SLOW LEARNER DAN PENANGANAN DI SEKOLAH FORMAL

Seminar Slow Learner

Dr. (cndt). Melani Arnaldi, S.Psi., M.Psi., Psi. sebagai pembicara tunggal di acara “Seminar Introduction to Learning Disability & Neuropsychology: Kupas Tuntas Slow Learner”, Sabtu, 19 Agustus 2017 (Klinik Psikonurologi Hang Lekiu)

Secara umum anak slow learner dapat diketahui dari pencapaian skow IQ berkisar 70-90.  Dimana anak dengan slow learner sering kali mengalami kegagalan dalam pencapaian akademisnya.  Mereka juga sering kalah bersaing dengan teman sebayanya.  Akibatnya anak slow learner dapat mengalami gangguan emosional dan perilaku.  Di sisi lain, anak slow learner tidak dapat dibedakan secara fisik dengan anak normal.

Hal tersebut disampaikan oleh Dr. (cndt). Melani Arnaldi, S.Psi., M.Psi.,Psi. dalam Seminar Introduction to  Learning Disability: Kupas Tuntas Slow Learner”, Sabtu, 19 Agutus 2017 di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu.  Acara ini dihadiri oleh perwakilan guru dan psikolog dari sekolah dasar dan PKBM atau Homeschooling di Jakarta Selatan.  Perwakilan sekolah tersebut anatara lain SD Gemala Ananda, SD Islam Al Azhar 1 (Pusat), PKBM Kramat Pela, PKBM Pelita, PKBM Kalibata, dan Homeschooling Edukasi.

IMG20170819102055.jpg

Foto bersama peserta seminar dengan Dr. (cndt). Melani Arnaldi, S.Psi.,M.Psi.,Psi., Sabtu, 19 Agustus 2017 (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Dalam acara tersebut disampaikan bahwa penyebab terjadinya slow learner karena adanya keterlambatan perkembangan sejak dalamkandungan, dimana biasanya hal ini terjadi karena genetik atau keturunan.  Lebih lanjut, slow learner akan menunjukkan gangguan dalam kelemahan daya tangkap indera dan lambatnya kecepatan proses informasi di otak.  Namun biasanya anak slow learner akan mengalami perbaikan saat usianya mencapai di atas 14 tahun.  Mereka akan mengalami pencapaian yang sama dengan anak normal lainnya pada usia tersebut.

Oleh karena itu dalam menghadapi anak slow learner, guru di sekolah sudah selayaknya memahami kondisi anak tersebut.  Proses remedial yang dilakukan di sekolah pun lebih berat dibandingkan anak lainnya.  Hal ini terjadi karena anak slow learner mengalami masalah dalam proses pemanggilan informasi (retrieval) dan recall memory.  Meskipun anak slow learner secara umum mampu mempertahankan konsentrasi dan tampak lebih tekun, namun kesulitan dalam hal pengolahan informasi.  Sehingga guru harus mampu menyederhanakan bahasa dan kosa kata yang digunakan kepada anak slow learner agar mereka mampu menangkap kata kunci dalam proses belajar menjadi lebih mudah.  Selain itu juga dalam pemberian tugas kepada anak slow learner diharapkan agar guru mempermudah mereka misalnya tugas yang diberikan lebih sedikit karena memang mereka mengalami masalah dalam pemerosesan informasi.

Berkaitan dengan kebijakan inklusi dan juga penerimaan siswa baru, Melani Arnaldi menyampaikan bahwa sering kali  sekolah kecolongan dengan menerima anak slow learner.  Hal ini terjadi karena proses seleksi yang tidak ketat.  Di sisi lain juga anak slow learner biasanya menampakkan kegagalan dalam akademis saat kelas 3 SD.  Oleh karena itu, sudah selayaknya sekolah dengan kebijakan inklusi memberikan standar yang berbeda dalam pencapaian KKM kepada anak slow learner dibandingkan anak normal.

IMG20170819093041.jpg

Pemutaran video pengenalan slow learner dan video kasus intervensi slow learner (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu). 

