Intervensi Dalam Membentuk Neuroplastitas di Otak

 

WhatsApp Image 2017-12-04 at 20.29.31

Sesi foto bersama seminar ILDNS, Sabtu, 25 November 2017 (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Neuroplastisitas dianggap sebagai perubahan dalam tingkatan neuron, dan bukan hanya perubahan perilaku.  Di sisi lain neuroplatisitas terjadi karena hasil dari pembelajaran (pengalaman dan pembentukan memori) dan perbaikan yang terjadi dari luka pada otak sehingga mempengaruhi besarnya sistem syaraf pusat (central nervous system / CNS).   Proses neuroplastisitas berkaitan dengan bagaimana sistem syaraf mengubah sistem encoding selama proses neruobiologi berlangsung.

Hal ini dijelaskan oleh Dr. (cndt). Melani Arnaldi, S.Psi., M.Psi., Psi., Kepala Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu dalam seminar Introduction to Learning Disability & Neurospychology Seminars (ILDNS) dengan tema “Mekanisme Neuroplastisitas di Otak”, pada Sabtu, 25 November 2017.  Acara tersebut dihadiri oleh orang tua siswa terapi di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu, guru tingkatan TK, SD, dan SMP dari wilayah Jakarta Selatan.

WhatsApp Image 2017-12-04 at 20.29.32 (1)

Sesi pemaparan teori oleh Dr. (cndt). Melani Arnaldi, S.Psi., M.Psi., Psi. (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Pada acara ini dijelaskan bagaimana proses percabangan syaraf di otak bertumbuh pesat saat masa anak-anak.  Perbaikan atau proses neuroplastitas dapat terjadi karena adanya intervensi.  Sebagaimana digambarkan oleh Melani Arnaldi, dianalogikan bagaimana otak pemikir besar seperti Einstein memiliki ukuran otak yang melebihi orang normal.

Namun perlu diperhatikan juga bagi orang tua dan guru, bahwa pengelolaan emosi yang buruk dapat berdampak kepada neuroplastistas yang maladaptif.  Stress yang berkepanjangan sehingga menyebabkan depresi akan merubah struktur kimia dan biologi dari otak.  Hal ini terjadi bagaimana otak mengalami atropi atau penyusutan baik akibat fenomena depresi ini.  Hal ini berakibat pada perilaku yang memburuk pada individu yang depresi.

Terkait dengan intervensi, beberapa hal yang dapat meningkatkan neuroplastisitas di otak adalah dengan 1) Rangsangan motorik melalui brain gym, 2) metode pembelajaran, 3) intervensi metakognitif, dan 4) Pembelajaran social dengan lima aktivitas mayor.

WhatsApp Image 2017-12-04 at 20.29.31 (1)

Sesi pemutaran video tentang kesulitan belajar, otak, sistem syaraf, dan neuroplastisitas (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Dalam acara ini juga diulas sekilas tentang kesulitan belajar, penggolongan, serta intervensi yang dapat dilakukan oleh Agus Syarifudin, S.Si., Research Assistant Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu.  Digambarkan juga melalui sesi pemutaran video tentang otak, sistem syaraf, serta neuroplastisitas.  (Agus/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Iklan

Seminar Kupas Tuntas Intervensi dan Pembelajaran dalam Membentuk Neuroplastisitas di Otak

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu mengadakan kembali seminar dalam rangkaian seminar “Introduction to Learning Disability and Neuropsychology” dengan tema “Intervensi dan Pembelajaran dalam Membentuk Neuroplastisitas di Otak”, Sabtu,  25 November 2017, di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu.

Pada seminar ini akan dibahas bagaimana intervensi psikologis dan pembelajaran dapat membentuk neuroplastisitas. Salah satu hal positif dari neuroplastitas yang terjadi adalah meningkatkan kecerdasan anak.

Sejauhmana dan mekanisme dari intervensi psikologis dan pembelajaran di sekolah maupun pusat terapi yang melatih self-awareness,  memory,  exexutive function serta kemampuan psikologis lainnya dapat membentuk neuroplastisitas. Hal ini terjadi karena saraf-saraf mengalami perpanjangan serta saling berikatan sehingga saraf yang satu dengan yang lain saling terhubung.

Seminar ini juga akan membahas fungsi-fungsi bagian otak terkait dengan intervensi dan pembelajaran. Bagaimana lobus-lobus di otak saling berkaitan dalam menjalankan fungsi kerja otak secara keseluruhan.

Untuk informasi acara dan pendaftaran,  dapat menghubungi Agus (08561785391) dan Muhbikun (082213386726). Tempat terbatas, hanya 20 orang tiap event. (Agus/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Diskon Terapi Sensori Integrasi Di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu memberikan diskon untuk terapi sensori integrasi dan fisioterapi sensori motorik yaitu hanya dengan Rp. 175.000,- per sessi. Sebagai informasi,  harga terapi sensori integrasi di tempat terapi lain berkisar Rp. 250.000,- sampai dengan Rp.  300.000,- untuk per sesi atau pertemuan dengan durasi 1 jam. Di klinik Psikoneurologi Hang Lekiu,  waktu terapi per sesi berdasarkan ketuntasan materi terapi yang dilakukan pada setiap sesi,  sehingga tidak kaku selesai tepat 1 jam,  atau dapat dikatakan waktunya bisa lebih.

