Hubungan Gelombang Otak Pada Anak ADD Dengan Aktivitas Belajar

Melani Arnaldi

Seperti yang kita ketahui, terdapat sejumlah gelombang yang dibutuhkan setiap orang untuk belajar. Terdapat empat tingkatan gelombang pada setiap orang yang dapat difungsikan tergantung dengan aktivitas otak yang terjadi, yaitu theta, delta, betha, dan gamma. Pada umumnya seorang anak yang berada dalam kondisi belajar, dia akan memiliki gelombang Tetha yang lebih aktif dibandingkan gelombang Alpha. Kondisi ini menjadi pertanyaan bagi sejumlah orang, bagaimana tahapan gelombang dapat dinaikan sesuai dengan aktivitas yang dibutuhkan. Sejumlah intervensi dapat digunakan untuk  menaikan gelombang otak. Diantaranya adalah dengan melakukan intervensi metakognitif yang dilakukan secara intensif.

Pada anak ADD (Attention Deficit Disorder), masalah  terjadi jika anak terlihat kurang fokus pada aktivitas belajar di sekolah. Dalam hal ini bukan berarti anak ADD tidak dapat berkosentrasi, tetapi lebih kepada peminatan yang terlalu tinggi hanya  pada bidang yang diminatinya. Kondisi ini menyebabkan anak terbiasa dalam aktivitas gelombang Tetha.

Gelombang Tetha menyebabkan anak selalu dalam kondisi berimajinasi dan mengembangkan kreativitasnya sendiri dalam situasi emosional yang berpusat pada dirinya sendiri. Anak ADD akan terlihat kurang dapat mengikuti aktivitas anak pada umumnya sehingga beberapa tugas penting yang dilakukan menjadi terabaikan.

 

Tugas penting merupakan tugas yang dituntut untuk diselesaikan sesuai dengan harapan dari lingkungan. Seorang anak yang memiliki kepedulian pada lingkungan pada umumnya akan berusaha melakukan semua hal sesuai dengan harapan di lingkungannya. Kondisi seperti ini akan menyebabkan anak berada dalam aktivitas gelombang Tetha.

Oleh karena itu, intervensi yang diberikan dengan metode metakognitif akan mendorong anak ADD dari gelombang Tetha menuju gelombang Betha.  Anak yang memiliki aktivitas gelombang Betha akan menunjukan perilaku belajar yang sangat baik, dia dapat melakukan sejumlah aktivitas mental seperti: analisa, logika dan kosentrasi.

Daftar Pustaka

Arnaldi, Melani. (Februari, 2016). Kupas tuntas masalah anak attention deficit disorder (ADD). Makalah dipresentasikan pada workshop “Kupas Tuntas Masalah Anak Attention Deficit Disorder (ADD)”, Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu, Jakarta.

Mengenal Anak ADD (Attention Deficit Disorder) Yang Mudah Bosan dan Keras Kepala

IMG_5575.JPG

Melani Arnaldi, M.Psi., Psi., bersama peserta Wokrshop Kupas Tuntas Anak Attention Deficit Disorder (ADD), Sabtu, 20 Februari 2016 (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu mengadakan workshops “Kupas Tuntas Masalah Anak Attention Deficit Disorder (ADD)” untuk angkatan ke I, Sabtu, 20 Februari 2016.  Workshop ini dihadiri oleh orang tua siswa peserta terapi di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu dan guru dari SD Mexico/Gunung 05 Pagi, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Kegiatan pelatihan ini merupakan acara berkesinambungan tentang pelatihan intervensi kesulitan belajar yang setiap bulannya diadakan oleh Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu.  Tema yang diangkat berbeda-beda tiap bulannya serta terkait dengan kasus kesulitan belajar, yaitu ADHD, ADD, Keterlambatan Bicara, Slow Learner, Gangguan Emosional, Gangguan Perilaku, Ekspresi Bahasa, dan lain-lain.

Pelatihan satu hari tentang “Attention Deficit Disorder (ADD)” ini terdiri atas tahapan studi kasus, pengenalan teori, video kasus, pengenalan screening, dan pengenalan intervensi ADD dengan pembicara tunggal Melani Arnaldi, M.Psi., Psi sebagai Kepala Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu.

 

IMG_5568.JPG

Sesi Penenganalan Teori yang disampaikan oleh Melani Arnaldi, M.Psi., Psi. (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Dijelaskan dalam sesi pengenalan teori bahwa anak dengan ADD memiliki aktivitas otak kanan yang sangat aktif dan mudah bosan.  Oleh karena itu perlu diterapkan proses pembelajaran yang mampu meningkatkan minat belajar siswa.   Minat belajar anak dapat ditingkatkan jika dalam proses pembelajaran memiliki unsur kemudahan dalam penyampaian materi, keterlibatan antara guru/orang tua dengan anak, kejelasan dalam informasi yang disampaikan, dan kekhususan yang mampu mengakomodir kecerdasan majemuk anak.

