorik gerak.  Kemampuan ini berkaitan dengan posisi anak untuk menerima pesan tanpa dia sadari pada akhirnya, sehingga terjadi automatisasi gerak yang fleksibel, tidak terkesan kaku dan memiliki kemampuan control motoric yang       terencana.

Masalah Asosiatif

Masalah asosiatif berkaitan dengan bagaimana seseorang memproses semua panca inderanya dengan baik.  Masalah ini berkaitan dengan masalah memproses informasi bahasa pada indera pendengaran, proses mengartikulasikan kata-kata saat berbicara, kemampuan terahadap proses persepsi penglihatan dan gerak mata, masalah koordinasi terhadap kemampuan fungsi pengecapan saat makan, masalah kontrol fungsi toilet training dan masalah tidur.  Masalah ini pada umumnya dialami anak apabila setelah berusia 4 tahun belum bisa melakukannya dengan baik.  Masalah ini dikatakan penting, karena kemampuan asosiatif adalah kemampuan pertama anak untuk dapat belajar, termasuk belajar membaca, menulis, dan merasakan masalah-masalah social secara emosional.

Proses Tahapan Terapi Sensori Integrasi Metakognisi

sensory-sistem

Seperti yang kita ketahui bahwa mekanise kerja otak dapat terjadi dari berbagai macam bentuk proses.     Diantaranya proses lateralisasi yang dapat menutupi ketidakmampuan prosses bahasa disebagian belah otak.  Pada proses kemampuan sensori integrasi       memang memiliki proses yang runtut berbeda dengan fungsi kongitif bahasa.

Masalah keruntutan ini yang menyebabkan proses terapi harus dilakukan dengan sejumlah tahap secara berurutan.  Dimana dari gambar diatas dapat terlihat bahwasanya tahap paling mendasar harus terpenuhi keterampilannya sebelum naik ke tahap di atasnya.

Proses neurologi berfungsi untuk mengorganisasikan sensasi dari tubuh dan lingkungan, serta membuat tubuh lebih efektif di dalam merespon informasi dari lingkungan. Proses ini harus menjadi program yang secara otomatis berfungsi di saat input sensori masuk.  Proses automatisasi ini dapat diperoleh dari proses pelatihan secara motorik  dan melalui proses belajar, melalui metode metakognisi.

Proses terapi akan melalui tahap, dimana anak akan dilatih secara motorik untuk merangsang system penginderaan, menerima sensitivitas dari lingkungan, baru kemudian masuk ke tahap sensori motorik dan perceptual motorik untuk melakukan sejumlah perintah yang diharapkan.

Setelah proses pelatihan dianggap telah mampu mencapai tahapan yang optimal, barulah seorang anak  memasuki tahap proses berpikir.  Proses berpikir ini termasuk kemampuan untuk membuat strategi, pengambilan keputusan, membuat planning, membuat cerita, hingga munculnya insight di dalam bentuk self-talk.  Proses berpikir yang telah di dasar dengan kemampuan sensori motorik yang optimal akan mewujudkan suatu koordinasi regulasi diri yang baik.  Kondisi ini yang diharapkan dapat terwujud melalui terapi yang dilakukan secara rutin dan disiplin.  Proses yang    dilakukan akan menghasilkan proses neuroplastisitas di otak sehingga hasilnya prosesnya dapat merubah sturktur otak secara keselurahan.

Pentingkah fisioterapi ?

Fisoterapi dengan elektro akupuntur mampu meningkatkan fungsi fisiologi syaraf pusat dan tepi sehingga mampu meningkatkan kecerdasan.  Fisioterapi yang dilakukan adalah dengan menggunakan akupuntur listrik atau elektro akupuntur.  Teknik ini setara dengan 1000 jarum akupuntur namun tidak  menimbulkan rasa sakit serta aman bagi anak.

Fisioterapi Akupuntur Listrik setara akupuntur 1000 jarum

Melalui bantuan teknik akupuntur listrik ini, tumbuh kembang fisiologi tubuh anak dioptimalkan sehingga mampu meningkatkan kecerdasan. Berdasarkan penelitian, alat ini dapat secara efektif meredakan gejala autisme anak dan meningkatkan kecerdasan, kemampuan bahasa, dan    kemampuan sosial adaptif.

Referensi

Alberta Human Services. (2015). Sensory integration and sensory integration dysfunction. http://www.humanservices.alberta.ca/documents/PDD/pdd-central-sensory-integration-dysfunction.pdf. Diakses 9 November 2016.