Selain sensori integrasi,  anak dengan sensory processing disorder (SPD)  atau sensory integration dysfunction akan diberikan fisioterapi sensori motorik untuk merangsang syaraf perifer atau syaraf tepi sehingga koordinasi motoriknya menjadi lebih baik.

Terapi sensori integrasi dan fisioterapi sensori motorik dapat dilakukan pada hari Senin – Sabtu,  jam 09.00 – 17.00 wib. Frekuensi terapi dalam seminggu berkisar 1 – 3 sesi atau pertemuan.  Frekuensi terapi dalam setiap minggunya akan ditentukan dari hasil pemeriksaan awal atau assessment yang dilakukan yaitu pemeriksaan fungsi psikologi dan pemeriksaan fungsi neurobiologi dengan EEG.

Untuk informasi terapi sensori integrasi dan fisioterapi sensori motorik dapat mengubungi sdr Agus (08561785391) dan Syafri (081285472960).

Mengenal Sistem Inderawi dan Sensory Processing Disorder (SPD)

Sensory Processing Disorder (SPD) adalah kondisi neurofisiologis di mana masukan sensorik atau inderawi baik dari lingkungan atau dalam tubuh menjadi kurang terdeteksi, dimodulasi atau diolah, ditafsirkan dan  atau direspons tidak sesuai dengan yang diharapkan (Miller, 2013 dikutip dari Kopp & Schier, 2016).

Secara spesifik dapat dijelaskan bahwa sensory processing dalam manusia melibatkan penerimaan dari stimulus fisik, transduksi dari stimulus ke dalam impuls syaraf, dan persepsi, serta pengalaman secara sadar dari indera.  Proses ini adalah dasar untuk belajar, mempersepsi, dan bertindak.  (Kandel, Schwartz, & Jessell, 2000; Shepherd, 1994 dikutip dari Ahn, Miller, Milberger, & McIntosh, 2004). Gangguan dapat terjadi pada beberapa atau keseluruhan dari sistem indrawi termasuk tactile, auditory, visual, gustatory, olfactory, proprioceptive, and vestibular  (Bundy & Murray, 2002; Kandel et al.; Reeves, 2001 dikutip dari Ahn, Miller, Milberger,&  McIntosh, 2004). Ganguan sensori ini dapat berdampak negatif kepada perkembangan dan kemampuan fungsi dari perilaku, emosi, motorik, dan kognitif atau berpikir (Kandel et al.; Shepherd, 1994 dikutip dari Ahn, Miller, Milberger, & McIntosh, 2004).

Prevalensi SPD pada anak usia taman kanak-kanak cukup tinggi. Berdasarkan penelitian Ahn, Miller, Milberger, dan McIntosh (2004)  bahwa berdasarkan persepsi dari orang tua dengan anak usia taman kanak-kanak saat penerimaan siswa baru, anak yang mengalami SPD dapat mencapai 5,3%.  Disi lain, Kopp dan Schier (2016) menjelaskan  bahwa SPD dapat juga terjadi pada orang dewasa.  Prevalensi pada anak sekitar 5-16 %, 70-90% anak bahkan individu dewasa yang mengalami austism spectrum disorder (ASD) memliki gangguan dalam sensory processing, dan 40-60% anak dengan ADHD mengalami SPD. Gambaran ini menunjukkan angka yang cukup tinggi sehingga perlu diwasapadai oleh orang tua, guru TK, maupun PAUD.

Indikator SPD meliputi respon motor, perilaku, perhatian, atau adaptasi yang tidak tepat atau bermasalah berikut atau mengantisipasi stimulasi sensorik. Perbedaan sensorik hanya dianggap sebagai “kelainan” ketika hal itu menyebabkan kesulitan yang signifikan dengan rutinitas dan tugas sehari-hari (misalnya individu tidak dapat menyalin atau memberi kompensasi) (Kopp & Schier, 2016).

Penyebab dari SPD dapat berupa:

› Genetik atau keturunan dari keluarga

› Komplikasi saat sebelum kelahiran atau saat proses kelahiran

› Faktor Lingkungan

(Kopp & Schier, 2016).

 

8 Sistem Inderawi

› Auditory

auditory.png

Gambar 1. Auditory system (http://nobaproject.com/modules/hearing)

Hal ini disebut juga kemampuan pendengaran yaitu kemampuan untuk mengkodekan dan membedakan suara atau nada yang berbeda, yang, menurut beberapa teori kecerdasan.  Hal ini dibedakan dari kemampuan visual atau penglihatan dari jenis yang digunakan dalam membedakan rangsangan penglihatan (VandenBos, 2015).

 

› Visual

Kemampuan mengenali cahaya dan menerima objek hasil pemantulan cahaya.  Sistem visual adalah bagian dari sistem saraf pusat yang memberi organisme kemampuan untuk memproses detail visual, serta memungkinkan terbentuknya beberapa fungsi pengambilan foto non-gambar. Ini mendeteksi dan menafsirkan informasi dari cahaya tampak untuk membangun representasi lingkungan sekitar. Sistem visual melakukan sejumlah tugas kompleks, termasuk penerimaan cahaya dan pembentukan representasi monokular; penumpukan persepsi binokular nuklir dari sepasang proyeksi dua dimensi; identifikasi dan kategorisasi objek visual; menilai jarak ke dan antar benda; dan membimbing gerakan tubuh dalam kaitannya dengan objek yang dilihat (VandenBos, 2015).

