MEMORI DAN KERJA OTAK

Sering kali kita teringat peristiwa masa lalu saat duduk santai.  Kenangan atau informasi tersebut dapat dengan mudah kita ingat kembali, namun ada juga yang mudah kita lupakan sehingga sulit untuk dipanggil kembali.  Begitu pula dengan anak saat melakukan ujian.  Ada yang mudah mengingat dan ada juga yang sulit meski sudah di latih berulang-ulang.  Bagaimana ini terjadi?  Inilah kerja dari memori yang berproses di otak.

Memori harus dianggap sebagai kumpulan kemampuan yang didukung oleh seperangkat otak dan sistem kognitif yang beroperasi secara kooperatif.  Setiap sistem dari bagian otak membuat kontribusi fungsional yang berbeda.

Memori adalah kelompok mekanisme atau proses yang pengalaman membentuk kita, mengubah otak kita dan perilaku kita. Ada pepatah dimana “Hidup adalah memori kecuali untuk saat ini yang berlalu begitu cepat sehingga kita tidak dapat menangkapnya ketika berlalu.”

Oleh karena itu memori bertujuan untuk memegang rincian kehidupan sehari-hari, seperti mengingat untuk mengambil kunci yang kita miliki, baju atau mantel, atau makan siang, mengingat di mana kami parkir mobil, mengingat dijadwalkan janji, juga untuk menyimpan informasi dalam pikiran untuk hanya dalam waktu singkat.

Kerja Memori

Secara umum informasi dalam memori dilakukan proses encoding, consolidation dan storage, serta retrieval.  Untuk memahami memori, dengan tahapan proses yang berbeda yang terlibat dalam memori  yaitu kenangan harus diciptakan, kenangan harus disimpan / dipertahankan lebih lama, kenangan dapat dipanggil kembali.

Defisit dalam memori terlihat di beberapa penundaan yang panjang setelah belajar dan dapat mencerminkan penurunan dalam tahap memori ini. Penurunan encoding awal kenangan bisa mencegah informasi  untuk diproses pada tahapan awal.  Penurunan dalam storage (penyimpanan), maintainance (pemeliharaan), atau consolidation (konsolidasi) kenangan dapat menyebabkan informasi meluruh secara abnormal dan cepat seiring waktu.

memory

Diagram Memori dan Kerja Otak. Diolah dari Banich & Compton (2011)

Bagian Otak Terkait Kerja Memori

Kerja memori tidak spesifik hanya di satu bagian otak saja.  Seperti tampak pada gambar di atas, beberapa bagian otak bekerja sama dalam pemerosesan informasi ataupun memori.  Terkait pemerosesan memori, bagian otak tersebut adalah Parietal kotek bagian kiri, Basal ganglia, amigdala, anterior temporal, prefrontal cortex, dan hippocampus.  Bagian-bagian tersebut saling bekerja sama dan dalam waktu yang bersamaan saat mengolah informasi.  Kerja mereka tidak terpisahkan dan saling melengkapi.

Kerja otak terkait memori dapat dipelajari ketika otak mengalami kerusakan atau lesi.  Salah satu bagian otak terkait fungsi utama memori adalah hippocampus.  Kerusakan unilateral pada sistem hippocampus dapat menghasilkan gangguan memori pada materi khusus. Kerusakan kiri belahan, memori selektif terganggu untuk materi verbal, sedangkan setelah kerusakan belahan kanan, memori terganggu untuk materi nonverbal.

Kerja Memori, Otak, dan Terapi Kesulitan Belajar

Dari uraian di atas jelas bahwa kerja memori tidak terjadi dengan sendirinya.  Perlu adanya pelatihan sehingga proses pengolahan informasi dalam memori di otak menjadi lebih baik.  Terlebih kepada individu yang mengalami hambatan dalam pemerosesan informasi seperti pada anak kesulitan belajar.

Pemahaman kerja otak terkait memori penting dalam proses pembelajaran, pelatihan, dan juga terapi yang dilakukan pada anak kesulitan belajar.  Berdasarkan informasi tersebut psikolog, atau terapis akan melihat fungsi apa yang terganggu dalam memori dan dihubungkan dengan fungsi kerja pada bagian otak terkait.

Pemahaman neuropsikologi ini akan melihat sisi fungsi psikologis dan fungsi faal organ otak terkait dengan perilaku yang ditampilkan sehingga dapat memecahan permasalahan yang terjadi.  Dari data tersebut akan dirancang proses pembelajaran, pelatihan, ataupun proses terapi sehingga masalah yang dialami individu menjadi terselesaikan (ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

Daftar Pustaka

Banich, M.T. & R.J. Compton.(2011). Cognitive neuroscience. 3rd eds. Wadsworth: cengage learning

 

Sosialisasi ADHD di SD Harapan Ibu, Pondok Pinang, Jakarta Selatan

Kasus ADHD (Attention Deficit/Hyperactivity Disorder) merupakan kasus tersulit dalam kelompok kesulitan belajar.  Sedangkan kasus kesulitan belajar di Indonesia, khususnya di sekolah formal diprediksi angkanya dapat mencapai 5% dari populasi siswa bersekolah formal.  Fenomena ini bagai buah simalakama bagi penyelenggara sekolah formal terlebih dengan dorongan untuk menjadikan mereka sekolah inklusi.

Sekolah formal baik pengelola dan tenaga pendidik, tidak dipersiapkan bahkan terlatih untuk menangani anak kebutuhan khusus ataupun anak kesulitan belajar.  Bahkan tak jarang mereka kecolongan dalam seleksi penerimaan siswa baru.  Karena banyak anak dengan kesulitan belajar, khususnya ADHD memiliki intelegensi yang cukup bahkan tinggi. Selain itu, pengelola dan tenaga pendidik sangat awam terhadap wacana kesulitan belajar, khususnya anak dengan ADHD.  Sehingga hal ini bertambah menjadi komplek saat kegiatan belajar dan mengajar berlangsung.

img-20160929-wa0009

Acara sosialisasi ADHD oleh Agus Syarifudin, S.Si., dari Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu kepada guru di SD Harapan Ibu, Pondok Pinang, Kamis, 29 September 2016 (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Menyikapi permasalahan di lapangan, Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu mengadakan  kegiatan pengabdian masyarakat berupa Screening Anak Dengan ADHD di Sekolah Dasar Umum di Jakarta Selatan.  Kegiatan ini diawali dengan sosialisasi kepada tenaga pendidik dan kependidikan dan kemudian ditindaklanjuti dengan screening atau pengetesan anak yang diduga  ADHD di sekolah terkait.  Hasil dari screening ini dapat mengetahui populasi dan tingkat keparahan yang terjadi dari anak kesulitan belajar ADHD; memberikan informasi kepada orang tua dan pihak sekolah terkait hasil screening;  dan dapat ditindaklanjuti dengan konseling ataupun terapi di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu.

Kegiatan pengabdian masyarakat tersebut salah satunya dilakukan di SD Harapan Ibu, Pondok Pinang, Jakarta Selatan.  Kegiatan tersebut diawali dengan sosialisasi ADHD kepada tenaga pendidik dan tenaga kependidikan di SD Harapan Ibu pada Kamis, 29 September 2016.  Acara sosialisasi ini disampaikan oleh Agus Syarifudin, S.Si. sebagai asisten riset dan terapis dari Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu. Pada acara tersebut terungkap bahwa secara umum, guru mata pelajaran dan guru kelas sudah mengetahui jika siswa mereka terindikasi ADHD. Hanya saja informasi bagaimana penanganan dan memperlakukan siswa dengan ADHD secara tepat saat pembelajaran belum mereka dapatkan.

Disampaikan oleh Agus Syarifudin, S.Si., ADHD atau Attention Deficit/Hyperactivity Disorder merupakan salah satu gangguan kesulitan belajar yang perlu perhatian khusus.  Anak dengan ADHD memiliki kesulitan dalam memusatkan perhatian, impulsivitas, serta mengalami gangguan hiperaktivitas. Pencapaian akademis mereka dapat jatuh dan dibawah KKM yang ditetapkan oleh guru dan sekolah karena gangguan tersebut meskipun mereka memiliki intelegensi yang tinggi.