Dalam sesi bedah kasus dan penayangan vidoe terlihat bahwa perilaku dari anak ADD adalah cenderung tempramen dengan keras kepala.  Anak ADD lebih sulit diarahkan dibandingkan dengan anak slow learner.  Jika assessment tidak peka dan akurat, sering kali anak ADD dimasukkan ke kelompok anak dengan slow learner. Memang secara umum anak ADD sulit untuk diarahkan, tidak tekun, sulit untuk berkonsentrasi, minat berubah-ubah, dan sangat kreatif.

Peserta merespon positif dan antusias dalam pelatihan ini. Orang tua dengan ADD menjadi lebih paham bagaimana menangani anak mereka.  Guru di sekolah formal juga menjadi lebih paham dalam menangani anak ADD saat proses belajar dan mengajar di kelas. (ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

Intervensi Slow Learner dan Keterlambatan Bicara Melalui Metode MMI

IMG_5559.JPG

Melani Arnaldi, M.Psi., Psi dengan peserta workshop Kupas Tuntas Slow Learner dan Keterlambatan Bicara, Sabtu 13 Februari 2016 (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu) 

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu mengadakan workshops terapis “Slow Learner dan Keterlambatan Bicara” untuk angkatan ke IV, Sabtu, 13 Februari 2016.  Workshop ini dihadiri oleh psikolog, dosen program studi psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta, mahasiswa Fakultas Psikologi UNIKA Atma Jaya, guru TK Al Azhar 1 (Pusat) Kebayoran Baru, dan perwakilan guru SD Islam Syifa Budi Kemang.

Kegiatan pelatihan ini merupakan acara berkesinambungan tentang pelatihan intervensi kesulitan belajar yang setiap bulannya diadakan oleh Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu.  Tema yang diangkat berbeda-beda tiap bulannya serta terkait dengan kasus kesulitan belajar, yaitu ADHD, ADD, Keterlambatan Bicara, Slow Learner, Gangguan Emosional, Gangguan Perilaku, Ekspresi Bahasa, dan lain-lain.

Pelatihan satu hari tentang “Slow Learner dan Keterlambatan Bicara” ini terdiri atas tahapan studi kasus, pengenalan teori, video kasus, pengenalan screeningSlow Learner dan Keterlambatan Bicara”, dan pengenalan intervensi slow learner dan keterlambatan bicara dengan pembicara tunggal Melani Arnaldi, M.Psi., Psi sebagai Kepala Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu.

2010101124446.jpg

Sesi pengenalan teori di ruang seminar Klinik Psikoneurologi Hang lekiu (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Dalam sesi penayangan video kasus, bedah kasus dan pengenalan intervensi, dijelaskan bagaimana tahapan proses kognitif berguna dalam mendeteksi dan intervensi anak slow learner.  Terdapat delapan tahapan kognitif, yang dapat dijadikan parameter dan digunakan dalam Melani Metakognitif Intervnetion (MMI) bagi anak slow learner dan keterlambatan bicara.  Paramter tersebut yaitu konsentrasi, memori, pemahaman (comprehension), application behavior, analisa, sintesa, evaluasi, dan kreativitas berpikir.

Melani Arnaldi, M.Psi., juga menekankan peran pengasuhan yang penting dari orang tua. Peran dalam pendampingan selama masa tumbuh kembang tidak dapat dielakkan agar tumbuh kembang anak menjadi optimal terlebih anak yang mengalami gangguan slow learner dan keterlambatan bicara.

IMG_5548.JPG

Sesi pengenalan teori dan pemaparan materi oleh Melani Arnaldi, M.Psi., Psi (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Lebih lanjut untuk anak yang mengalami keterlambatan bicara dijelaskan tahapan dalam mengintervensinya.  Terdapat  lima tahapan proses dalam berbicara yaitu attachment and social interaction, attention and listening, understanding, talking, dan speech sound. Secara umum pada tahapan awal adalah bagaimana awareness anak dibangun terhadap lingkungan sekitarnya sehingga ia dapat memahami konteks.

Digambarkan oleh Melani Arnaldi, M.Psi., Psi. bahwa pelatihan pada terapi di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu kepada anak dengan slow learner dapat meningkatkan nilai akademis di sekolah formal dilihat dari pencapaian nilai akademis mereka. Melalui pelatihan yang tepat, anak dengan slow learner dapat bertahan dan sukses di sekolah formal.  Hal ini terbukti dengan nilai akademis yang diperoleh peserta terapi anak dengan slow learner di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu yang dapat memenuhi nilai Ketuntasan Kriteria Minumum (KKM) dari sekolah formal setelah menjalani terapi 1 – 3 bulan dengan frekuensi tiga kali seminggu.