Brown, J. (2009). An introduction to identification and intervention for children with sensory processing difficulties.https://childhealthanddevelopment.files.wordpress.com/2011/04/si-presentation_for_mh_practioners.pdf. Diakses 28 Januari 2016

Tian YP1Qi RLi XLWang YLZhang YJi THou CYWang LJ. Acupuncture for promoting intelligence of children–an observation on 37 cases with mental retardation. Journal  of Traditional  Chinese Medicene. 2010 Sep;30(3):176-9

PROMO AWAL TAHUN 2017! PEMERIKSAAN EEG UNTUK KECERDASAN, MINAT, DAN BAKAT ANAK

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu mengadakan promo awal tahun untuk pemeriksaan EEG.  Pemeriksaan EEG ditujukan untuk pemeriksaan kecerdasan, minat, dan bakat anak.  Dari hasil pemeriksaan EEG ini akan memperlihatkan potensi kecerdasan anak, minat, dan bakat mereka serta regulasi diri ataupun emosi anak.

Harga promo! Rp. 650.000,-

(harga termasuk pemeriksaan eeg dan konseling hasil eeg).

Untuk info dan jadwal pengetesan

Cp. Agus (08561785391)

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

SENSORY PROCESSING DISORDER: APA DAN BAGAIMANA?

 

Definisi

Sensory processing, (kadang-kadang disebut sebagai “sensori integrasi” atau SI) adalah istilah yang menggambarkan cara sistem saraf menerima pesan dari indera, dan mengubahnya menjadi motor yang sesuai dan respon perilaku, “Sensory Processing Disorder“, (SPD) adalah suatu kondisi yang terjadi ketika sinyal sensorik tidak dapat disusun menjadi respon tanggapan yang tepat.  Hal tersebut berupa proses neurologis yang mengatur sensasi dari tubuh sendiri dan atau dari lingkungan serta memungkinkannya untuk menggunakan tubuh secara efektif dalam lingkungan.

Penyebab SPD antara lain adalah faktor keturunan, kondisi selama kehamilan atau trauma saat melahirkan, dan faktor lingkungan, yaitu rendahnya stimulasi sensori, kompleksitas lingkungan, serta interaksi manusia di lingkungan tersebut.

Diagnosa

SPD dapat terjadi pada saat perkembangan anak dan memiliki co-morbiditas tinggi dengan autisme dan gangguan perkembangan lainnya seperti: berat lahir prematur, cedera otak, gangguan belajar, dan kondisi lain.  SPD dapat terjadi karena disfungsi dalam memproses informasi dari lingkungan melalui indera kita.

diagram-spd

Deteksi Dini SPD

Berikut adalah gejala-gejala atau simptom yang patut dicurigai mengalami SPD dan perlu untuk diperiksakan lebih lanjut ke ahli.

Masa Bayi dan balita

  1. Masalah pada makan atau tidur
  2. Menolak untuk pergi kepada siapa pun kecuali diri saya
  3. Irritable ketika sedang berpakaian; tidak nyaman dalam pakaian
  4. Jarang bermain dengan mainan
  5. Melawan berpelukan, lengkungan kaki saat dipegang
  6. Tidak bisa menenangkan diri
  7. Floppy atau badan kaku, keterlambatan motorik

Masa Anak Usia Dini (PAUD dan TK)

  1. Over-sensitif terhadap sentuhan, suara, bau, orang lain
  2. Kesulitan dalam berteman
  3. Kesulitan berganti pakaian, makan, tidur, dan / atau pelatihan toilet
  4. Ceroboh; keterampilan motorik yang buruk; lemah
  5. Dalam gerakan konstan; di wajah dan ruang orang lain
  6. Sering marah atau marahnya berkepanjangan

Masa Sekolah Dasar

  1. Over-sensitif terhadap sentuhan, suara, bau, orang lain
  2. Mudah terganggu, gelisah, haus gerakan; agresif
  3. Mudah kewalahan
  4. Kesulitan dengan kegiatan tulisan tangan atau motorik
  5. Kesulitan berteman
  6. Tidak menyadari rasa sakit dirinya dan / atau orang lain

Masa Remaja dan Dewasa

  1. Over-sensitif terhadap sentuhan, suara, bau, dan orang lain
  2. Miskin harga diri; takut gagal di tugas baru
  3. Lesu dan lambat
  4. Selalu di perjalanan; impulsif; teralihkan
  5. Meninggalkan tugas yang belum selesai
  6. Kikuk, lambat, miskin keterampilan motorik atau tulisan tangan
  7. Kesulitan tetap fokus
  8. Kesulitan tetap fokus di tempat kerja dan dalam pertemuan

Komoriditas

SPD dapat tumpang tindih atau komorbid pada anak, tapi itu adalah umum untuk melihat gejala komorbid tersebut antara lain dengan  Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), Autisme, Fragile X, Fetal Alcohol Syndrome sindrom, Obsesif Kompulsif Disorder (OCD), dan Tourette sindrom.

Para peneliti menemukan tumpang tindih dalam gejala ADHD dan SPD di 60% dari anak-anak yang telah didiagnosis dengan baik gangguan antara SPD atau ADHD.  Di sisi lain, anak dengan autisme sering menunjukkan kesulitan dengan interaksi sosial, verbal, dan komunikasi nonverbal, dan perilaku repetitif.

Fragile X adalah kondisi genetik yang melibatkan kromosom X  dan merupakan kecacatan intelektual yang diturunkan.  Fragile X adalah penyebab paling umum dari autisme atau autis gangguan spektrum.

FAS (Fetal alchol syndrom) adalah sindrom cacat lahir permanen yang disebabkan oleh konsumsi ibu alkohol selama kehamilan.

Obsesif Kompulsif Disorder (OCD) didiagnosis ketika obsesi, pikiran mengganggu, atau gambar dampak harian berfungsi (NIMH, 2013). Pikiran dan gambar yang berasal dari obsesi ini adalah: “tidak diinginkan, tidak pantas, dan mengganggu, tidak terkait dengan acara yang sebenarnya kekhawatiran, berasal dari pikiran mereka sendiri dan tidak saran seseorang, tidak respon realistis untuk acara yang sebenarnya, dan dilakukan untuk menghindari rasa takut.

Sindrom Tourette ditandai oleh beberapa bermotor dan vokal gerenyet urat syaraf (tics) dimana ditampilkan oleh seorang anak. Beberapa anak, yang didiagnosis dengan sindrom Tourette, akan melakukan tics ketika mereka mengalami rangsangan indra, baik jika mereka mencari atau menghindari itu.

Intervensi

sensory sistem.png

Tujuan dari intervensi adalah menormalisasi pengolahan sensorik dan integrasi untuk menghasilkan tanggapan adaptif.  Intervensi dilakukan dengan meningkatkan pengolahan sensorik untuk dampak gerakan, belajar, dan sosio-emosional serta kesejahteraan.  Gambar di atas menjelaskan bagaimana proses intervensi yang dijalankan dari mengoptimalkan sistem sensori secara bertahap hingga mampu menumbuhkan kecerdasan hingga anak mampu belajar dan mencapai prestasi akademis.

Intervensi SI atau SPD yang sukses tidak dikontrol ketat oleh terapis. Sesi ini bergantung pada keinginan anak dan motivasi intrinsik untuk berinteraksi dengan lingkungan dengan mendorong anak untuk memilih kegiatan yang akan dilakukan.  Oleh karena itu, penting dalam intervensi SPD atau SI untuk menciptakan suasana yang menyenangkan bagi anak sehingga muncul motivasi intrinsiknya.

 

Daftar Pustaka

Brown, J. (2009). An introduction to identification and intervention for children with sensory processing difficulties.https://childhealthanddevelopment.files.wordpress.com/2011/04/si-presentation_for_mh_practioners.pdf. Diakses 28 januari 2016.

Lonkar, H. (2014). An overview of sensory processing disorder: use of sensory integration theory. Honors Theses. Paper 2444: Western Michigan University

 

MEMORI DAN KERJA OTAK

Sering kali kita teringat peristiwa masa lalu saat duduk santai.  Kenangan atau informasi tersebut dapat dengan mudah kita ingat kembali, namun ada juga yang mudah kita lupakan sehingga sulit untuk dipanggil kembali.  Begitu pula dengan anak saat melakukan ujian.  Ada yang mudah mengingat dan ada juga yang sulit meski sudah di latih berulang-ulang.  Bagaimana ini terjadi?  Inilah kerja dari memori yang berproses di otak.

Memori harus dianggap sebagai kumpulan kemampuan yang didukung oleh seperangkat otak dan sistem kognitif yang beroperasi secara kooperatif.  Setiap sistem dari bagian otak membuat kontribusi fungsional yang berbeda.