Dalam acara tersebut disajikan pula pemutaran video pengenalan slow learner dan deteksi dini gangguan kesulitan belajar oleh Agus Syarifudin, S.Si, asisten Riset di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu. Peserta antusias dalam sesi tanya jawab dalam kegiatan seminar ini yang dibawakan oleh Melani Arnaldi sebagai pemibicara tunggal.  Para guru menanyakan bagaimana deteksi dini, trik dan tips menanangani anak slow learner di kelas khususnya di sekolah dasar.  Dan juga bagaimana menghadapi orang tua agar dibantu proses belajar anak slow learner di rumah.     (Ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

AUTISME: CIRI DAN GANGGUAN PADA FUNGSI KOGNITIF SOSIAL

Kanner (1943) melihat gangguan autisme berupa perilaku atau fenotip yang lebih variatif dari gangguan dalam komunikasi sosial dan atau kesulitan dalam perilaku (dalam Volkmar, Lord, Bailey, Schultz, & Klin, 2004).

Autisme adalah gangguan yang terjadi dimana mengalami kegagalan dalam interkasi sosial dan komunikasi.  Hal ini berkaitan dengan kemampuan dalam kognisi atau berpikir secara sosial dimana kurangnya kesadaran diri terhadap diri sendiri dan juga kepada orang di sekitarnya (Frith & Frith, 2007).

Sejumlah besar penelitian menunjukkan bahwa individu dengan ASD (Autism Spectrum Disorder) menunjukkan karakteristik dan awal munculnya buruknya dalam penggunaan informasi visual untuk memahami maksud dan keadaan mental orang lain, serta mengkoordinasikan perhatian secara bersamaan.

Di sisi lain, individu dengan ASD memiliki hambatan dalam kemampuan sosial ini.  Mereka kurang tanggap terhadap sinyal sosial yang berasal dari lingkungan.  Sinyal ini memungkinkan manusia untuk belajar tentang dunia dari orang lain, untuk belajar tentang orang lain, dan untuk menciptakan dunia sosial secara bersama. Sinyal sosial dapat diproses secara otomatis oleh penerima dan memungkinkan secara tidak sadar yang dipancarkan oleh pengirim, yaitu orang lain. Sinyal ini non verbal dan bertanggung jawab untuk pembelajaran sosial di tahun pertama kehidupan. Sinyal sosial juga bisa diproses secara sadar dan ini memungkinkan pemrosesan otomatis dimodulasi dan atau ditolak. Bukti untuk proses sosial tingkat tinggi ini sangatlah banyak sejak usia sekitar 18 bulan untuk individu normal (Frith & Frith, 2007).  Oleh karena itu, deteksi anak dengan autisme dapat dilakukan sejak dini dimana sang anak kesulitan dalam menangkap sinyal sosial dari orang lain.

Ciri Anak Dengan Autisme

Terkait dengan ketidakmampuan dalam berkomunikasi dan fungsi sosial yang terjadi pada anak dengan autisme, berikut ini adalah ciri atau pendektian anak dengan austime

Ciri Autism Spectrum Disorder

  1. Sebanyak enam (atau lebih) item dari (1), (2), dan (3), dengan paling sedikit dua item dari point (1), dan masing-masing satu item dari point (2) dan (3):

(1) Penurunan kualitas dalam interaksi sosial, sebagaimana ditunjukkan oleh paling sedikit dua hal berikut:

(A) gangguan yang ditandai dalam penggunaan beberapa perilaku nonverbal seperti tatapan mata-mata, ekspresi wajah, postur tubuh, dan gerak tubuh untuk mengatur interaksi sosial.

(B) kegagalan untuk mengembangkan hubungan dengan rekan sebaya yang sesuai dengan  tingkat perkembangan

(C) Kurangnya keinginan spontan untuk berbagi kesenangan, minat, atau prestasi dengan orang lain (misalnya karena kurangnya menunjukkan, membawa, atau menunjukkan objek yang diminati)

(D) kurangnya timbal balik sosial atau emosional

(2) Gangguan kualitatif dalam komunikasi sebagaimana terwujud oleh paling sedikit salah satu dari berikut ini:

(A) Keterlambatan atau kurangnya secara keseluruhan dalam pengembangan bahasa lisan (tidak disertai upaya untuk mengkompensasi melalui mode komunikasi alternatif seperti isyarat atau mime).

(B) Pada individu dengan suara yang memadai, gangguan yang ditandai dalam kemampuan untuk memulai atau mempertahankan percakapan dengan orang lain.

(C) Penggunaan bahasa-bahasa atau bahasa istimewa yang khas dan berulang (repetitive)

(D) Kurangnya kemampuan dalam permainan berkaitan dengan kepercayaan yang bervariasi dan spontan atau permainan imitatif sosial yang sesuai dengan tingkat perkembangan.