IMG_5557.JPG

Sesi Penayang Video Kasus dan Bedah Kasus. Dijelaskan dalam sesi ini bagaimana menggunakan skala dan parameter untuk terapi dan deteksi anak Slow Learner (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Melalui teknik pelatihan prosedural terhadap fluid intelligence, yaitu humor, self-awareness, memory, verbal fluency, dan attention maka anak dengan slow learner dapat meningkatkan kecepatan pemerosesan informasi di otaknya.  Penjelasan lebih lanjut dari Melani Arnaldi, M.Psi., Psi mencontohkan teknik tersebut saat terapi dilakukan dengan membacakan buku cerita bergambar  untuk meningkatkan rasa humor, self-awarenes, dan verbal fluency mereka.  Teknik membaca meniru dan menyalin kalimat atau merangkum sebagai latihan memory yang pada akhirnya juga meningkatkan fluid intelligence.

Peserta merespon positif dan antusias dalam pelatihan ini. Wulan, dosen program studi psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta mengatakan bahwa workshop ini berjalan menyenangkan, jelas, dan membuka wawasan baru.  Siti Zulhunaifah, guru TK Al Azhar 1 mengatakan bahwa pemateri mudah dalam menyampaikan sehingga materi mudah dipahami.  Ani Khairani, psikolog dari UNIK.Edu+ mengatakan bahwa workshop ini menambah semangat dan recharge kembali untuk turun ke wilayah terapi anak-anak denga n kesulitan belajar, serta dipandu oleh ahli yang memang bergelut dalam bidang ini (ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

Peran Self-awareness dan Phonological Awareness di Dalam Berbahasa Pada Kasus Anak Slow Learner

Melani Arnaldi

Masalah struktur kognitif yang dialami oleh anak slow learner secara otomatis akan menyebabkan gangguan pada fungsi kognitifnya. Seorang anak slow learner bisa saja memiliki kemampuan phonem awareness yang baik, tetapi anak slow learner akan tetap mengalami gangguan biacara karena bermasalah pada  pencapaian kemampuan self-awareness dan phonological awareness-nya.

Self-awareness berbeda dengan phonological awareness, keduanya memiliki peran yang penting di dalam kemampuan bahasa. Self-awareness didefinisikan sebagai bentuk kapasitas perasaan yang diperoleh dari pengetahuan abstrak untuk mempengaruhi lingkungannya. Self-awareness berkaitan dengan kemampuan anak untuk secara sadar memhami apa saja yang menjadi sasaran objek perhatian dilingkungannya. Anak yang belum memiliki self-awarness yang baik pada umumnya akan mengalami kesulitan di dalam berkomunikasi dua arah. Kondisi ini berkaitan dengan intensitas perhatian anak terhadap suatu objek yang menjadi obyek pembicaraan. Anak yang memiliki kemampuan self-awareness yang baik pada umumnya memiliki motivasi untuk berbicara dan berminat untuk berkomunikasi secara efektif.

Phonological awareness adalah proses kemampuan anak di dalam  mendeteksi bunyi suara dan nada struktur dalam berbicara . Dalam hal ini tidak berkaitan dengan makna kata. Kemampuan phonological awareness pada umumnya akan terlihat mengalami masalah apabila anak sejak usia dibawah tiga tahun dikenalkan kepada dua bahasa. Anak akan terlhat sangat  sulit membedakan artinya jika anak belum dapat menyebutkan kata secara benar. Oleh sebab itu anak yang mengalami slow learner terlambat di dalam kemampuan bicaranya karena anak memang sulit didalam mengasosiasikan suara dan kata yang akan disebutkan secara cepat. Anak dalam hal ini harus menyadari bahwa kemampuan berbicara membutuhkan kemampuan untuk merangkaikan kata kata sampai menghasilkan bunyi yang bermakna (Westwood dalam Kumara 2014). Kemampuan phonological awareness terbentuk secara neurologis setelah anak memiliki self awareness terhadap lingkungannya. Dalam hal ini self awareness berfungsi sebagai kesadaran anak secara kognitif terhadap lingkungannya untuk membentuk suatu komunikasi dalam menyatakan suatu hal. Kobayashi (2010, hal 235-246) dalam artikelnya yang berjudul “Self-awareness and mental perception” menggambarkan bahwa self -awareness adalah salah satu bentuk passion yang berasal dari perwujudan mental perception.  Mental Perception dikaitkan dengan proses percepatan dalam melakukan  proses sensoris, seperti halnya ketika anak menerima sebuah informasi secara sensoris dari pengindraan. Proses ini secara automatis membutuhkan secara cepat mengolah informasi tersebut menjadi suatu pemahaman bermakna

Seorang anak yang dapat berbicara tidak hanya harus matang secara motorik, tetapi anak juga harus memiliki kemampuan attention dan pendengaran secara baik. Kemampuan ini yang terkadang membuat kita sulit untuk membedakannya antara anak yang terlambat bicara karena belum memiliki kematangan secara kognitif atau anak mengalami keterlambatan bicara karena memang mengalami masalah karena kurang melalui self-awareness sebagai akibat masalah attachment dan interaksi sosial.