 

› Rasa (Gustatory)

300px-Tongue_-_taste_cartoon

Gambar 3. Gustatory  system (Jayaram Chandrashekar, Mark A Hoon, Nicholas J P Ryba, Charles S Zuker The receptors and cells for mammalian taste. Nature: 2006, 444(7117);288-94 PubMed 17108952)

Indera kimiawi yang mengenali  molekul dimana terlarut dalam cairan ludah di lidah, termasuk sensasi dari asin, manis, asam, dan pahit dan berbagai kemungkinan sensasi yang memungkinkan ketika dikombinasikan dengan penginderaan olfactory (penciuman) dan tactile atau sentuhan (VandenBos, 2015).

 

› Penciuman (Olfactory).

Penciuman adalah penginderaan olfactory atau kapasitas pengideraan untuk mendeteksi kehadiran senyawa kimia tertentu di udara (Mastumoto, 2009). Molekul kimia yang berada di udara ini diserap ke dalam lender di hidung dan distimulasikan kepada syaraf penerima olfactory dimana mereka diubah menjadi pesan-pesan syaraf. (VandenBos, 2015).  Secara sederhana proses inderawi ini adalah bagaimana individu mampu merasakan bau dari lingkungan.

 

› Sentuhan (Tactile)

Sensasi yang dihasilkan oleh kontak dari objek kepada permukaan kulit.  Kepekaan dari sentuhan ervariasi dalam bagian-bagian tubuh yang berbeda.  Misalnya di bibir dan jari-jari lebih sensitive dibandingkan dengan bagian belakangnya (VandenBos, 2015).  Secara sederhana dapat digambarkan bagaimana individu mampu merasakan sentuhan dari lingkungan.

 

› Vestibular

Vestibular adalah penginderaan terhadap posisi dan gerakan.  Sistem ini berada di dalam tubuh yang bertanggungjawab untuk mempertahankan keseimbangan, bentuk tubuh, dan orientasi tubuh dalam ruang serta berperan penting dalam kendali pergerakan tubuh.  Sistem ini terdiri atas bagian-bagian vestibular di dalam telinga, syaraf vestibular, dan beberapa bagian cortical yang berhubungan dengan pemerosesan informasi vestibular atau keseimbangan (VandenBos, 2015).

 

› Proprioceptive

Propioceptive adalah system dari sendi dan penginderaan dari otot.  Dapat diuraikan kemampuan ini adalah untuk mengambil atau memahami, adalah rasa posisi relatif dari bagian tubuh seseorang dan kekuatan usaha yang dipekerjakan dalam gerakan.  Pada manusia, ini diberikan oleh proprioseptor (spindle otot) pada otot dan tendon laring kerangka (organ tendon Golgi) dan kapsul fibrosa pada persendian. Hal ini dibedakan dari exteroception, yang dengannya seseorang merasakan dunia luar, dan interosepsi, dimana seseorang merasakan rasa sakit, kelaparan, dan lain-lain, dan pergerakan organ dalam.

Otak mengintegrasikan informasi dari proprioception dan dari sistem vestibular ke dalam keseluruhan perasaan posisi tubuh, gerakan, dan akselerasi. Kata kinesthesia atau kinæsthesia (pengertian kinestetik) secara ketat berarti perasaan gerakan, namun telah digunakan secara tidak konsisten untuk merujuk pada proprioception saja atau integrasi otak dari input proprioseptif dan vestibular

 

› Interoception System

Interoception_and_the_body.png

Gambar 8. Interioception System (https://en.wikipedia.org/wiki/Interoception)

Hal ini berkaitan dengan penginderaan dari organ-organ di dalam tubuh.  Ini mencakup proses pengintegrasian sinyal otak yang disampaikan dari tubuh ke subregional tertentu – seperti batang otak, talamus, insula, somatosensori, dan korteks anterior cingulate – yang memungkinkan adanya representasi nuansa keadaan fisiologis tubuh. (Craig, 2002; Oliver, 2002).  Hal ini penting untuk menjaga kondisi homeostatik atau keseimbangan system di dalam tubuh (Simmons & Barret, 2015) di dalam tubuh dan, berpotensi, membantu dalam kesadaran diri (2009).

 

Pengelompokan SPD

SPD dapat dikelompokan sebagai berikut

diagram-spd

Gambar 9. Pengelompokkan SPD

Secara umum pada SPD yang dapat diamati pada anak di bawah 5 tahun adalah pada gangguan SMD (Sensory Modulation Disorder). SMD  adalah penurunan dalam mendeteksi, memodulasi, menafsirkan, atau merespons rangsangan sensorik (Kopp & Schier, 2016). SMD dapat dikelompokkan menjadi SOR, SUR, dan SC.