(3) Membatasi pola perilaku, minat, dan kegiatan yang berulang serta khas, seperti yang ditunjukkan oleh sekurang-kurangnya salah satu dari berikut ini:

(A) Meliputi keasyikan dengan satu atau lebih pola minat yang khas  dan terbatas  dimana  tidak normal, baik dalam intensitas maupun fokus perhatian.

(B) Ketidakpatuhan terhadap rutinitas atau ritual yang sifatnya non fungsional tertentu

(C) Perilaku motorik yang selalu berulang (misalnya gerakan tangan atau jari mengepakkan atau memutar, atau gerakan tubuh utuh yang kompleks)

(D) Keasyikan yang terus-menerus dengan bagian-bagian benda

B. Keterlambatan atau fungsi abnormal pada setidaknya satu dari area berikut, dengan onset sebelum 3 tahun: (1) interaksi sosial, (2) bahasa seperti yang digunakan dalam komunikasi sosial, atau (3) bermain simbolis atau imajinatif.

C. Gangguan ini tidak diperhitungkan dengan baik oleh Rett’s Disorder atau gangguan disintegratif masa kanak-kanak.

American Psychiatric Association. (DSM-IV-TR). Washington, DC, 2000:75 (dalam Johnson, Myers,  &  Council on Children With Disabilities, 2007).

Ciri-Ciri Asperger Syndrome

A. Kerusakan kualitatif dalam interaksi sosial, sebagaimana ditunjukkan oleh paling sedikit dua dari hal berikut ini:

(1) Gangguan yang ditandai dalam penggunaan beberapa perilaku nonverbal seperti tatapan mata-mata, ekspresi wajah, postur tubuh, dan gerak tubuh untuk mengatur interaksi sosial.

(2) Kegagalan untuk mengembangkan hubungan sebaya yang sesuai dengan tingkat perkembangan

(3) Kurangnya keinginan spontan untuk berbagi kesenangan, minat, atau prestasi dengan orang lain (misalnya karena kurangnya menunjukkan, membawa, atau menunjukkan objek yang diminati orang lain)

(4) Kurangnya timbal balik sosial atau emosional

B. Pola perilaku, minat, dan aktivitas yang terbatas, berulang, dan memiliki ciri khusus, seperti yang ditunjukkan sekurang-kurangnya oleh 1 hal berikut:

(1) Meliputi kesibukan dengan satu atau beberapa pola kepentingan yang khusus dan pembatasan yang abnormal baik dalam intensitas maupun fokus.

(2) Ketidakpatuhan terhadap rutinitas atau ritual nonfungsional tertentu

(3) Gaya motorik yang khas dan berulang (misalnya gerakan tangan atau jari mengepakkan atau memutar, atau gerakan tubuh utuh yang kompleks)

(4) Keasyikan yang terus-menerus dengan bagian-bagian benda

C. Gangguan ini menyebabkan kerusakan klinis yang signifikan di area kerja sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya.

D. Tidak ada penundaan umum yang signifikan secara klinis dalam bahasa (misalnya kata tunggal yang digunakan pada usia 2 tahun, frase komunikatif yang digunakan pada usia 3 tahun)

E. Tidak ada keterlambatan perkembangan kognitif yang signifikan secara klinis atau dalam pengembangan keterampilan membantu diri yang sesuai dengan usia, perilaku adaptif (selain dalam hal interaksi sosial), dan keingintahuan tentang lingkungan di masa kecil.

F. Kriteria tidak ditemukan pada Gangguan Perkembangan Pervasif atau Skizofrenia spesifik lainnya.

American Psychiatric Association. DSM-IV-TR. Washington, DC,  2000, hal. 75 (dalam Johnson, Myers,  &  Council on Children With Disabilities, 2007).

Autisme Dan Fungsi Otak Sosial

Berdasarkan dari uraian di atas terkait dengan ciri-ciri austime, maka jelaslah adanya gangguan dari fungsi kerja otak.  Secara umum peneliti melihat adanya gangguan kognisi atau berpikir secara fungsi sosial yang dialami oleh individu dengan autisme.  Hal ini ditunjukkan dengan ketidakmampuan individu dengan auitisem dalam menafsirkan sinyal sosial dari lingkungan.

Berikut ini adalah bagian otak yang berfungsi dalam kognitif sosial yaitu mengolah informasi sosial.  Bagian otak tersebut, yaitu medial prefrontal cortex (MPFC), Anterior Cingulate Cortex (ACC), Anterior Insula (AI), Inferior Frontal Gyrus (IFG), Inter Parietal Sulcus (IPS), Amygdala, Temporo-Parietal Junction (TPJ), posterios Superior Temporal Sulcus (pSTS) (Frith & Frith, 2007).