Perbedaannya dapat dijelaskan sebagai berikut kemampuan selfawareness membutuhkan kemampuan persepsi. Sehingga  dibutuhkannya passion atau minat pada saat proses persepsi  itu terjadi sampai terbentuknya awareness (Kobayashi, 2010). Oleh sebab itu Kobayashi akhirnya mengatakan bahwa “awareness of one’s own mental state” yang berarti bahwa awareness benar-benar terjadi karena adanya proses mental state dari dalam diri sendiri.

Apabila sudah terbentuk mental perception, secara automatis fungsi dari organ indera akan muncul secara spontan untuk memberi petunjuk adanya external object dan internal object yang disenangi (pleasure).  Mental perception merupakan kemampuan kognisi yang mampu mengenali adanya bentuk objek eksternal yang disenangi  dan kemudian menjadi hal penting sebagai bentuk objek yang secara internal diminati (Kobayashi, 2010).  

Apabila proses ini belum terbentuk sudah automatis seorang anak akan mengalami keterlambatan biacara. Proses ini terjadi karena anak belum memiliki minat untuk mengetahui objek eksternal di sekitarnya. Minat sangat dibutuhkan sseorang anak untuk mendorongnya menyebutkan nama nama semua objek disekitarnya. Setelah terbentuk suatu minat, barulah proses kognisi terbentuk  sebagai mental perception. Proses kognisi akan membentuk sejumlah pikiran (mind) yang dikarakterisasikan  sebagai hasil dari latihan-latihan terdahulu sehingga membawa anak akan cepat di dalam proses bicara.

Oleh sebab itu attention berbeda dengan awareness dan tidak bisa dilihat sebagai sesuatu yang hanya dikaitkan dengan objek eksternal atau internal saja. Dalam hal ini kita harus melihat bahwa awareness dalam berbicara merupakan bentuk mental state yang disadari dan tidak disadari. Sepertinya Shen-Mou Hsu, George, Wyart, dan Tallon-Baudrya (2011) mengatakan bahwa attention merupakan bentuk mental perception yang disadari (conscious processing), sedangkan self -awareness lebih kepada bentuk mental perception yang tidak disadari (unconscious processing).

Secara umum, Berk, 1992 (dalam Winsler & Naglieri, 2003) menjelaskan bahwa self-awareness muncul saat seorang anak mulai spontanitas di dalam berbicara. Anak pada umumnya sudah mulai fokus sekitar usia 3-8 tahun. Pada saat ini anak sudah dapat menunjukan kemampuan verbal yang terlihat dalam kemampuan problem solving (Kronk, 1994; Duncan, 2000; Duncan & Cheyne, 1999; John-Steiner, 1992; McCafferty, 1994 dalam Winsler & Naglieri, 2003 hal. 660). Anak akan terus berusaha mengembangkan kemampuan trajectory dan internalisasi (Berk & Garvin, 1984; Bivens & Berk, 1990; Kohlberg, Yaeger, & Hjertholm, 1968; Winsler, Diaz, et al., 2000 dalam Winsler & Naglieri, 2003). Pada  saat  usia 4 dan 6 tahun anak akan secara berangsur-angsur  mulai membentuk covert self -talk termasuk whisper, inaudible muttering, eventually silent dan innerspeech (Vygotsky 1934/1986, 1930/1978 dalam Winsler & Naglieri, 2003). Oleh sebab itu seorang anak pada akhirnya akan  memiliki self-awareness untuk  mengembangkan aktivitas strategi problem solving dari overt ke covert, sebagai strategi verbal problem solving sampai dewasa (Justice, 1986; Justice et al., 1997 dalam Winsler & Naglieri, 2003). .

Tedapat sejumlah contoh untuk mengenali apakah seorang anak sudah memiliki awareness terhadap dirinya maupun terhadap orang lain dengan cara melihat perkembangan strategi kognitif dalam berpikir dan berbicara. Di mana saat dewasa anak pada umumnya sudah mulai tahu bagaimana strategi dalam bicara dapat bekerja dan digunakan secara efektif seiring dengan pertambahan usia (Cavanaugh & Perlmutter, 1982 dalam Winsler & Naglieri, 2003).

 

Daftar Pustaka

Kobayashi, H. (2010). Self-awareness and mental perception. Journal Indian Philosophy, 38, 233-245

Kumara, A (2014) Kesulitan berbahasa pada anak. PT Kanisius Yogyakarta

Shen-Mou Hsu, N. George, V. Wyart, C. Tallon-Baudrya. (2011). Voluntary and involuntary spatial attentions interact differently with awareness. Neuropsychologia, 49(2011), 2465-2474

Winsler, A. & J. Naglieri. (2003). Overt and convert verbal problem-solving strategies: developmental trends in use, awarness, and relations with task performance in children age 5 to 17. Child Development, 74 (3), 659 – 678.

Intervensi Anak Slow Learner Dengan Parameter Melani Metacognitive Intervention

IMG_5516.JPG

Melani Arnaldi, M.Psi., Psi., bersama peserta Workshops Slow Learner & Keterlambatan Bicara, Sabtu, 30 Januari 2016 (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu mengadakan pelatihan atau workshops terapis “Slow Learner dan Keterlambatan Bicara” untuk angkatan ke III, Sabtu, 30 Januari 2015.  Pelatihan ini dihadiri oleh mahasiswa program pasca sarjana atau profesi psikologi dari Universitas Persada Indonesia YAI, alumnus program studi psikologi Universitas Persada Indonesia YAI, mahasiswa fakultas psikologi Universitas Islam Negeri Jakarta Syarif Hidayatullah, orang tua siswa, dosen program studi psikologi Fakultas Ilmu Kependidikan Universitas Negeri Jakarta, dan mahasiswi program pascasarjana dan profesi psikologi Universitas Tarumanagara.

Kegiatan pelatihan ini merupakan acara berkesinambungan tentang pelatihan intervensi kesulitan belajar yang setiap bulannya diadakan oleh Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu.  Tema yang diangkat berbeda-beda tiap bulannya serta terkait dengan kasus kesulitan belajar, yaitu ADHD, ADD, Keterlambatan Bicara, Slow Learner, Gangguan Emosional, Gangguan Perilaku, Ekspresi Bahasa, dan lain-lain.  Untuk bulan Desember 2015 dan Januari 2016, tema yang diangkat adalah kasus “Slow Learner dan Keterlambatan Bicara”.

Pelatihan satu hari tentang “Slow Learner dan Keterlambatan Bicara” ini terdiri atas tahapan studi kasus, pengenalan teori, video kasus, pengenalan screeningSlow Learner dan Keterlambatan Bicara”, dan pengenalan intervensi slow learner dan keterlambatan bicara dengan pembicara tunggal Melani Arnaldi, M.Psi., Psi sebagai Kepala Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu.

IMG_5493.JPG

Sesi pengenalan teori dalam Workshops Slow Learner & Keterlambatan Bicara, Sabtu, 30 Januari 2016 (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Dalam sesi penayangan video kasus, bedah kasus dan pengenalan intervensi, dijelaskan bagaimana tahapan proses kognitif berguna dalam mendeteksi dan intervensi anak slow learner.  Terdapat delapan tahapan kognitif yang dapat dijadikan parameter yaitu konsentrasi, memori, pemahaman (comprehension), application behavior, analisa, sintesa, evaluasi, dan kreativitas berpikir.  Melani Arnaldi, M.Psi., Psi, menjelaskan dengan menggunakan skala psikologis beserta item-item dari variabel yang ada untuk mendeteksi dan mengintervensi anak slow learner.  Skala ini dapat digunakan untuk melihat proses berpikir apakah ada masalah atau tidak, khususnya pada ana dengan slow learner.  Pada tingkatan TK- SD kelas 2 hingga pada tingkatan pemahaman.  Pada tingkatan sekolah dasar kelas empat dilihat hingga application behavior. Pada tingkatan hingga kelas enam sekolah dasar hingga analisa dan sintesa. Namun untuk tingkatan sekolah menengah pertama (SMP) baru hingga tingkatan kreativitas berpikir.

Lebih lanjut untuk anak yang mengalami keterlambatan bicara dijelaskan tahapan dalam mengintervensinya.  Terdapat  lima tahapan proses dalam berbicara yaitu attachment and social interaction, attention and listening, understanding, talking, dan speech sound. Secara umum pada tahapan awal adalah bagaimana awareness anak dibangun terhadap lingkungan sekitarnya sehingga ia dapat memahami konteks.