Terkait penanganan di sekolah saat jam belajar, Agus Syarifudin, S.Si. memberikan  tips kepada guru atau tenaga pendidik dalam menangani anak ADHD.  Diantaranya dengan menyelenggarakan kelas sosialisasi dengan memisahkan anak ADHD saat tantrum atau bermasalah di kelas.  Kemudian saat anak dengan ADHD berulah, lebih baik dinasehati setelah dia dalam keadaan tenang dengan teknik menyindir. Selain itu bagi guru untuk terus menasehati berulang-ulang karena memang anak dengan ADHD memiliki kelemahan dalam recall comprehension mereka.

Di sisi lain Agus Syarifudin, S.Si., juga memberikan wacana bahwa guru dan manajemen sekolah memegang peranan penting dalam deteksi dini anak dengan ADHD yang bekerja sama dengan psikolog atau pun pelayanan psikologi. Hal ini penting untuk dapat memberikan diagnosa yang tepat serta intervensi yang efektif. Intervensi yang tepat akan memberikan solusi terhadap permasalahan kesulitan yang dialami oleh siswa. Jika sinergi ini dilakukan oleh sekolah dengan psikolog atau lembaga pelayanan psikologi, maka anak dengan ADHD yang diintervensi mampu survive dan berprestasi di sekolah formal (Ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

 

 

 

MENGAJARKAN ANAK TERAMPIL MENGHADAPI KONFLIK SEBAGAI PENCEGAHAN PENGARUH NARKOBA

Penyalahgunaan narkoba sudah menjadi momok bagi keluarga.  Menjadi tantangan yang berat bagi orang tua untuk melindungi anak dan komponen keluarga dari pengaruh narkoba.  Terlebih orang tua di perkotaan seperti JABODETABEK adalah pekerja penuh.  Sudah menjadi pertanyaan umum dari orang tua, hal apa yang perlu ditekankan dan diajarkan kepada anak agar mereka menjauhi narkoba.  Trik dan tips jitu apa bagi orang tua mampu menjauhkan anaknya dari narkoba.

img-20160918-wa0001

Melani Arnaldi, M.Psi., Psi. menjadi pembicara pada workshop P4GN yang diadakan BNN, 14 September 2016 di Hotel Salak Heritage, Bogor, Jawa Barat.

Inilah materi yang disampaikan Melani Arnaldi, M.Psi., Psi. pada acara workshop Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) untuk ibu Darmawanita Pusat yang diselenggarakan oleh BNN (Badan Narkotika Nasional), Rabu, 14 September 2016, di Hotel Salak The Heritage, Bogor.  Kegiatan tersebut mengangkat tema besar Pemanfaatan Media Konvensional Melalui Workshop Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN).

Pada acara tersebut Melani Arnaldi, M.Psi., Psi. membawakan materi bertema “Parenting skill: Upaya Membesarkan Anak Secara Sehat dan Aman dari Penyalahgunaan Narkoba.”  Kegiatan ini ditujukan untuk memberikan pembekalan kepada peserta Dharma Wanita Persatuan Pusat agar dapat berperan aktif dalam upaya pencegahan narkoba baik di lingkungan terdekat (keluarga), masyarakat maupun secara organisatorial.

Menurut Melani Arnaldi, M.Psi., Psi. penyalahgunaan narkoba dapat terjadi pada individu karena mereka tidak mampu mengelola konflik dengan baik.  Sejauh mana individu anak terkait dengan narkoba adalah bagaimana kendali emosi dirinya mampu menyelesaikan konflik yang dihadapi.  Pecandu narkoba sering kali relaps.  Relapse adalah masa pengguna kembali memakai narkoba. Itu berupa respons kegagalan beradaptasi (maladaptive) terhadap stressor atau stimuli internal dan eksternal.  Hal ini terjadi karena mereka tidak mampu menghadapi dan menyelesaikan konflik yang dialami.

Di sisi lain, kepribadian terbentuk sebagai hasil pembelajaran di lingkungan. Dalam hal ini lingkungan yang terdekat dan menjadi fondasi ke masyarakat adalah keluarga. Kepribadian diibaratkan berbentuk Gunung Es, dipengaruhi faktor genetik, temperament, tekanan terhadap pressure, dan kepribadian itu sendiri.  Proses pembelajaran di lingkungan tersebut dapat melalui proses pembiasaan, mencontoh, dan mentauladani.  Oleh karena itu orang tua harus pintar-pintar melakukan pembelajaran tersebut agar hasilnya optimal dalam mencegah pengaruh narkoba.

Peran penting keterampilan anak yang perlu ditanamkan oleh orang tua dalam menjauhi narkoba adalah pertama, sejauh mana anak mampu melihat masalah.  Yaitu berupa mekanisme pencerahan dimana anak: 1) Dapat dengan cepat melihat permasalahan dengan sudut pandang berbeda atau yang baru, 2) Menghubungkan permasalahan dengan masalah lain yang relevant (solution pair), 3) Melepaskan pengalaman masa lalu yang menghalangi solusi, 4) Atau melihat permasalahan secara luas, serta kontek yang koheren. Kedua, sejauh mana kemampuan anak terhadap problem solving, yaitu kemampuan anak dalam mencapai “tujuan” dari kondisi saat ini dimana tidak bergerak kepada tujuan; jauh dari tujuan;  atau membutuhkan logika komplek dalam menemukan penggambaran kondisi yang hilang, ataupun tahapan menuju tujuan.  Secara umum dalam psikologi, problem solving adalah bagian dari proses besar yang didalamnya terdapat problem finding dan problem shaping

Oleh karena itu cara mengkombinasikan antara model pengasuhan dan pola asuh pada anak adalah seperti  bermain layang layang. Ada saatnya orang tua harus menarik, mengulur dan menjaganya agar  layang layang tidak sampai putus.  Orang tua harus pintar menarik dan mengulur proses pembiasaan, mencontoh, dan mentauladani dalam pengasuhan. Bagaimana orang tua berperan penting dalam membentuk karakter atau kepribadian anak melalui teknik bermain layang-layang ini (Ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

GANGGUAN NEUROPSIKOLOGI AKIBAT GADGET

Teknologi informasi dan komunikasi ternyata dapat mengakibatkan gangguan neuropsikologis.  Hal ini dapat terjadi jika kita tidak menyikapi bijaksana penggunaan teknologi tersebut, salah satunya gadget.  Terlebih bagi mahasiswa ataupun siswa sebagai pelajar yang sering menggunakan gadget dapat mengganggu karakter dan kepribadian.

Inilah sekilas informasi yang diberikan Melani Arnaldi, M.Psi., Psi. saat menjadi pembicara tamu di Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Jakarta.  Acara ini bertemakan Peran Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pembentukan Karakter Siswa.  Acara yang diadakan oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah pada Kamis, 15 September 2016 di Aula Pasca Sarjana, Kampus Universitas Muhammadiyah Jakarta, Cireunde, Tangerang Selatan, Banten.

img-20160915-wa0022

Melani Arnaldi, M.Psi., Psi. dan Dr. Dirgantara Wicaksono, M.Pd saat penerimaan kenanga-kenangan dari Panitia Acara Seminar Peran Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pembentukan Karakter Siswa, Kamis, 15 September 2016, di Kampus Universitas Muhammadiyah Jakarta, Banten.

 

Acara tersebut juga dihadari oleh Dr. Dirgantara Wicaksono, M.Pd sebagai pembicara.  Beliau adalah staf pengajar di Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Jakarta.  Saat menjadi mahasiswa strata satu, beliau telah menjadi kepala sekolah dan termuda di Indonesia.

Melani Arnaldi, M.Psi., Psi. menjelaskan bahwa secara umum karakter individu berdasarkan Big Five Personality ada yang menunjukkan Openness, Extraversion, Neurotic, Consientiousness, dan Agreeableness.  Secara umum setiap orang memiliki ciri-ciri tersebut namun, di setiap individu yang membedakan adalah adanya salah satu dari karakter tersebut yang lebih dominan.  Individu yang sehat adalah indvidu yang mampu memunculkan karakter tersebut sesuai kontek situasi.

Seiring dengan kemajuan teknologi dan informasi, individu sering mengalami gangguan karena tidak siap menerima informasi.  Menurut Melani Arnaldi, M.Psi., Psi. gangguan yang terjadi dari sudut pandang psikologi antara lain adalah gangguan neuropsikologi dan gangguan karakter serta kepribadian.  Hal ini terjadi karena individu tidak mampu mengelola konflik yang terjadi baik di dalam diri maupun dengan lingkungannya akibat adanya informasi baru. Akibatnya dapat mengganggu kepribadian individu, misalnya bersifat kaku terhadap terhadap suatu situasi.

Hal ini terlihat dari perubahan emosi  yang terjadi saat menerima berita atau informasi dari aplikasi teknologi misalnya sosial media ataupun messenger.  Bila hal ini berulang dengan frekuensi yang tinggi dapat berpengaruh terhadap neurotransmiter dan mekanisme kerja otak.  Sistem kerja hormon seperti  dopamine, serotonin, acetil kolin, dan norephinephrine terganggu.  Oleh karena itu kesiapan individu dalam menerima dan mengolah informasi dari gadget misalnya HP sangat menentukan kesehatan mental.  Sebaiknya individu memiliki jadwal yang teratur dalam menggunakan alat komunikasi dan informasi sehingga tidak setiap saat terganggu.

Selanjutnya Dr. Dirgantara Wicaksono, M.Pd. menambahkan bahwa sudah selayaknya mahasiswa menjadikan teknologi sebagai alat bukan tujuan.  Bagaimana teknologi informasi dan komunikasi tersebut dapat membantu dalam pendidikan mereka seperti mengerjakan tugas serta memperluas wawasan.   Dan yang lebih utama adalah tidak tergantung kepada gadget sehingga mereka tidak malas dan siap menghadapi tantangan.

Baik Melani Arnaldi, M.Psi., Psi., dan Dr. Dirgantara Wicaksono, M.Pd. sepakat bahwa sudah saatnya pelajar, khususnya mahasiswa mampu menampilkan karakter yang baik dalam menghadapi kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.  Mereka diharapkan untuk tidak menjadi sebagai pengguna saja namun juga dapat menjadi pencipta atau pemain yang mampu mengambil manfaat terhadap teknologi yang digunakan tersebut.  (Ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

TUMBUH KEMBANG ANAK USIA DINI DARI KACAMATA NEUROPSIKOLOGI

Otak anak usia dini memiliki potensi tak terhingga, khususnya pada tahun-tahun pertama masa hidupnya.  Bagaimana agar orangtua dan pendidik tidak salah menangani? Adakah cara untuk memaksimalkan potensi tersebut?

Tema ini diangkat dalam acara Komunitas Bengkel Kreasi yang diselenggarakan oleh Titian Insan Cemerlang pada Minggu, 7 Agustus 2016 di Kampus Ilmu Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Cilandak, Jakarta Selatan.  Adapun pembicara tunggal adalah Melani Arnaldi, M.Psi., Psi., Kepala Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu. Peserta dari kegiatan ini adalah orang tua, pendidik, guru PAUD, dan pemerhati pendidikan dari wilayah JABODETABEK.

20160807_123619

Peserta acara Komunitas Bengkel Kreasi, Minggu, 7 Agutustu 2016 di Kampus Ilmu Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Cilandak, Jakarta Selatan (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).  

 

Pada anak usia dini menurut Melani Arnaldi, M.Psi., Psi., secara neuropsikologis adalah adanya proses tumbuhnya self awareness yang mencakup theory of mind dan self concept.  Oleh karena itu penting untuk ditumbuhkan self awareness, yaitu suatu bentuk dari konvergensi perasaan  yang memiliki tingkatan berupa pengetahuan abstrak di dalam mempengaruhi lingkungan.

Kemampuan anak untuk memahami pikiran dan perasaan orang lain, atau yang dikenal dengan sebutan “theory of mind” merupakan suatu konsep berpikir berdasarkan pikiran dan perasaan orang lain.

Dalam hal ini pengetahuan abstrak tumbuh sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan terutama orang penting yang berepran dalam kehidupannya.  Setelah anak merasakan adanya suatu pengalaman, barulah pengalaman tersebut direkam dan kemudian dihubungkan menjadi suatu konsep tentang suatu hal.

Melani Arnaldi, M.Psi., Psi. menekankan bahwa self awareness berkembang secara bertahap seiring usia. Kondisi ini menunjukan bahwa kemampuan inhibition pada executive function juga mengalami perkembangan dan memiliki tingkatan seiring usia. Proses perubahan itu berjalan sesuai dengan bertambahnya pengalaman dan proses pembelajaran di lingkungan .

kawinan Arie 216

Melani Arnaldi, M.Psi., Psi. sebagai pembicara tunggal pada acara Bengkel Kreasi Mandiri, TIC, Minggu, 7 Agustus 2016 (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Jika self awareness  ini tidak dirangsang dan ditumbuhkan, maka akan timbul keterlambatan perkembangan.  Dan jika tidak diterapi atau diberikan intervensi maka akan menumpuk di masa depan serta menimbulkan masalah, salah satunya adalah kesulitan belajar.  Oleh karena itu, peran guru PAUD penting dalam memberikan stimulus kepada peserta didik yang mampu menumbuhkan self awareness anak jauh lebih penting dibandingkan ketuntasan materi semata.

Melani Arnaldi, menyampaikan pentingnya stimulasi yang bervariasi diberikan kepada anak usia dini berkaitan dengan self awareness.  Hal ini dapat dilakukan dengan kegiatan berupa kunjungan atau outing.  Indonesia kaya akan variasi dan budaya, sehingga variasi stimulasi yang diberikan dapat beranekaragam dan dekat dengan peserta didik PAUD.  Beliau mencotohkan dapat dilakukan kegiatan dalam kurikulum sekolah berupa aktivitas kunjungan ke pasar tradisional, berkebun, memelihara binatang, atau kunjungan aktivitas budaya.

Di sisi lain, anak yang bermain di lingkungan atau yang distimulasi dengan berbagai aktivitas jika dilihat dari sudut pandang neurologi, pertumbuhan dan percabangan syarafnya lebih banyak dibandingkan dengan dengan anak yang hanya belajar di kelas. Oleh karena itu penting untuk melakukan variasi stimulasi bagi anak usia dini dari lingkungan.

Diharapkan anak dengan self awareness yang tumbuh dengan baik karena stimulus dari guru PAUD, akan memiliki modal yang kuat bagi proses pendidikan di tingkatan atas atau berikutnya.  Serta mereka juga mampu menjawab tantangan jaman (ags/kphl).

DETEKSI DINI DAN PENGETESAN GANGGUAN SPEKTRUM AUTIS

Autism1.jpg

Deteksi dini Gangguan Spektrum Autis (GSA) yang akurat akan membantu dalam keberhasilan dalam proses terapi (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu) 

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu memberikan pelayanan deteksi dini dan pengetesan Gangguan Spektrum Autis (GSA).

Secara umum individu dengan GSA merupakan salah satu dari lima jenis Gangguan Perkembangan Pervasif atau Pervasive Development Disorder.  Ciri-ciri yang menonjol dari penyandang GSA adalah tidak mendengar atau memandang mata saat diajak berkomunikasi, komunikasi yang sulit dimengerti, serta emosi yang tidak stabil dan perilaku yang tidak biasa.

Deteksi GSA di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu dilakukan dengan test EEG, test Kesehatan, dan juga test psikologi.  Melalui test EEG akan diketahui aktivitas gelombang otak saat melakukan kegiatan yang berkaitan dengan aktivitas belajar.  Test ini akan menunjukkan sejauh mana fungsi otak pada anak dengan GSA untuk dijadikan base line dalam menentukan jenis dan dosis terapi.  Test kesehatan untuk melihat sejauh mana kesehatan individu seperti kandungan mineral, vitamin, asam amino, dan koenzim.  Pengetesan psikologi dilakukan untuk melihat sejauh mana intelegensi anak dengan GSA.

Hasil EEG.jpg

Hasil EEG yang dijadikan base line dan diagnosa Gangguan Spektrum Autis (GSA) (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Melalui test tersebut, diharapkan mampu memberikan data untuk diagnosa yang akurat sehingga dapat ditentukan terapi apa saja untuk membantu mengatasi permasalahan GSA baik di rumah maupun di sekolah.

Untuk informasi dan keterangan lebih lanjut, dapat menghubuni Sdr. Agus (08561785391).

Selamat Hari Raya Idul Fitri

Foto Lebaran