Otak Sosial

Gambar Bagian Otak dan Fungsi Kognitif Sosial (Frith & Frith, 2007).

Berdasarkan gambar di atas bagian otak dan fungsi yang terkait dengan kognisi sosial yaitu:

  1. Amigdala adalah struktur kompleks yang terbenam di lobus temporal anterior terlibat dalam menafsirkan nilai-nilai sosial, misalnya, kepercayaan terhadap objek seperti
  2. Medial Prefrontal Cotex (MPFC) secara konsisten diaktifkan saat memikirkan keadaan mental diri dan orang lain.
  3. Aktivitas di Anterior Cingulate Cortex (ACC) dan Anterior Insula (AI), yang berada di bawah bagian antara lobus frontal dan temporal, dikaitkan dengan pengalaman emosi seperti rasa sakit dan jijik pada diri sendiri dan orang lain.
  4. Aktivitas pada Inferios Frontal Gyrus (IFG) dan Intra Parietal Sulcus (IPS) terjadi sebagai respons terhadap tindakan eksekusi dan observasi tindakan.
  5. Aktivitas di Temporo Parietal Junction (TPJ) nampaknya berhubungan dengan pengambilan perspektif, baik spasial dan mental, dan karenanya dengan pemahaman kepercayaan yang salah.
  6. Aktivitas di posterios Superior Temporal Sulcus (pSTS) ditimbulkan oleh observasi aksi dan saat membaca maksud dari tindakan (Frith & Frith, 2007).

Oleh karena itu intervensi anak autisme dilakukan sebaiknya sejak usia dini dimana tumbuh kembang biologis, khususnya otak terjadi sangat pesat.  Pelatihan yang dilakukan adalah dengan merangsang sensori indera agar peka terhadap sinyal sosial serta bagaimana  mengaktifkan fungsi kerja otak sosial dalam pengolahan sinyal sosial dari lingkungan.  Terapi yang dapat dilakukan untuk intervensi anak dengan autisme adalah fisioterapi sensori motorik, terapi sensori integrasi, dan terapi metakognitif. Terapi yang terintegrasi dan menyeluruh ini adalah kunci dari keberhasilan terhadap perbaikan dan kemajuan tumbuh kembang pada anak dengan autisme.

 

Referensi

Frith, C.D. & Frith, U.  Social Cognition in Humans. Current Biology, 17(16): R724–R732, DOI 10.1016/j.cub.2007.05.068

Johnson, C.P. Myers, S.M. &  Council on Children With Disabilities.(2007). Identification and Evaluation of Children With Autism Spectrum Disorders.  PEDIATRICS, 120(5): 1183-1215.

Volkmar, F.R., Lord, C. Bailey, A. Schultz, R.T., & Klin, A. (2004). Autism and pervasive developmental disorders. Journal of Child Psychology and Psychiatry 45(1):135–170.

Seminar Kupas Tuntas Slow Learner

Publikasi 19 Agustus 2017--Iklan

Ikuti Seminar Kupas Tuntas Slow Learner

Ketahui lebih dalam tentang penyebab slow learner, ciri-ciri anak slow learner, dan bagaimana penanganannya di rumah dan sekolah.

Bermanfaat bagi orang tua dan guru di sekolah dasar yang menangani anak slow learner serta pencapaian akademis yang rendah serta cukup mengkhawatirkan.

Untuk informasi dan keterangan lebih lanjut

Agus (0856-1785-391)  & Muhbikun (0822-1338-6726) [WA/SMS/TELP]

AUTISME DAN GANGGUAN PERKEMBANGAN NEUROBIOLOGI OTAK

Sensory Processing Disorder (SPD) pada anak bawah tiga tahun adalah fenomena yang akan merujuk kepada berbagai gangguan.  Salah satu gangguan yang bermuara dari SPD adalah gangguan spektrum autis (Autism Spectrum Disorder / ASD).  Di sisi lain, kelompok ASD yang masih mampu belajar namun dimasukkan kepada dalam gangguan kesulitan belajar adalah PDD-NOS dan ASPERGER.