Memori adalah kelompok mekanisme atau proses yang pengalaman membentuk kita, mengubah otak kita dan perilaku kita. Ada pepatah dimana “Hidup adalah memori kecuali untuk saat ini yang berlalu begitu cepat sehingga kita tidak dapat menangkapnya ketika berlalu.”

Oleh karena itu memori bertujuan untuk memegang rincian kehidupan sehari-hari, seperti mengingat untuk mengambil kunci yang kita miliki, baju atau mantel, atau makan siang, mengingat di mana kami parkir mobil, mengingat dijadwalkan janji, juga untuk menyimpan informasi dalam pikiran untuk hanya dalam waktu singkat.

Kerja Memori

Secara umum informasi dalam memori dilakukan proses encoding, consolidation dan storage, serta retrieval.  Untuk memahami memori, dengan tahapan proses yang berbeda yang terlibat dalam memori  yaitu kenangan harus diciptakan, kenangan harus disimpan / dipertahankan lebih lama, kenangan dapat dipanggil kembali.

Defisit dalam memori terlihat di beberapa penundaan yang panjang setelah belajar dan dapat mencerminkan penurunan dalam tahap memori ini. Penurunan encoding awal kenangan bisa mencegah informasi  untuk diproses pada tahapan awal.  Penurunan dalam storage (penyimpanan), maintainance (pemeliharaan), atau consolidation (konsolidasi) kenangan dapat menyebabkan informasi meluruh secara abnormal dan cepat seiring waktu.

memory

Diagram Memori dan Kerja Otak. Diolah dari Banich & Compton (2011)

Bagian Otak Terkait Kerja Memori

Kerja memori tidak spesifik hanya di satu bagian otak saja.  Seperti tampak pada gambar di atas, beberapa bagian otak bekerja sama dalam pemerosesan informasi ataupun memori.  Terkait pemerosesan memori, bagian otak tersebut adalah Parietal kotek bagian kiri, Basal ganglia, amigdala, anterior temporal, prefrontal cortex, dan hippocampus.  Bagian-bagian tersebut saling bekerja sama dan dalam waktu yang bersamaan saat mengolah informasi.  Kerja mereka tidak terpisahkan dan saling melengkapi.

Kerja otak terkait memori dapat dipelajari ketika otak mengalami kerusakan atau lesi.  Salah satu bagian otak terkait fungsi utama memori adalah hippocampus.  Kerusakan unilateral pada sistem hippocampus dapat menghasilkan gangguan memori pada materi khusus. Kerusakan kiri belahan, memori selektif terganggu untuk materi verbal, sedangkan setelah kerusakan belahan kanan, memori terganggu untuk materi nonverbal.

Kerja Memori, Otak, dan Terapi Kesulitan Belajar

Dari uraian di atas jelas bahwa kerja memori tidak terjadi dengan sendirinya.  Perlu adanya pelatihan sehingga proses pengolahan informasi dalam memori di otak menjadi lebih baik.  Terlebih kepada individu yang mengalami hambatan dalam pemerosesan informasi seperti pada anak kesulitan belajar.

Pemahaman kerja otak terkait memori penting dalam proses pembelajaran, pelatihan, dan juga terapi yang dilakukan pada anak kesulitan belajar.  Berdasarkan informasi tersebut psikolog, atau terapis akan melihat fungsi apa yang terganggu dalam memori dan dihubungkan dengan fungsi kerja pada bagian otak terkait.

Pemahaman neuropsikologi ini akan melihat sisi fungsi psikologis dan fungsi faal organ otak terkait dengan perilaku yang ditampilkan sehingga dapat memecahan permasalahan yang terjadi.  Dari data tersebut akan dirancang proses pembelajaran, pelatihan, ataupun proses terapi sehingga masalah yang dialami individu menjadi terselesaikan (ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

Daftar Pustaka

Banich, M.T. & R.J. Compton.(2011). Cognitive neuroscience. 3rd eds. Wadsworth: cengage learning

 

Sosialisasi ADHD di SD Harapan Ibu, Pondok Pinang, Jakarta Selatan

Kasus ADHD (Attention Deficit/Hyperactivity Disorder) merupakan kasus tersulit dalam kelompok kesulitan belajar.  Sedangkan kasus kesulitan belajar di Indonesia, khususnya di sekolah formal diprediksi angkanya dapat mencapai 5% dari populasi siswa bersekolah formal.  Fenomena ini bagai buah simalakama bagi penyelenggara sekolah formal terlebih dengan dorongan untuk menjadikan mereka sekolah inklusi.

Sekolah formal baik pengelola dan tenaga pendidik, tidak dipersiapkan bahkan terlatih untuk menangani anak kebutuhan khusus ataupun anak kesulitan belajar.  Bahkan tak jarang mereka kecolongan dalam seleksi penerimaan siswa baru.  Karena banyak anak dengan kesulitan belajar, khususnya ADHD memiliki intelegensi yang cukup bahkan tinggi. Selain itu, pengelola dan tenaga pendidik sangat awam terhadap wacana kesulitan belajar, khususnya anak dengan ADHD.  Sehingga hal ini bertambah menjadi komplek saat kegiatan belajar dan mengajar berlangsung.

img-20160929-wa0009

Acara sosialisasi ADHD oleh Agus Syarifudin, S.Si., dari Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu kepada guru di SD Harapan Ibu, Pondok Pinang, Kamis, 29 September 2016 (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Menyikapi permasalahan di lapangan, Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu mengadakan  kegiatan pengabdian masyarakat berupa Screening Anak Dengan ADHD di Sekolah Dasar Umum di Jakarta Selatan.  Kegiatan ini diawali dengan sosialisasi kepada tenaga pendidik dan kependidikan dan kemudian ditindaklanjuti dengan screening atau pengetesan anak yang diduga  ADHD di sekolah terkait.  Hasil dari screening ini dapat mengetahui populasi dan tingkat keparahan yang terjadi dari anak kesulitan belajar ADHD; memberikan informasi kepada orang tua dan pihak sekolah terkait hasil screening;  dan dapat ditindaklanjuti dengan konseling ataupun terapi di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu.

Kegiatan pengabdian masyarakat tersebut salah satunya dilakukan di SD Harapan Ibu, Pondok Pinang, Jakarta Selatan.  Kegiatan tersebut diawali dengan sosialisasi ADHD kepada tenaga pendidik dan tenaga kependidikan di SD Harapan Ibu pada Kamis, 29 September 2016.  Acara sosialisasi ini disampaikan oleh Agus Syarifudin, S.Si. sebagai asisten riset dan terapis dari Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu. Pada acara tersebut terungkap bahwa secara umum, guru mata pelajaran dan guru kelas sudah mengetahui jika siswa mereka terindikasi ADHD. Hanya saja informasi bagaimana penanganan dan memperlakukan siswa dengan ADHD secara tepat saat pembelajaran belum mereka dapatkan.

Disampaikan oleh Agus Syarifudin, S.Si., ADHD atau Attention Deficit/Hyperactivity Disorder merupakan salah satu gangguan kesulitan belajar yang perlu perhatian khusus.  Anak dengan ADHD memiliki kesulitan dalam memusatkan perhatian, impulsivitas, serta mengalami gangguan hiperaktivitas. Pencapaian akademis mereka dapat jatuh dan dibawah KKM yang ditetapkan oleh guru dan sekolah karena gangguan tersebut meskipun mereka memiliki intelegensi yang tinggi.

Terkait penanganan di sekolah saat jam belajar, Agus Syarifudin, S.Si. memberikan  tips kepada guru atau tenaga pendidik dalam menangani anak ADHD.  Diantaranya dengan menyelenggarakan kelas sosialisasi dengan memisahkan anak ADHD saat tantrum atau bermasalah di kelas.  Kemudian saat anak dengan ADHD berulah, lebih baik dinasehati setelah dia dalam keadaan tenang dengan teknik menyindir. Selain itu bagi guru untuk terus menasehati berulang-ulang karena memang anak dengan ADHD memiliki kelemahan dalam recall comprehension mereka.

Di sisi lain Agus Syarifudin, S.Si., juga memberikan wacana bahwa guru dan manajemen sekolah memegang peranan penting dalam deteksi dini anak dengan ADHD yang bekerja sama dengan psikolog atau pun pelayanan psikologi. Hal ini penting untuk dapat memberikan diagnosa yang tepat serta intervensi yang efektif. Intervensi yang tepat akan memberikan solusi terhadap permasalahan kesulitan yang dialami oleh siswa. Jika sinergi ini dilakukan oleh sekolah dengan psikolog atau lembaga pelayanan psikologi, maka anak dengan ADHD yang diintervensi mampu survive dan berprestasi di sekolah formal (Ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

 

 

 

MENGAJARKAN ANAK TERAMPIL MENGHADAPI KONFLIK SEBAGAI PENCEGAHAN PENGARUH NARKOBA

Penyalahgunaan narkoba sudah menjadi momok bagi keluarga.  Menjadi tantangan yang berat bagi orang tua untuk melindungi anak dan komponen keluarga dari pengaruh narkoba.  Terlebih orang tua di perkotaan seperti JABODETABEK adalah pekerja penuh.  Sudah menjadi pertanyaan umum dari orang tua, hal apa yang perlu ditekankan dan diajarkan kepada anak agar mereka menjauhi narkoba.  Trik dan tips jitu apa bagi orang tua mampu menjauhkan anaknya dari narkoba.

img-20160918-wa0001

Melani Arnaldi, M.Psi., Psi. menjadi pembicara pada workshop P4GN yang diadakan BNN, 14 September 2016 di Hotel Salak Heritage, Bogor, Jawa Barat.

Inilah materi yang disampaikan Melani Arnaldi, M.Psi., Psi. pada acara workshop Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) untuk ibu Darmawanita Pusat yang diselenggarakan oleh BNN (Badan Narkotika Nasional), Rabu, 14 September 2016, di Hotel Salak The Heritage, Bogor.  Kegiatan tersebut mengangkat tema besar Pemanfaatan Media Konvensional Melalui Workshop Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN).

Pada acara tersebut Melani Arnaldi, M.Psi., Psi. membawakan materi bertema “Parenting skill: Upaya Membesarkan Anak Secara Sehat dan Aman dari Penyalahgunaan Narkoba.”  Kegiatan ini ditujukan untuk memberikan pembekalan kepada peserta Dharma Wanita Persatuan Pusat agar dapat berperan aktif dalam upaya pencegahan narkoba baik di lingkungan terdekat (keluarga), masyarakat maupun secara organisatorial.

Menurut Melani Arnaldi, M.Psi., Psi. penyalahgunaan narkoba dapat terjadi pada individu karena mereka tidak mampu mengelola konflik dengan baik.  Sejauh mana individu anak terkait dengan narkoba adalah bagaimana kendali emosi dirinya mampu menyelesaikan konflik yang dihadapi.  Pecandu narkoba sering kali relaps.  Relapse adalah masa pengguna kembali memakai narkoba. Itu berupa respons kegagalan beradaptasi (maladaptive) terhadap stressor atau stimuli internal dan eksternal.  Hal ini terjadi karena mereka tidak mampu menghadapi dan menyelesaikan konflik yang dialami.

Di sisi lain, kepribadian terbentuk sebagai hasil pembelajaran di lingkungan. Dalam hal ini lingkungan yang terdekat dan menjadi fondasi ke masyarakat adalah keluarga. Kepribadian diibaratkan berbentuk Gunung Es, dipengaruhi faktor genetik, temperament, tekanan terhadap pressure, dan kepribadian itu sendiri.  Proses pembelajaran di lingkungan tersebut dapat melalui proses pembiasaan, mencontoh, dan mentauladani.  Oleh karena itu orang tua harus pintar-pintar melakukan pembelajaran tersebut agar hasilnya optimal dalam mencegah pengaruh narkoba.

Peran penting keterampilan anak yang perlu ditanamkan oleh orang tua dalam menjauhi narkoba adalah pertama, sejauh mana anak mampu melihat masalah.  Yaitu berupa mekanisme pencerahan dimana anak: 1) Dapat dengan cepat melihat permasalahan dengan sudut pandang berbeda atau yang baru, 2) Menghubungkan permasalahan dengan masalah lain yang relevant (solution pair), 3) Melepaskan pengalaman masa lalu yang menghalangi solusi, 4) Atau melihat permasalahan secara luas, serta kontek yang koheren. Kedua, sejauh mana kemampuan anak terhadap problem solving, yaitu kemampuan anak dalam mencapai “tujuan” dari kondisi saat ini dimana tidak bergerak kepada tujuan; jauh dari tujuan;  atau membutuhkan logika komplek dalam menemukan penggambaran kondisi yang hilang, ataupun tahapan menuju tujuan.  Secara umum dalam psikologi, problem solving adalah bagian dari proses besar yang didalamnya terdapat problem finding dan problem shaping

Oleh karena itu cara mengkombinasikan antara model pengasuhan dan pola asuh pada anak adalah seperti  bermain layang layang. Ada saatnya orang tua harus menarik, mengulur dan menjaganya agar  layang layang tidak sampai putus.  Orang tua harus pintar menarik dan mengulur proses pembiasaan, mencontoh, dan mentauladani dalam pengasuhan. Bagaimana orang tua berperan penting dalam membentuk karakter atau kepribadian anak melalui teknik bermain layang-layang ini (Ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).