Sensory-Over Responsivity (SOR)

Ganguan ini didefinisikan sebagai hipersensitivitas terhadap sensasi (rangsangan visual, suara, sentuhan, gerakan, selera, bau) (Kopp & Schier, 2016). Anak atau individu yang mengalami SOR sangat peka terhadap rangsangan yang diterima oleh indera.  Sensasi indera bagi orang normal yang biasa saja, namun bagi mereka sangat luar biasa dan dapat menyakitkan.  Anak atau individu dengan SOR memiliki perilaku sebagai berikut:

  1. Merespon terlalu banyak, terlalu sering, atau terlalu lama untuk stimuli sensorik
  2. Dapatkan agresif atau impulsif saat diliputi oleh rangsangan sensorik
  3. Mudah marah, rewel, moody (emosi hiperaktif)
  4. Tidak dapat diterima; menghindari aktivitas kelompok, kesulitan membentuk hubungan (social scene terlalu berlebihan)
  5. Terlalu berhati-hati dan takut mencoba hal baru
  6. Kesal karena perubahan transisi dan tak terduga  (Kopp & Schier, 2016)

 

Sensory-Under Responsivity (SUR)

SUR didefiniskan jika individu kurang sensitif terhadap dan kurang menyadari rangsangan sensorik daripada kebanyakan orang (Kopp & Schier, 2016).  Individu yang mengalami SUR lambat bahkan tidak peka terhadap respon yang diterima oleh inderawi.  Anak atau individu dengan Sensory-Under Responsivity (SUR) memiliki perilaku

  1. Ambang rasa sakit tinggi
  2. Tidak diperhatikan saat disentuh
  3. Tidak sadar harus pergi ke kamar mandi
  4. Biasanya lebih memilih aktivitas yang tidak banyak aktivitas
  5. Pasif, tenang, ditarik
  6. Sulit untuk terlibat dalam interaksi sosial
  7.  Terlalu lambat untuk merespons arah
  8. Kurang motivasi atau dorongan (Kopp & Schier, 2016)

 

Sensory Craving (SC)

Individu tampaknya membutuhkan stimulus sensoris yang jauh lebih banyak daripada kebanyakan orang (Kopp & Schier, 2016).  Anak atau individu yang mengalami Sensory Craving dapat berperilaku:

  1. Terus bergerak
  2. Suka menabrak, melompat, perumahan kasar
  3. Berlebihan berputar, berayun, goyang
  4. Terus-menerus menyentuh benda atau orang
  5. Mencari getaran
  6. Seperti jam tangan berputar
  7. Konstan berbicara; masalah berubah dalam percakapan (Kopp & Schier, 2016) (Agus/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Oleh karena itu, jika anak di bawah 3 tahun memiliki gangguan SPD agar segera diperiksakan kepada ahli yaitu dokter anak atau psikolog.  Hal ini penting agar dapat dirujuk untuk dilakukan intervensi atau terapi.  Terapi okupasi, sensori integrasi, dan fisioterapi sensori motorik adalah beberapa intervensi yang dapat dilakukan untuk anak dengan gangguan SPD.  Intervensi sejak dini akan mempermudah perbaikan yang terjadi karena didukung oleh tumbuh kembang anak yang terjadi dalam masa emas pertumbuhan yaitu dibawah 6 tahun (Agus/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

Daftar Pustaka

Ahn, R. R., Miller, L. J., Milberger, S., & McIntosh, D. N. (2004). Prevalence of parents’ perceptions of sensory processing disorders among kindergarten children. American Journal of Occupational Therapy, 58, 287–293.

Anderson, D.M. (1994). Mosby’s Medical, Nursing & Allied Health Dictionary, 4th eds., Mosby-Year Book .

Barrett, L.F. & Simmons, W.K. (2015). Interoceptive predictions in the brain. Nature Reviews Neuroscience. 16 (7): 419–429. doi:10.1038/nrn3950

Craig, A.D. (2009). “How do you feel — now? The anterior insula and human awareness”Nature Reviews Neuroscience. 10 (1): 59–70. doi:10.1038/nrn2555

Craig, A.D.(2002) “How do you feel? Interoception: the sense of the physiological condition of the body”Nature Reviews Neuroscience. 3 (8): 655–666. doi:10.1038/nrn894

Kopp, K., & Schier, T. (2016). Making Sense Out of Sensory Processing Disorder. Diakses 12 November 2017 dari http://depts.washington.edu/lend/pdfs/Making_Sense_Sensory_Processing_Disorder103114.pdf

Oliver, G.C.  (2002). Visceral sensory neuroscience : interoception. Oxford: Oxford University Press. ISBN 0195136012OCLC 316715136

Matsumoto, D. [Ed]. 2009. The Cambrige dictionary of psychology. New York: Cambridge University Press

VandenBos, G.R. [Ed]. (2015). APA dictionary of psychology. 2nd eds. Washington, DC: APA.

 

 

Perubahan Struktur Otak Karena Depresi -II

Perubahan Stuktur Otak Pasien Depresi dan MDD

Kondisi yang paling relevan dengan uraian di atas adalah studi pencitraan saraf (neuroimaging) secara struktural yang menunjukkan bahwa individu dengan MDD  mungkin memiliki hippocampus yang relatif kecil bahkan selama periode tingkat keparahan yang berkurang secara klinis atau remisi (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009).