Prevalensi individu autis tidak dapat dianggap remeh.  Bahkan fenomena ini cenderung menjadi epidemi.  UNESCO menyebutkan pada tahun 2011 lalu memperkirakan bahwa ada 35 juta orang dengan autisme di dunia. Ini berarti rata-rata ada enam orang dengan autis per 1000 orang dari populasi dunia. Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan pada tahun 2013 pernah menduga jumlah anak autis di Indonesia sekitar 112 ribu dengan rentang 5-19 tahun. Angka ini keluar berdasarkan hitungan prevalensi autis sebesar 1,68 per 1000 anak di bawah 15 tahun. Dengan jumlah anak usia 5-19 tahun di Indonesia sejumlah sekitar 66 juta menurut Badan Pusat Statistik pada 2010, didapatlah angka 112 ribu tersebut (Priherdityo, 2016).

Bagaimana autisme dan kaitannya dengan gangguan yang terjadi pada otak kini telah diungkap oleh para peneliti.  Salah satu penelitian yang menceritakan gangguan pada otak terkait dengan autisme dilakukan oleh Emanuel DiCicco-Bloom, Catherine Lord,  Lonnie Zwaigenbaum,  Eric Courchesne,  Stephen R. Dager,  Christoph Schmitz,  Robert T. Schultz,  Jacqueline Crawley, dan Larry J. Young di tahun 2006 yang berjudul “The Developmental Neurobiology of Autism Spectrum Disorder” dan diterbitkan di The Journal of Neuroscience.

Menurut DiCicco-Bloom, et al. (2006) gangguan spektrum autisme (ASD) adalah salah satu gangguan paling parah pada masa kanak-kanak dalam hal prevalensi, morbiditas, hasil, dampak pada keluarga, dan biaya kepada masyarakat.  Lebih lanjut penelitian DiCicco-Bloom  et al. Melihat ASD sekarang diakui sebagai gangguan perkembangan otak prenatal (pada masa kehamilan) dan pasca kelahiran.

Selama masa kanak-kanak, volume otak dengan ASD menunjukkan pembesaran abnormal, namun perbedaan ini sedikit berkurang pada masa kanak-kanak atau masa remaja. Pola ini baru saja terdeteksi baru-baru ini karena sebagian besar sejarah 70 tahunnya, kelainan otak ASD dipandang statis. Dengan demikian, kemungkinan kelainan pertumbuhan usia tergantung tidak dihargai (Courchesne, 2004 dalam DiCicco-Bloom et. al., 2006).

Penelitian DiCicco-Bloom et al., (2006) menyebutkan adanya kelainan pertumbuhan kompleks dari cerebellum, cerebrum, dan amigdala dan kemungkinan perbedaan hippocampus. Perbedaan usia terkait dalam pertumbuhan wilayah otak tertentu juga terlihat dalam meta-analisis.

Dijelaskan lebih lanjut oleh DiCicco-Bloom  et al., (2006) ukuran otak telah didefinisikan dengan menggunakan lingkar kepala, indikator volume yang dapat diandalkan terutama pada masa kanak-kanak; Perhitungan volumetrik menggunakan magnetic resonance imaging (MRI); dan bobot otak postmortem (setelah kematian).

Saat lahir, lingkar kepala rata-rata pada pasien ASD kira-kira seperti individu normal. Namun, pada usia 3-4 tahun, ukuran otak di ASD melebihi rata-rata normal sebesar 10% berdasarkan studi MRI in vivo dan meta-analisis berat otak postmortem dan morfometri MRI (Courchesne et al., 2001; Sparks et al., 2001; Sparks et al., ., 2002; Redcay dan Courchesne, 2005 dalam DiCicco-Bloom et al., 2006).

DiCicco-Bloom et al., (2006) menjelaskan bahwa pembesaran otak dari individu ASD, dimana seseorang mungkin telah memperkirakan adanya peningkatan penanda neuronal yang disebabkan oleh kepadatan neuronal atau synaptic yang meningkat. Namun, penanda ini tidak seperti pada individu normal.  Pada individu ASD indikator tersebut menunjukkan adanya penurunan pada anak berusia 3 sampai 4 tahun (Friedman et al., 2003 dalam DiCicco-Bloom et al., 2006).

Kombinasi penanda molekul yang berubah dan peningkatan materi putih dan abu-abu dapat mencerminkan perubahan pada:

(1) jumlah dan ukuran neuron dan glia;

(2) penjabaran akson, dendrit dan sinapsis;

(3) Pemangkasan porodendritik;

(4) kematian sel terprogram;

(5) produksi kolom kortikal;

(6) mielinasi.

Perbedaan atau gangguan pada biologis otak dari individu dengan ASD tentu berpengaruh terhadap fungsi kerja otak ataupun psikologisnya. Tercatat beberapa kemampuan yang terganggu antara lain bahasa, perhatian, komunikasi, dan interaksi sosial. Banyak penelitian pemetaan otak dengan fMRI yang berfokus interaksi sosial. Penelitian fMRI paling awal difokuskan pada persepsi sosial, seperti pengenalan orang melalui wajah. Karya yang lebih baru telah meneliti persepsi ekspresi wajah, perhatian bersama, empati, dan kognisi sosial.  Hal ini di dapat dijelaskan dari gambar di bawah ini

ASD

Keterangan gambar.

Fungsional kelainan MRI diamati pada ASD. A,  MRI koroner ini menunjukkan belahan otak di atas, otak kecil di bawah, dan lingkaran di atas gyrus fusiform dari lobus temporal. Contohnya menggambarkan temuan hipoaktivasi fusiform gyrus yang sering dihadapi pada pria remaja dengan ASD (kanan) dibandingkan dengan usia dan IQ yang sesuai dengan kontrol sehat pria (kiri). Sinyal merah / kuning menunjukkan daerah otak yang secara signifikan lebih aktif selama persepsi wajah; Sinyal di daerah pertunjukan biru lebih aktif selama persepsi objek nonface. Perhatikan kurangnya aktivasi wajah pada anak laki-laki dengan ASD tapi rata-rata tingkat aktivasi objek bukan wajah.

B, diagram skematik otak dari orientasi lateral dan medial yang menggambarkan luas area otak yang ditemukan secara hypoactive di ASD selama berbagai tugas kognitif dan persepsi yang secara eksplisit bersifat sosial. Beberapa bukti menunjukkan bahwa daerah-daerah ini terkait untuk membentuk jaringan “otak sosial” (DiCicco-Bloom et al., 2006).

Keterangan

IFG, [gyrus frontal inferior]  dimana hipoakf saat peniruan ekspresi wajah;

PSTS, [Posterior sulcus temporal superior] dimana hipoaktif atau aktivitasnya rendah selama persepsi ekspresi wajah dan tatapan mata);

SFG [superior frontal gyrus] dimana hipoaktif atau aktivitasnya rendah selama teori tugas pikiran, yaitu, ketika mengambil perspektif orang lain;

A [amigdala]  dimana hipoaktif atau rendah aktivitasnya selama berbagai tugas sosial;

FG [fusiform gyrus] juga dikenal sebagai area wajah fusiform dan hipoaktif atau rendah aktivitasnya selama persepsi identitas pribadi (Schultz, 2005; Schultz and Robins, 2005 dalam DiCicco-Bloom et al., 2006).

Studi ini menunjukkan bahwa defisit keterampilan ASD disertai oleh berkurangnya aktivitas saraf di daerah yang biasanya mengatur domain fungsional spesifik. Sebagai contoh, defisit dalam perhatian bersama dikaitkan dengan penurunan aktivitas pada sulkus temporal superior posterior (Pelphrey et al., 2005 DiCicco-Bloom et al., 2006), sedangkan defisit dalam persepsi sosial dan atau keterlibatan emosional serta gairah dikaitkan dengan aktivitas yang berkurang pada amigdala (Baron- Cohen et al., 1999; Critchley et al., 2000; Pierce Et al., 2001 DiCicco-Bloom et al., 2006).

Dari uraian tersebut jelas bahwa gangguan biologis pada otak diantaranya pada cerebellum dapat mengarah kepada ASD dimana terjadi gangguan perilaku dan kognitif (fungsi berpikir).  Hal ini juga berpengaruh pada perkembangan otak di awal tumbuh kembang anak khususnya pada otak depan dan cerebral cortex yang dapat diketahui melalui pencitraan otak khususnya fMRI. (Ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

Referensi

DiCicco-Bloom, E., E. Lord, L. Zwaigenbaum, E. Courchesne, S.R. Dager, C. Schmitz, R.T. Schultz, J. Crawley, & L.J. Young. (2006). The developmental neurobiology of autism spectrum disorder. The Journal of Neuroscience, 26(26):6897– 6906

Priherdityo, E. (2016). Indonesia Masih ‘Gelap’ Tentang Autisme. CNN INDONESIA, Kamis, 07/04/2016. Diakses 18 Juli 2017, https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20160407160237-255-122409/indonesia-masih-gelap-tentang-autisme/

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H

WhatsApp Image 2017-06-25 at 09.17.01

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu dan PKBM (Homeschooling) Metakognisi mengucapkan:

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H / 2017

Taqoballahuminna Waminkum.

Mohon maaf lahir dan bathin. 

 

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu membuka pelayanan kembali pada Rabu, 5 Juli 2017.

Untuk informasi dan perjanjian pelayanan dapat menghubungi sdr Agus (08561785391)

 

 

 

 

Kelulusan Paket A dan Paket B dari PKBM Metakognisi Tahun Ajaran 2016-2017 Mencapai 100%

Tahun ajaran 2016/2017 telah berakhir dan ditandai dengan kenaikan kelas serta kelulusan peserta didik PKBM atau Homeschooling  Metakognisi di Paket A, B, dan C.  PKBM atau Homeschooling Metakognisi adalah lembaga penyelenggara pendidikan alternatif bagi anak kesulitan belajar di bawah supervisi Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu.

Setelah kelulusan Paket C atau setara dengan SMA di bulan Mei, maka di bulan Juni ini, PKBM Metakognisi juga meluluskan peserta didik di tingkat Paket A dan B.  Dimana Paket A atau setara dengan SD pada tahun ajaran ini meluluskan 3 peserta didik dan Paket B atau setara dengan SMP meluluskan 3 peserta didik.

P_20170401_090445.jpg

Suasana saat ujian sekolah dari PKBM Metakognisi di SDN Ragunan 07 Pagi (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

IMG-20170516-WA0042

Suasana ujian sekolah sebagai penentu kelulusan dengan peserta dari PKBM Metakognisi (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Pengumuman kelulusan Paket B atau setara SMP dilakukan pada 5 Juni 2017 dan kelulusan Paket A atau setara SD dilakukan pada  14 Juni 2017.  Pengumuman kelulusan dilakukan di PKBM Metakognisi atau Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu dengan presentasi kelulusan peserta didik Paket A dan Paket B adalah 100%.

Kerja keras tutor dan peserta didik paket A dan B telah terbayarkan dengan kelulusan yang mencapai 100%.  Dimana syarat kelulusan peserta didik adalah tidak ada angka di bawah 60 untuk rata-rata semua mata pelajaran, tidak ada angka 55 atau kurang di setiap mata pelajaran, serta mengikuti ujian nasional berbasis komputer (UNBK) untuk Paket B dan USMBD untuk Paket A.

Selamat kepada peserta didik PKBM atau Homeschooling Metakognisi untuk tingkatan SMP dan SD.  Semoga sukses di tingkat yang selanjutnya! (ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Gangguan Bicara dan Berbahasa pada Anak Keterlambatan Bicara

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu telah mengadakan seminar Speech Delay atau Keterlambatan Bicara dalam rangkaian “Seminar Introduction to Learning Disability and Neurpscyhology “ pada Sabtu, 12 Februari 2017.

 

Acara tersebut di hadiri oleh Guru PAUD, TK, SD, dan mahasiswa Fakultas Psikologi dari UIN Syarif Hdayatullah Jakarta.   Acara ini cukup mendapat respon yang positif dari peserta.  Mereka cukup antusias mengikuti penjelasan dari Dr. (candt). Melani Arnaldi, M.Psi., Psi. sebagai pembicara utama di seminar tersebut.

WhatsApp Image 2017-05-28 at 08.37.19

Foto bersama Dr. (candt). Melani Arnaldi, M.Psi., Psi bersama peserta seminar “Speech Delay (Keterlambatan Bicara) di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Dalam acara ini dijelaskan bahwa keterlambatan bicara adalah salah satu deteksi dari gangguan tumbuh kembang pada anak dimana dapat bermuara kepada berbagai jenis gangguan pada anak.  Keterlambagan bicara pada anak usia dini dapat merujuk kepada gangguan ADHD, Slow learner, Autisme, Gangguan Pendengaran atau tuna rungu, dan lain-lain. Oleh karena itu deteksi dini anak yang mengalami keterlambatan bicara atau speech delay menjadi penting bagi guru PAUD, TK, ataupun orang tua agar dapat diantisipasi dengan merujuk kepada ahli sejak dini.

 

Dijelaskan oleh Dr. (candt). Melani Arnaldi, M.Psi., Psi., keterlambatan bicara adalah hambatan bicara yang terjadi akibat adanya gangguan pada kemampuan bicara. Kemampuan bicara tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengeluarkan suara tetapi juga berkaitan dengan kemampuan dalam memahami isi pembicaraan.

