TERAPI ANAK KESULITAN BELAJAR DENGAN METODE MMI (Melani’s Metacognition Intervention)

Anak Kesulitan Belajar dan Metakognitif

Anak kesulitan belajar secara umum dapat dikenali dari pencapaian akademik yang rendah atau tidak stabil, dan atau perilaku yang mengganggu di sekolah.  Berbagai hambatan psikologis pada anak dapat mengakibatkan kesulitan belajar dan pencapaian prestasi akademik yang rendah.  Bisa jadi anak kesulitan belajar menunjukkan intelegensi yang normal ataupun tinggi. Akan tetapi memiliki masalah dalam membaca dan berhitung. Seperti disleksia (gangguan membaca), disotographia (gangguan mengeja), diskalkulia (gangguan berhitung), difraksia (gangguan motorik), dispasia (gangguan bicara dan bahasa) (Paternotte & Buitellar, 2010).

Salah satu terapi anak kesulitan belajar adalah dengan metode metakognisi.  Sebelum menjelaskan apa itu terapi metakognitif, ada baiknya kita menyimak arti metakognisi itu sendiri.  Seperti Fernandez-Duque et al.,( 2000 hal. 324) dalam artikel “Awareness and Metacognition” menjelaskan:

      “We acknowledge the possible contribution of unconscious processes, but favor a central role of awareness in metacognition. We welcome Shimamura’s (this issue) extension of the concept of metacognitive regulation to include aspects of working memory, and its relation to executive attention”.

 Metakognisi adalah pengetahuan tentang unconsciousness process dari peran awareness, sampai terbentuknya self-regulation yang berhubungan dengan working memory dan executive attention.

Intervensi atau terapi metakognitif adalah latihan untuk melibatkan kemampuan belajar, menyimpan, dan memanggil informasi dan melibatkan kemampuan belajar, ketrampilan organisasi dan manajemen waktu, ketrampilan test tasking, ketrampilan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan (Solanto et al., 2010). Dalam praktek penerapan metode metakognisi adalah sebagai berikut.  Anak akan diberikan pengetahuan tentang tujuan penggunaan metode tersebut, yaitu bagaimana mengendalikan proses kognitif dan aplikasinya dalam situasi belajar nyata (Smith & Strick, 1999).  Intervensi metakognitif dapat diberikan kepada anak dengan pemberian makna bahwa kapasitas kognitif anak sama seperti orang dewasa.

Reynold, Weiner, dan Miller (2009), menyebutkan tiga proses bagaimana pengetahuan dapat termasuk di dalam komponen metakognitif, sebagai berikut:

  1. Declarative: Pengulangan pengetahuan dengan penjelasan proses kognitif melalui neuroscience, psikologi, dan intervensi, termasuk kemampuan dalam persepsi, membaca, menulis, berbicara, pemahaman, penyelesaian masalah dan memory. (Metakognitif)
  2. Procedural: Pengetahuan dalam tahapan proses, tentang apa apa yang terjadi pada proses kognitif dari neuroscience (Metastrategi).
  3. Conditional: Pengetahuan dalam menggunakan strategi untuk membantu kognitif proses (Epistemologi).

Tahapan Melani’s Metacognition Intervention (MMI) Untuk Terapi Anak Kesulitan Belajar.

Intervensi Metakognitif bekerja dengan pendekatan tiga teknik terapi psikologi (Client-centered Therapy, Behaviouristic Therapy, dan Metacognitive Therapy).   Metode Metakognitif menggunakan pendekatan belajar seperti pada sekolah umum yaitu membaca, menulis dan menceritakan kembali. Untuk mencapai target dari intervensi (perubahan dalam kognitif, emosional, dan perilaku), dibutuhkan media buku cerita dengan tema sosial intelegensi yang didalamnya menceritakan mengenai tentang cara berempati, bersimpati, ketulusan, pengorbanan, kekeceawaan, kesedihan, keceriaan dan lain-lain.

Gambar

Seluruh proses belajar dapat berdiri sendiri tetapi berkaitan secara simultan dan saling berpengaruh antara satu dengan yang lainnya.  Metode belajar dengan pendekatan  metakognitif ini dilakukan dengan media buku cerita, yang disebut Metacognitive Intervention (MMI) (Arnaldi, 2011). Pendekatan ini merupakan metode intervensi dengan dasar dasar teori metakognitif pada anak kesulitan belajar.

Di bawah ini adalah tahapan intervensi yang diadaptasi untuk anak dengan masalah hambatan perkembangan awareness.  Tahapan pertama fokus untuk meningkatkan kapasitas kognitif dasar, seperti konsentrasi, memori, dan pemahaman. Tahapan kedua difokuskan untuk belajar proses fisik dan kognitif.  Pendekatan ini menggunakan teknik Behaviouristic untuk mengkondisikan apa yang telah dipelajari anak di lingkungannya.  Tahapan ketiga menggunakan teknik metakognitif yang terdiri dari strategi belajar, evaluasi dan kreativitas berpikir (Arnaldi, 2011).