Kemunculan penyakit yang berulang atau bertahan lama, serta kurangnya pengobatan antidepresan diperkirakan berkontribusi pada penurunan volume hippocampus yang cepat, dimana pada gilirannya dapat menjelaskan masalah ingatan pada beberapa pasien, serta beberapa gejala kelainan lainnya. (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009).  Hal ini dapat dibuktikan bahwa individu yang mengalami depresi fungsi memory yang lemah dibandingkan dengan individu normal.

Otak MDD

Gambar 2. Perubahan Struktur Otak Terkait Depresi (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009)

Berdasarkan gambar di atas, dapat dijelaskan bahwa terjadi perubahan stuktur otak karena MDD.  Beberapa bagian otak mengalami penyusutan volume pada individu dengan MDD dibandingkan dengan individu normal.  Bagian tersebut yaitu anterior cingulate cortex, prefrontal cortex, subgenual cingulate, ventral striatum, amygdala, dan hippocampus.  Namun ada juga bagian dari otak yang mengalami kenaikan volume yaitu kelenjar pituitary.  Di sisi lain, berdasarkan penelitian terjadi kenaikan dan penurunan aktivitas bagian otak.  Bagian otak yang mengalami kenaikan aktivitas yaitu amygdala dan orbitofrontal cortex.  Sedankan bagian otak lainnya yang mengalami penurunan aktivitas yaitu anterior cingulate cortex, prefrontal cortex, subgenual cingulate,  dan ventral striatum.

Pada gambar 2 dapat dijelaskan yaitu (A) Stimulasi magnetik transkranial prefrontal dorsolateral cortex dan (B) stimulasi otak dalam dari subgenual cingulate telah terbukti memiliki efek antidepresan pada beberapa pasien. Dasar pemikiran untuk stimulasi otak dalam dari subgenual cingulate atau ventral striatum sebagian besar didasarkan pada temuan penyimpangan fungsional nuklear di wilayah ini. (C) Stimulasi saraf Vagus mungkin memiliki sifat antidepresan melalui pengaruhnya terhadap lokus koeruleus, area di otak berasal dari mana neuron norepinephrine berasal (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009).

Pasien mungkin juga mengalami kelainan volumetrik di daerah otak subkortikal lainnya, termasuk amygdala dan ventral striatum, dan di daerah korteks, termasuk anterior cingulate cortex,  orbitofrontal cortex dan prefrontal cortex (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009).

Kelainan otak struktural dan fungsional pada pasien dengan gangguan MDD, dan lokasi tindakan teknik neurostimulasi baru dengan potensi antidepresan. Kelainan struktur pada otak pasien dengan gangguan MDD  telah diamati di daerah kortikal dan subkorteks. Bagian anterior cingulate cortex (ACC), terutama subgenual cingulate, dapat menunjukkan pengurangan volume (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009)..

ACC terletak di bagian depan otak berupa bagian melengkung yang lebih curam dari korteks cingulate, struktur di otak depan yang membentuk kerah di sekitar corpus callosum. Bagian ini terbagi menjadi dua area yang berbeda yang diyakini memiliki peran penting dalam berbagai aktivitas. Dorsal anterior cingulate cortex (dACC), sering dianggap sebagai divisi “kognisi” atau berpikir, terlibat dalam berbagai fungsi eksekutif, seperti alokasi perhatian, kesalahan dan deteksi keterbaruan, modulasi working memory, kontrol berpikir, konflik respon, dan pemilihan respons. Ventral anterior cingulate cortex (vACC), yang sering dianggap sebagai divisi “emosi”, dianggap terlibat dalam menengahi kecemasan, ketakutan, agresi, kemarahan, empati, dan kesedihan; dalam merasakan sakit fisik dan psikologis; dan dalam mengatur fungsi otonom (misal, tekanan darah, detak jantung, respirasi). Meskipun mekanisme yang tepat dimana proses ini terjadi di ACC tetap tidak diketahui, para periset telah berteori bahwa hubungan timbal balik antara dACC dan vACC membantu menjaga keseimbangan antara pemrosesan kognitif dan emosional sehingga memungkinkan pengaturan sendiri (VandenBos, 2015).  Oleh karena itu tidak mengherankan jika individu dengan gangguan depresi mengalami perubahan emosi yang ekstrem dan tidak terkendalinya fungsi kerja berpikir.

Perubahan struktur otak dari individu dengan MDD juga telah diamati di subregional lain dari prefrontal cortex dan juga di orbitofrontal cortex (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009). Prefrontal cortex adalah bagian paling depan (depan) dari cerebrall cortex pada setiap frontal lobe dari otak.  Derah ini dibagi menjadi daerah dorsolateral dan daerah orbitofrontalPrefrontal cortex berfungsi dalam perhatian, perencanaan, ingatan kerja, dan ekspresi emosi dan perilaku sosial yang tepat; Perkembangannya pada manusia sejajar dengan peningkatan kontrol berpikir dan penghambatan perilaku saat individu tumbuh menjadi dewasa. Sebaliknya, kerusakan pada korteks prefrontal menyebabkan gangguan emosional, motorik, dan kognitif. Juga disebut area hubungan frontal (VandenBos, 2015).