IMG_5509.JPG

Sesi bedah kasus, penayangan video, pengenalan skala, serta intervensi untuk anak Slow Learner & Keterlambatan Bisara dalam Workshops Slow Learner & Keterlambatan Bicara, 30 Januari 2016

Digambarkan oleh Melani Arnaldi, M.Psi., Psi. bahwa pelatihan pada terapi di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu kepada anak dengan slow learner dapat meningkatkan nilai akademis di sekolah formal dilihat dari pencapaian nilai akademis mereka. Melalui pelatihan yang tepat, anak dengan slow learner dapat bertahan dan sukses di sekolah formal.  Hal ini terbukti dengan nilai akademis yang diperoleh peserta terapi anak dengan slow learner di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu yang dapat memenuhi nilai Ketuntasan Kriteria Minumum (KKM) dari sekolah formal setelah menjalani terapi 1 – 3 bulan dengan frekuensi tiga kali seminggu.

Melalui teknik pelatihan prosedural terhadap fluid intelligence, yaitu humor, self-awareness, memory, verbal fluency, dan attention maka anak dengan slow learner dapat meningkatkan kecepatan pemerosesan informasi di otaknya.  Penjelasan lebih lanjut dari Melani Arnaldi, M.Psi., Psi mencontohkan teknik tersebut saat terapi dilakukan dengan membacakan buku cerita bergambar  untuk meningkatkan rasa humor, self-awarenes, dan verbal fluency mereka.  Teknik membaca meniru dan menyalin kalimat atau merangkum sebagai latihan memory yang pada akhirnya juga meningkatkan fluid intelligence.

Peserta merespon positif dan antusias dalam pelatihan ini. Selly, alumnus program studi psikologi Universitas Persada Indonesia YAI mengatakan pelatihan yang sangat informatif disertai dengan video kasus dan acuan untuk mengukur sejauh mana perilaku anak mengalami slow learner dan keterlambatan bicara.  Baskoro, mahasiswa program studi psikologi Universitas Islam Negeri Jakarta mengatakan bahwa pelatihan yang cukup penting untuk mendiagnosa seorang anak itu slow learner atau tidak, dimana ternyataa banyak yang harus dilakukan. (ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

Peran Psikolog Dalam Deteksi Dini Dan Intervensi Anak Keterlambatan Bicara Serta Slow Learner

2016123160431.jpg

Melani Arnaldi, M.Psi., Psi bersama peserta Workshops Slow Learner & Keterlambatan Bicara, Sabtu, 23 Januari 2016 (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu mengadakan pelatihan atau workshops terapis “Slow Learner dan Keterlambatan Bicara” untuk angkatan ke II, Sabtu, 23 Januari 2015.  Pelatihan ini dihadiri oleh mahasiswa program pasca sarjana atau profesi psikologi dari Universitas Tarumanagara, dosen Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia YAI, Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Kependidikan Universitas Negeri Jakarta, dan praktisi psikologi di sekolah serta klinik di Jakarta.

Kegiatan pelatihan ini merupakan acara berkesinambungan tentang pelatihan intervensi kesulitan belajar yang setiap bulannya diadakan oleh Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu.  Tema yang diangkat berbeda-beda tiap bulannya serta terkait dengan kasus kesulitan belajar, yaitu ADHD, ADD, Keterlambatan Bicara, Slow Learner, Gangguan Emosional, Gangguan Perilaku, Ekspresi Bahasa, dan lain-lain.  Untuk bulan Desember 2015 dan Januari 2016, tema yang diangkat adalah kasus “Slow Learner dan Keterlambatan Bicara”.

Pelatihan satu hari tentang “Slow Learner dan Keterlambatan Bicara” ini terdiri atas tahapan studi kasus, pengenalan teori, video kasus, pengenalan screeningSlow Learner dan Keterlambatan Bicara”, dan pengenalan intervensi slow learner dan keterlambatan bicara dengan pembicara tunggal Melani Arnaldi, M.Psi., Psi sebagai Kepala Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu.

2016123111549.jpg

Sesi Pengenalan Teori dalam Workshops Slow Learner & Keterlambatan Bicara, Sabtu, 23 Januari 2016 (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Pada presentasi kali ini, Melani Arnaldi, M.Psi., Psi., menekankan peran penting psikolog di masyarakat dan dunia pendidikan. Bagaimana psikolog harus dapat menjembatani antara anak, orang tua dan guru.  Psikolog perlu menjaga perasaan mereka, karena ketika orang tua datang ke psikolog sudah menyerah dengan permasalahan yang dihadapi, oleh karena itu sebaiknya para psikolog memberikan solusi atas permasalahan dibawa oleh orang tua ataupun siswa saat berkonsultasi.