WhatsApp Image 2017-05-28 at 08.37.19 (1)

Peserta seminar Speech Delay (Keterlambatan Bicara) antusia dalam sesi testimoni dan berbagi pengalaman menghadapi anak keterlambatan bicara (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Secara umum, keterlambatan bicara terdiri atas dua gangguan yaitu gangguan berbicara dan gangguan berbahasa.  Oleh karena itu guru PAUD, TK ataupun SD pada kelas bawah harus peka terhadap permasalahan ini.  Ciri dari gangguan tersebut dapat dijelaskan di bawah ini.

Neuropsikologi Berbahasa

Neuropsikologi dalam berbahasa dan aktivitas lobus di otak terkait dengan aktivitas bicara dan berbahasa (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Pada gangguan berbicara ditandai dengan:

  1. Pengucapan kata yang salah dan tidak sesuai dengan perkembangan usia
  2. Menunjukkan adanya ketidaklancaran dalam berbahasa
  3. Memiliki kualitas suara yang buruk
  4. Berbicara dengan suara keras atau pelan yang sangat berlebihan

 

Sedangkan pada kasus gangguan berbahasa dapat ditandai dengan:

  1. Adanya permasalahan dari berbahasa
    1. Phonology
    2. Morphology
    3. Syntax
  2. Adanya Permasalahan Isi dari Bahasa (semantik)
  3. Adanya masalah dalam penggunaan bahasa (pragmatik)
  4. Kosakata yang minim
  5. Menunjukkan pembentukan konsep yang lemah
  6. Tidak memahami nuansa, humor, dan bahasa non verbal
  7. Memiliki masalah dalam menyampaikan atau berbicara dengan orang lain

Dari gambar di atas terlihat bagaimana aktivitas dari otak terkait dengan kemampuan berbicara dan berbahasa anak.  Fungsi dari bagian-bagian inilah yang menjadi landasan dalam terapi terhadap anak keterlambatan bicara.

Kemampuan Psikologis dalam berbahasa

Fungsi psikologis yang terlibat dalam berbicara dan berbahasa dari seorang anak (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Dari gambar di atas terlihat bagaimana fungsi psikologis juga berperan penting dalam keterampilan berbicara dan berbahasa dari seorang anak.  Self-concept dan theory of mind adalah salah satu fungsi psikologis yang penting dalam melatih kemampuan berbicara dan berbahasa dari seorang anak.  Kemampuan ini akan merujuk kepada kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi dimana anak sudah memiliki kepercayaan diri untuk berkomunikasi dengan orang sekitarnya.

Oleh karena itu salah satu cara yang dapat dilakukan oleh guru PAUD, TK, SD dan orang tua dalam melatih kemampuan berbicara dan berbahasa dari anak usia dini adalah dengan terapi mendongeng.  Dijelaskan bahwa mendongeng mengaktifkan area cortex, yaitu area frontal cortex, motor cortex,  sensory cortex dan broca, serta wrenick.  Mendongeng mengaktifkan motor, auditoy, somato sensory, dan indera visual dimana anak lebih mudah mengingat dibandingkan membaca buku.  Mendongeng menghasilkan motivasi untuk menggerakan tindakan pada anak dan hormon dompamine. Terjadinya Neural Coupling dimana pendengar menerjemahkan cerita ke dalam ide atau pengertiannya sendiri.  Intonasi dan percikan kata-kata saat medongeng memudahkan otak anak untuk membayangkan serta mengelaborasi cerita dan melatih berbahasa.  Mendongeng menggerakkan emosi, menghasilkan ikatan antara pembaca dan karakter. Mendongeng juga menciptakan karakter, dan otak anak dilatih untuk mengidentifikasi karakter pada cerita.

Selain itu, guru dan orang tua dalam melatih kemampuan berbahasa dari anak usia dini juga harus memperhatikan karakteristik anak.  Anak masih berkarakter egosentris atau masih mementingkan dirinya sendiri.  Pendidik termasuk orang tua harus mampu mengeluarkan anak dari kehidupan egosentris dengan pembatasan sikap dan perilaku yang tegas.  Pendidik harus mampu memainkan karakter otoriter, permisif, dan demokrasi dalam situasi yang berbeda sesuai dengan konteks yang ada.  Sehingga pendidik harus berperilaku lentur atau fleksibel dalam menghadapi anak.  Selain itu aktivitas pembelajaran bahasa dilakukan dengan mendongeng ataupun media komunikasi yang menarik (ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)