Selain itu perubahan struktur otak individu depresi dapat diamati pada daerah subkortikal dimana pengurangan volume telah diamati meliputi amygdala, hippocampus dan striatum ventral (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009). Amygdala memliki peran penting dalam ingatan, emosi, dan persepsi terhadap ancaman dan belajar dari rasa takut. Sedangkan hippocampus berperan dalam memori dan pembaljaran (VandenBos, 2015).  .

Hal ini juga dapat bertahan selama fase remisi atau berkurangnya tingkat keparahan yang terjadi dimana hal ini mungkin membantu menjelaskan mengapa pasien dalam fase remisi terus bereaksi berlebihan terhadap rangsangan yang mengancam.Reaktivitas kognitif atau respon berpikir yang terjadi ini berkontribusi pada risiko kekambuhan di masa depan (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009).

Kertekaitan Fungsi Psikologis dan Fungsi Biologis Otak

Berdasarkan uraian di atas jelas bahwa  gangguan psikologis yang berkepanjangan yaitu MDD dapat merubah struktur biologis otak atau sturktur neurobiologi.  Hal ini sudah tentu juga akan mempengaruhi fungsi psikologis dari otak.  Salah satu fungsi psikologis yang terganggu adalah fungsi berpikir atau kogntif.  Sering kali orang dengan MDD tidak dapat berpikir jernih dan sesuai dengan realita atau fakta sehingga muncul delusi dan halusinasi.  Oleh karena fungsi berpikirnya terganggu, maka emosi dan perilakunya pun menjadi buruk.  Akibatnya individu dengan MDD tidak mampu berfungsi secara sosial dan menjalankan aktivitas sehari-hari.

Seperti digambarkan di atas, hal ini terjadi karena otak tidak mampu bekerja secara optimal.  Gangguan neurobiologis yang terjadi berdampak terhadap sekresi atau produksi neurotransmitter yang berpengaruh kepada fungsi berpikir atau kognitif.  Sinyal-sinyal listirk pada syaraf di otak tidak mampu berjalan dengan normal sehingga berpengaruh terhadap proses pengolahan informasi atau fungsi psikologis ini.  Inilah alasan mengapa individu MDD tidak mampu berpikir layaknya individu normal.

Oleh karena itu pada pasien MDD, untuk mengembalikan fungsi psikologinya kembali normal, salah satunya  yaitu fungsi berpikir atau kognitif maka perlu dilakukan terapi psikologi dan juga terapi obat.  Kombinasi obat dan terapi psikologi dilakukan karena sudah terjadi perubahan pada struktur otak atau terjadinya gangguan pada fungsi biologis.  Di sisi lain, gangguan psikologis yang terjadi tetap harus diperbaiki melalui pelatihan atau terapi sehigga fungsinya terperbaiki.

Pemberian antidepresan sebagai terapi obat perlu diawasi dengan ketat agar efektif bagi pasien.  Karena pemberian antidepresan juga memiliki efek samping yang buruk jika digunakan dalam jangka panjang.   Hal ini perlu diimbangi dengan terapi psikologi, yaitu dengan melatih fungsi berpikir dari individu dengan MDD.  Salah satu terapi psikologi atau psikoterapi yang dilakukan adalah dengan CBT (Cognitive Behavior Therapy).  Melalui CBT, individu dengan MDD dilatih untuk menyelaraskan emosi, pikiran, dan perilaku negatif yang terjadi menjadi positif.  Proses ini dilakukan minimal dengan 12 sesi  sehingga terjadi perubahan yang signifikan dan menetap (ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

Daftar Pustaka

VandenBos, G.R. [Ed]. (2015). APA dictionary of psychology. 2nd eds. Washington, DC: APA.

aan het Rot, Marije. Mathew, S.J., & Charney, D.S. (2009). Neurobiological mechanisms in major depressive disorder. CMAJ, February, 3, 2009, 180(3).

Perubahan Struktur Otak Karena Depresi – I

Apa itu Depresi dan MDD?

Depression brain

Gambar 1. Aktivitas otak yang berbeda antara individu depresi dan yang sudah mengalami perbaikan (http://brainpictures.org/p/91/depression-brain/picture-91)

Ilustrasi di atas menggambarkan bagaimana otak individu dengan depresi lebih tidak aktif dibandingkan dengan individu yang sudah mengalami kesembuhan.  Oleh karena itu individu dengan depresi sudah tentu mengalami masalah dalam berpikir, mengekspresikan emosi, dan perilakunya.

Depresi dapat didefinisikan sebagai keadaan perasaan negatif, mulai dari ketidakbahagiaan dan ketidakpuasan terhadap perasaan sedih, pesimisme, dan keputusasaan yang ekstrem, serta mengganggu aktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keadaan depresi, berbagai perubahan fisik, kognitif atau berpikir, dan sosial juga cenderung terjadi bersamaan.  Hal tersebut termasuk kebiasaan makan atau tidur yang berubah, kekurangan energi atau motivasi, sulit berkonsentrasi atau membuat keputusan, dan menarik diri dari aktivitas sosial. Ini adalah gejala dari sejumlah gangguan kesehatan mental (VandenBos, 2015). .