Selain itu terkait dengan Slow Learner dan Keterlambatan Bicara, Melani Arnaldi, M.Psi., Psi juga berbicara tentan kehati-hatian psikolog dalam memberikan vonis terkait IQ seperti border line atau lambat belajar pada usia dini.  Saat pengetesan tidak hanya kemampuan yang dilihat tapi juga perlu menekankan penilaian secara psikologis.  Misalnya dalam pengetesan tidak bersifat kaku dan terbatas time limit agar potensi anak dapat terlihat, dengan memancing dan memberikan kesempatan yang lebih kepada anak saat test sehingga terkuak sisi psikologisnya.

Pengembangan terapi keterlambatan bicara dan Slow Learner di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu menekankan kepada terapi metakognitif.  Terapi metakognitif ini efektif untuk anak yang mengalami keterlambatan bicara dengan ketiadaan cacat pada organ bicaranya atau otak, namun fungsi otaknya belum optimal.  Cirinya adalah anak sudah mampu mengucapkan kata dengan jelas namun belum mampu membuat kalimat.  Berbeda dengan anak autis yang menerapkan terapi ABA, terapi pada anak keterlambatan bicara dan lambat belajar menggunakan terapi metakognitif, yaitu bagaimana mengfungsikan otak untuk berpikir.  Selain itu juga dijelaskan bagaimana terapi metakognitif yang dikombinasi dengan fisioterapi listrik ataupun pemberian obat dapat membantu pemulihan fungsi bicara dan belajar pada anak.  Namun pemberian obat ini hanya sementara, yaitu maksimum 6 bulan yang kemudian dievaluasi atau dihentikan.

2016123143701.jpg

Sesi bedah kasus dan penayangan video kasus serta intervensi dalam Workshops Slow Learner & Keterlambatan Bicara, 23 Januari 2016 (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

Digambarkan oleh Melani Arnaldi, M.Psi., Psi. bahwa pelatihan pada terapi di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu kepada anak dengan slow learner dapat meningkatkan nilai akademis di sekolah formal dilihat dari pencapaian nilai akademis mereka. Melalui pelatihan yang tepat, anak dengan slow learner dapat bertahan dan sukses di sekolah formal.  Hal ini terbukti dengan nilai akademis yang diperoleh peserta terapi anak dengan slow learner di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu yang dapat memenuhi nilai Ketuntasan Kriteria Minumum (KKM) dari sekolah formal setelah menjalani terapi 1 – 3 bulan dengan frekuensi tiga kali seminggu.

Melalui teknik pelatihan prosedural terhadap fluid intelligence, yaitu humor, self-awareness, memory, verbal fluency, dan attention maka anak dengan slow learner dapat meningkatkan kecepatan pemerosesan informasi di otaknya.  Penjelasan lebih lanjut dari Melani Arnaldi, M.Psi., Psi mencontohkan teknik tersebut saat terapi dilakukan dengan membacakan buku cerita bergambar  untuk meningkatkan rasa humor, self-awarenes, dan verbal fluency mereka.  Teknik membaca meniru dan menyalin kalimat atau merangkum sebagai latihan memory yang pada akhirnya juga meningkatkan fluid intelligence.

Peserta merespon positif dan antusias dalam pelatihan ini. Fransiska Fenny, M.Psi., Psi., alumnus Program Profesi Psikologi Universitas Tarumanagara mengatakan pelatihan ini sucah cukup baik, apalagi ditambah dengan penayangan video.  Iriani Indri Hapsari, M.Psi., Psi., dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Jakarta mengatakan  pelatihannya seru dan banyak menambah wawasan. Dr. Lily Mayawati merespon bahwa pemateri tulus dan loyal dalam menyampaikan ilmu dan pengalamannya (ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

Bingung Pilih Program Studi Atau Jurusan Saat Kuliah Nanti? Tes Penjurusan Dulu Yuk!

WISNU ARTIKEL 3

Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, salah satu fakultas dengan berbagai program studi favorit di Indonesia (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Pemilihan jurusan atau program studi saat kuliah adalah hal penting dan menentukan karir ke depan.  Amatlah elok jika jurusan yang dipilih atau ditekuni sesuai dengan minat dan bakat. Diharapkan hal ini tidak terjadi penolakan dalam belajar ataupun mengundurkan diri dari jurusan yang telah didaftarkan di universitas.

Akibat kurangnya informasi dan memahami minat, bakat, dan potensi akademik yang dimiliki siswa, sering kali saat pemilihan jurusan di universitas tidak sesuai dengan passion yang dimiliki. Hal ini sering terjadi dan amat disayangkan karena telah membuang waktu, biaya, ataupun kesempatan yang diperoleh.

Sebagi contoh di Universitas Gadjah Mada, banyak mahasiswa baru yang mengundurkan diri karena jurusan atau program studi yang dipilih tidak sesuai dengan minat dan bakat mereka.

Universitas Gadjah Mada (UGM) setiap tahunnya menerima pengunduran diri siswa yang telah lolos SNMPTN. Mereka mundur karena merasa salah mengambil program studi. Untuk itu panitia menghimbau agar sekolah memberikan pendampingan bagi siswa saat mengisi Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) (Nugroho, 25 Januari 2016).

Direktur Akademik UGM, Sri Peni Wastutiningsih berharap kerjasama dari pihak sekolah untuk mengarahkan para siswanya memilih PTN bahkan program studi (prodi) yang benar-benar sesuai dengan peminatan masing-masing siswa. Hal ini untuk menghindari banyaknya pengunduran diri siswa setelah lolos SNMPTN (Nugroho, 25 Januari 2016).

Setiap tahun di UGM menerima 100 siswa yang dinyatakan lolos SNMPTN namun memilih mundur. Hal ini tentu merugikan kami dan juga siswa yang seharusnya bisa menempati kursi-kursi kosong tersebut. Maka kami berharap sekolah menyampaikan pada siswanya agar tidak memilih PTN dan prodi yang kurang mereka minati,” kata Sri Peni Wastutiningsih. (Nugroho, 25 Januari 2016).

Sri menambahkan pada SNMPTN 2014 pernah terjadi hampir 50 calon mahasiswa di Fakultas Teknik UGM pergi dan memilih kuliah di tempat lain. Kenyataan ini sangat disayangkan karena banyak juga siswa lain yang ingin kuliah di FT UGM namun tidak lolos SNMPTN (Nugroho, 25 Januari 2016).

Ketika memilih jurusan pada saat masuk kuliah, tentu saja ada banyak poin yang perlu dipertimbangkan. Jangan sampai salah jurusan yang yang berakibat fatal pada dunia kerja (Harahap, 25 Februari 2014).

Menurut Educational Psychologist dari Integrity Development Flexibility (IDF) Irene Guntur, M.Psi., Psi., CGA, sebanyak 87 persen mahasiswa di Indonesia salah jurusan (Harahap, 25 Februari 2014).

“Salah jurusan bisa memicu pada pengangguran. Supaya tidak ada pengangguran lagi ya jangan sampai ketika kuliah salah jurusan,” (Harahap, 25 Februari 2014).

Untuk mencegah hal di atas, ada baiknya siswa yang akan memilih program studi atau jurusan di universitas melakukan tes prikologi, yaitu tes penjurusan.  Melalui tes ini, siswa dan orang tua akan mengetahui potensi akademik, minat, dan bakat  dan menentukan program studi yang disesuaikan dengan cita-cita serta potensi yang dimiliki.

Pengetesan Psikologi

Tes Penjurusan membantu orang tua dan siswa dalam memilih program studi di universitas

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu melakukan pelayan tes penjurusan untuk membantu siswa SMA dalam menentukan jurusan di perkuliahan nanti.  Melalui test penjurusan ini siswa dan orang tua dibantu dalam menentukan program studi atau jurusan yang akan diambil saat diperkuliahan nanti.

Melalui hasil tes penjurusan ini, psikolog di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu membantu mengarahkan jurusan disesuaikan dengan potensi akademik, minat, dan bakat siswa serta cita-cita dari siswa ataupun pengharapan dari orang tua.  Melalui sesi konseling hasil tes, siswa dan orang tua dengan dijembatani psikolog untuk menentukan program studi di perkuliahan dengan berlandaskan potensi akademik, minat, dan bakat. Sehingga siswa diharapkan mampu menyelesaikan studi di universitas dengan penuh semangat serta passion yang dimiliki.

Selanjutnya diharapkan setelah lulus universitas, siswa juga akan menekuni bidang pekerjaan yang tepat dan sesuai bakat, minat, dan jenjang pendidikannya.  Sehingga tidak muncul kesalahan penjurusan yang akan memicu pengangguran karena bekerja tidak sesuai dengan minat dan bakat.

Yuk tes penjurusan dulu, sebelum ambil keputusan pemilihan program studi atau jurusan di perkuliahan nanti!  (ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

 

Daftar Pustaka

Nugroho, Joko.(Januari 25, 2016). SNMPTN 2016 : Salah ambil prodi, 100 siswa yang lolos di UGM mundur. HarianJogja.Com. Januari 26, 2016.http://www.harianjogja.com/baca/2016/01/25/snmptn-2016-salah-ambil-prodi-100-siswa-yang-lolos-di-ugm-mundur-684187

Harahap, Rahmat Faisal. (Februari 25, 2014). Duh, 87% Mahasiswa Indonesia Salah Jurusan!.Okezine.com. Januari, 26, 2016. http://news.okezone.com/read/2014/02/24/373/945961/duh-87-mahasiswa-indonesia-salah-jurusan

 

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.