Proses terapi ini juga menggunakan jam sebagai penunjuk waktu, terapis membimbing anak untuk mempertahankan konsentrasi mereka sesuai dengan   waktu yang telah ditentukan bersama.  Tahapan ini akan melatih teknik, sikap, fokus, kecepatan, koordinasi, dan ketertarikan untuk membaca.  Anak yang memiliki masalah kekurangan dalam konsentrasi, pada umumnya akan terlihat kurang memiliki kemampuan teknik membaca, focused attention, eye speed, dan motoric coordination dalam membaca (Arnaldi, 2011).

Sementara itu, anak dengan gangguan emosional dan ADHD akan memperlihatkan sikap yang lebih positif dengan menunjukkan ketertarikannya dalam membaca (awareness).  Anak yang biasanya merasa tidak nyaman, memberontak, atau tidak sesuai dengan topik pada tema buku, kemudian memiliki awareness dalam membaca.  Anak yang telah memiliki kemampuan mempertahankan konsentrasinya, secara umum telah menunjukkan self-control yang baik sehingga anak terlihat memiliki ketertarikan dalam membaca.  Untuk mencapai batas waku yang diinginkan sangatlah bervariasi tegantung pada  cognitive impairment dan gangguan emosional pada anak. Media buku untuk intervensi harus sesuai dengan kemampuan membaca dan konsentrasi.  Terdapat tiga kelompok buku cerita yang digunakan yaitu  buku cerita dengan gambar penuh di setiap halamannya, buku cerita dengan kalimat pendek dan panjang (tidak ada gambarnya), dan buku cerita yang berisi tulisan panjang dengan gambar yang sedikit (Arnaldi, 2011).

Bagi anak dengan gangguan emosional dan ADHD, pada tahap kedua   menggunakan pendekatan CCT (Client-centered Therapy) dengan buku cerita yang memiliki tema tentang afeksi, kemandirian, dan sosialisasi.  Selama proses terapi diharapkan akan terjadi elaborasi dalam memori dan pemahaman, yang akhirnya dapat diaplikasikan dalam perilaku.  Keberhasilan pada tahap ini dapat dilihat dari perubahan sikap dari perilaku maladaptif, seperti hiperaktivitas, autisme, learning motivation withdrawl menjadi adaptif dengan self-regulation yang baik. Dari intervensi ini anak diharapkan memiliki self-awareness dengan self-ideal baru dari pengetahuan yang baru dan pengalaman baru yang diperoleh dari buku cerita (Arnaldi, 2011).

Gambar

Tahap ketiga, adalah melatih strategi berpikir yang  merancang struktur kognitif anak yang memiliki cognitive distortion menjadi lebih baik (cognitive restructuring) Kondisi yang telah membaik ini ini disebabkan oleh meningkatnya kemampuan anak dalam pemahaman (recall comprehension). Dengan demikian anak dapat menganalisa konteks dengan baik (self-awareness) sampai terbentuk self-regulation.

Denckla, 1994; Stuss & Benson, 1986; Torgesen, 1994;Welsh & Pennington, 1988 (dalam Barkley, 1997 hal. 68 ) dalam artikel “Behavioral Inhibition, Sustained Attention, and Executive Functions: Constructing a Unifying Theory of ADHD” yang menjelaskan  bahwa self-regulation merupakan bagian dari EF yang terlihat dari kemampuan: (a) self-directed actions;(b) the organization of behavioral contingencies across time;(c) the use of self-directed speech, rules, or plans; (d) deferred gratification; and (e) goal-directed, future-oriented, purposive,or intentional actions.

Keberhasilan terapi dapat tercapai karena memiliki prinsip terapi kognitif yaitu

  1. Berpikir, merasakan dan perilaku adalah kesatuan dengan hubungan sebab akibat dalam mengendalikan neuron, hormon, dan sirkulasi darah (plastisitas biologik).  Fungsi kognitif adalah pusat dari kontrol untuk perasaan (emosi) dan perilaku.
  2. Easiness (kemudahan), involvedness (keterlibatan), clearness (kejelasan) dan specific techniques (teknik yang spesifik) serta metode metakognitif akan meningkatkan ketertarikan anak atau minat anak, sehingga dapat mencapai target intervensi.
  3. Insight dalam perubahan psikopatologi akan dicapai lebih cepat jika anak terlibat dalam keseluruhan aktivitas Metakognitif yang kemudian menciptakan self-awareness sebagai kendali.
  4. Tidak membutuhkan ketrampilan yang tinggi dari terapis, karena terapis hanya menjadi fasilitator anak untuk berkonsentrasi, pelatihan Metakognitif, dan pemulihan cognitive distortion melalui teknik yang sederhana dan dikenal oleh anak
  5. Manusia sebagai mahluk aktif dan responsif terhadap stimulus, sehingga dengan proses kognitifnya  mudah bereaksi secara aktif. Situasi ini akan membuat  kreativitas anak dalam berpikir.
  6. Biaya terapi yang murah, efektif, dan waktu yang singkat.