Depresi tidak hanya terjadi pada invidu dewasa saja.  Namun anak dan remaja juga dapat mengalami depresi.  Orang tua, guru, dan teman sebaya dapat mengidentifikasi atau deteksi terjadinya depresi yang terjadi pada mereka.  Jika gangguan dengan gambaran di atas terjadi, maka secepatnya untuk diperikasakan kepada ahli yaitu psikolog dan psikiatri untuk ditangani lebih lanjut agar tidak menjadi bertambah parah.

Bila keadaan ini tidak ditangani dengan baik, maka akan menjadi komplek dimana akan mengarah kepada major depressive disorder (MDD).  Gangguan MDD secara tradisional dipandang sebagai penyakit dimana episode depresi diikuti oleh periode perubahan keadaan susana hati atau mood.  MDD pada DSM-IV-TR dan DSM-V, didefinisikan sebagai gangguan mood yang ditandai dengan kesedihan yang terus-menerus dan gejala lain dari episode depresi berat namun tanpa disertai episode mania (keadaan bahagia, aktivitas yang berlebihan, agitasi psikomotorik, kadang diikuti dengan rasa optimis yang berlebihan, munculnya waham, dan penilaian yang salah); atau kebalikannya yaitu hypomania;  atau episode depresi dan manic atau hypomanic. Keadaan ini dapat disebut juga sebagai kondisi  depresi berat (VandenBos, 2015).

Meskipun demikian, pasien yang menunjukkan tanda-tanda klinis remisi (penurunan tingkat keparahan depresi namun gangguan depresi tidak hilang) yang terus-menerus dapat terjadi kelainan neurobiologis. Kelainan ini dapat memburuk seiring berjalannya waktu, bahkan beberapa pasien mungkin mengalami depresi kronis (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009).  Hal ini menunjukkan bahwa gangguan psikologis yang berkepanjangan dapat menyebabkan terjadinya perubahan sturktur biologis atau neurobiologi dari otak.

Serupa dengan multiple sclerosis, mungkin ada variabilitas dalam perjalanan penyakit ini dari waktu ke waktu. Dalam multiple sclerosis, ada 2 pola umum perkembangan penyakit: kambuh-tingkat keparahan berkurang- dan menjadi lebih parah (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009).

Data yang ada untuk gangguan MDD menunjukkan bahwa walaupun banyak pasien mungkin memiliki varian penyakit dengan muculnya kekambuhan dan menurunnya tingkat keparahan depresi, dan mungkin beberapa menjadi lebih parah atau progressive (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009). (ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Daftar Pustaka

VandenBos, G.R. [Ed]. (2015). APA dictionary of psychology. 2nd eds. Washington, DC: APA.

aan het Rot, Marije. Mathew, S.J., & Charney, D.S. (2009). Neurobiological mechanisms in major depressive disorder. CMAJ, February, 3, 2009, 180(3).

Bagaimana Mekanisme Terjadinya Depresi pada Remaja?

Mekanisme Depresi

 

Rendahnya pencapaian akademis siswa, khususnya remaja di tingkatan SMP hingga universitas harus dilihat secara cermat.  Seringkali rendahnya pencapaian akademis tersebut selain karena adanya kasus kesulitan belajar (ADHD, Slow learner, dan lain-lain), hal tersebut juga dapat dikarenakan adanya faktor depresi.  Hal ini perlu dicermati oleh orang  tua, guru mata pelajaran, ataupun guru bimbingan konseling.

 

Proses tumbuh kembang pada remaja adalah masalah yang krusial.  Sering kali mereka berkonflik dengan lingkungan baik orang tua, teman, dan guru dalam proses mencari jati diri mereka.  Peristiwa-peristiwa negatif yang terjadi dalam hidup remaja ini seringkali dapat memicu stress dan jika tidak dapat ditanggulangi akan berlanjut kepada depresi.  Bagi remaja dengan daya tahan stress tinggi tentu hal ini mampu dioleh menjadi hal yang positif.  Namun bagi remaja dengan daya tahan stress rendah, jika tidak didukung dengan lingkungan seperti orang tua, teman, dan guru sudah tentu dapat berakibat buruk dimana mengarah kepada depresi.

 

Depresi dapat didefinisikan sebagai sebuah kondisi pikiran yang ditandai dengan suasana hati yang buruk, energi yang rendah, kehilangan minat dalam aktivitas rutin, munculnya pikiran yang tidak nyata tentang diri dan masa depan, serta penarikan diri dari lingkungan sosial.

 

Perkembagan neuropsikologi telah mampu menjelaskan bagaimana proses depresi yang terjadi. Penelitian Beck (2008) menjelaskan bagaimana temuan terbaru telah mengkombinasikan dari perilaku genetik, dan neurosains kognitif dengan akumulasi penelitian yang terintegrasi.  Penelitian telah mampu mendeskripsikan adanya hubungan yang lebih lanjut antara kemampuan berpikir (kognitif), kepribadian, dan psikologi sosial sebagaimana digambarkan dari observasi klinis, pengembangan model dari model awal kognitif yang diintgerasikan dengan tahapan pikiran otomatis, distorsi kognitif, difungsi kepercayaan, dan bias pada pemerosesan informasi.

 

Berdasarkan uraian tersebut, faktor depresi tidak hanya semata-mata karena peristiwa yang dialami oleh individu yang mengganggu proses berpikir.  Akan tetapi juga ada pengaruh biologi dan genetik dimana individu memiliki amigdala yang hipersensitif. Amigdala berfungsi di dalam fungsi otomatis dari memori, emosi,  dan persepsi terhadap ancaman dan rasa takut.   Akibatnya peristiwa yang dimaknai biasa saja oleh beberapa orang, dapat dianggap sebagai ancaman dan stressor oleh individu yang memiliki amigdala hipersensitif.

 

Beck (2008) menjelaskan bahwa model perkembangan mengidentifikasi pengalaman traumatis awal dan pembentukan disfungsi kepercayaan sebagai kejadian awal dan pemicu stresor di kemudian hari dimana hal ini sebelumnya terpendam.  Saat ini mungkin untuk membuat sketsa jalur genetik dan neurokimia yang berinteraksi dengan atau sejajar dengan variabel kognitif. Amigdala yang hipersensitif dikaitkan dengan polimorfisme genetik dan pola bias kognitif negatif dan disfungsi kepercayaan dimana hal itu merupakan faktor risiko depresi. Selanjutnya, kombinasi antara amigdala hiperaktif dan prefrontal region yang bersifat kurang aktif atau hipoaktif dikaitkan dengan penilaian kognitif yang berkurang dan terjadinya depresi. Polimorfisme genetika juga terlibat dalam reaksi berlebihan terhadap stres dan hiperkortisolemia dalam perkembangan depresi – yang mungkin terjadi karena distorsi kognitif.

 

Beck figure 1

Proses terjadinya depresi karena munculnya peristiwa negatif  (Beck, 2008)

Pada gambar 1 dijelaskan bahwa berbagai kejadian atau peristiwa dapat mengakibatkan perilaku buruk dan bias terhadap diri seorang individu.  Hal ini terintegrasi dengan pengorganisasian kemampuan berpikir (kognitif) dalam membentuk skema yaitu  kerangka atau gambaran yang membantu individu dalam mengorganisasikan informasi-informasi suatu fenomena yang diperhatikan individu.  Skema ini kemudian menjadi aktif oleh sejumlah peristiwa yang menimpa pada kerentanan dari kemampuan berpikir (cognitive vulnerability) sehingga mengarah kepada pikiran negatif yang sistematis dimana merupakan inti dari depresi (Beck, 2008).

Beck figure 2

Gambar 2. Model mekanisme depresi (Beck, 2008)

Pada gambar 2 dijelaskan bagaimana mekanisme depresi yang terjadi.  Individu dengan gen yang mudah depresi (genetic vurnerability) akan mengarakan kepada reaksi yang berlebihan dari amigdala. Reaktivitas limbik yang meningkat terhadap kejadian emosional secara signifikan memicu penyebaran sumber daya attentional yang meningkat ke kejadian semacam itu, diwujudkan oleh bias dan pemanggilan informasi negatif (reaktivitas kognitif). Fokus selektif pada aspek negatif dari pengalaman menghasilkan distorsi kognitif yang familiar seperti pembesar-pembesar, personalisasi, dan overgenerialisasi dan, akibatnya, dalam pembentukan sikap disfungsional mengenai kecukupan, akseptabilitas, dan nilai pribadi. Respons berulang terhadap interpretasi negatif bentuk isi skema kognitif (tidak dapat dicintai, tidak memadai, tidak berharga).

 

Pada saat bersamaan, interpretasi negatif terhadap pengalaman berdampak pada HPA axis dan menggerakkan siklus yang telah dijelaskan sebelumnya yang melibatkan sistem serotonergik yang terlalu aktif dan akibatnya menyebabkan depresi. HPA axis adalah sistem neuroendokrin (syaraf-hormon) tubuh yang melibatkan hypothalamus (bagian dari otak kecil, red.), kelenjar hormon pituitary, dan kelenjar adrenal (kelenjar yang terletak melekat pada bagian atas ginjal). Sistem komunikasi kompleks ini bertanggungjawab untuk menangani reaksi stress dengan mengatur produksi kortisol, sejenis hormon dan merupakan mediator rangsang syaraf.

 

Untuk memperbaiki fungsi berpikir (kognitif), neurobiologi, dan neurokimia otak dari remaja yang mengalami depresi salah satunya adalah dengan terapi CBT.  Melalui sesi terapi CBT, remaja akan dilatih dalam melakukan problem solving dan memperbaiki kesalahan berpikir (distorsi kognitif) terhadap masalah yang dihadapi sehingga depresi yang dialami akan menurun dan kembali normal.  Proses dari CBT ini akan melatih kerja prefrontal cortex sebagai fungsi utama berpikir dan logika serta menekan kerja dari amigdala yang berfungsi terhadap emosi, memori, dan persepsi ancaman dan rasa takut. Dengan memperbaiki pola pikir melalui CBT, maka individu yang mengalami depresi akan memperbaiki kondisi psikologisnya yang secara langsung akan juga memperbaiki fisologi dari invidu tersebut.

Daftar Pustaka

Beck, A.T., (2008). Evolution of cognitive model of depression. Am J Psychiatry Beck; AiA:1–9