Melalui pelatihan Metakognitif dengan menggunakan buku cerita, anak akan mendapatkan ketrampilan untuk belajar di sekolah.  Kemudian terapis dapat memprediksi keberhasilan dari intervensi kepada anak kesulitan belajar dari usia 6 – 17 tahun (Arnaldi, 2011).

Referensi

Arnaldi, Melani. (2011). Cognitive process to parameter assessment learning disability of children. Procedia Social and Behavioral Science. 29, 170-178.

 Arnaldi, Melani. (2011). Effectivity method intervenes Melani’s metacognitive for learning disability of children in Indonesia. Procedia Social and Behavioural Sciences, 29,164-169.

Barkley, R.A. (1997). Behavioral Inhibition, Sustained Attention, and Executive Functions:Constructing a Unifying Theory of ADHD. Psychological Bulletin, 121(1), 65-94.

Fernandez-Duque, Diego.,  J.A. Baird, and M.I. Posner. (2000). Awareness and Metacognition. Consciousness and Cognition 9, 324–326 (2000)

Paternotte, A. & J. Buitelaar. (2010). ADHD (attention deficit hyperactivity disorder): gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas: tanda-tanda, diagnosis, terapi, serta penangannya di rumah dan di sekolah. (Julia maria van Tiel, Penerjemah). Jakarta: Prenada Media Group

Reynolds, WM, Miller, GE & Weiner, I.B. (2006). Hand book of psychology volume 7 Educational Psychology.Denver  : John Wiley & Sons

Smith, C & Strick , L. (1999). Learning disabilities A to Z. New York : A Fireside Book

Solanto, M.V., D.J. Marks, J. Wasserstein, K. Mitchell, H. Abikoff, J.Ma.J. Alvir, & M.D. Kofman. (2010). Efficacy of meta-cognitive therapy for adult ADHD. The American  Journal  of Psychiatry, 167, 958–968

 

Perihal Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu
Dunia anak dan pendidikan adalah menjadi perhatian utama saya sejak tahun 2000. Sejak saat itu saya mulai melakukan penelitian dan mengembangkan terapi untuk mengatasi anak kesulitan belajar yang mencapai 10% dari populasi siswa di setiap sekolah. Hingga saat ini saya merasa beruntung telah mampu mempublikasikan penelitian ilmiah saya di jurnal internasional. Melani Arnaldi, M.Psi., Psi

4 Responses to TERAPI ANAK KESULITAN BELAJAR DENGAN METODE MMI (Melani’s Metacognition Intervention)

  1. Laksmi Hidayati waskitasari mengatakan:

    bagaimana cara memotivasi belajar anak SMP yang sering mengalami kesulitan belajar

    • terima kasih telah mengunjungi web kami. Sebelum memotivasi siswa yang diduga mengalami masalah kesulitan belajar, ada baiknya terlebih dahulu di test kesulitan belajar. Karena sering kali kasus anak kesulitan belajar mengalami komorbiditas atau adanya 2 atau lebih gejala gangguan pada satu individu. Misalnya gangguan emosional, yang juga dapat bertumpuk pada gangguan perilaku dan gangguan kognitif. Oleh karena siswa telah memasuki usia sekolah SMP, hal ini telah menjadi karakter. Untuk memotivasi ataupun terapi/intervensi yang diberikan harus disesuaikan dengan akar penyebab permasalahan yang diketahui melalui test terlebih dahulu. Salah satu terapi yang diberikan untuk remaja yang mengalami kesulitan belajar adalah dengan terapi CBT (cognitive behavioral therapy), terapi belajar, dan terapi metakognitif. Semoga informasi ini dapat bermanfaat. Terima kasih

  2. Virgina Komarasari mengatakan:

    Dimana alamat psikomeurologi Hang Lekiu ?

    • Alamat Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu di Jl. Hang Lekiu 4 No. 6 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Patokannya dekat Sekolah SD-SMA TRIGUNA, Gereja HKBP Kebayoran Baru, dan Panti Rehabilitasi YPAC. Ibu dapat lewat belakang RS Pusat Pertamina. Klinik kami tidak jauh dari Jl Bulungan (Blok M Plaza). Semoga informasi ini bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: