SELF-AWARENESS DAN INTELEGENSI

Fungsi Selfawareness berkembang sesuai usia dan implikasinya dapat terlihat pada teori general intelegensi dan intelektual perkembangan.  Secara natural, komposisi dan fungsi dari general intelegensi menjadi fokus dan menjadi teori intensif dan empiris dalam ilmu psikologi kognitif dan neruoscience (Demetriou, 2002 dalam Demetriou & Kazi, 2005). Lebih awal Sperman (1904 dalam Demetriou & Kazi, 2005) memperkenalkan spesifik konstruk dari general intelegensi.  Teori pertama tentang Human Mind adalah sebuah sistem independent modul atau frame (Gardner, 1983 dalam Demetriou & Kazi, 2005). Kita menemukan bahwa proses belajar secara informal dan informal setting (Addey, 2004 dalam Demetriou & Kazi, 2005). Untuk intelektual perkembangan (Demetrio, 2004) dan fungsi setiap hari (Gog Redson, 2003). Secara umum proses seperti working memory dan kecepatan proses tertutup dalam hubungannya dengan warning dan performance di dalam variasi kontaks dan intellectual development. Anak memiliki intelegensi yang tidak dapat memupuk secara seimbang dalam fungsi otak struktur dan berhubungan dengan penelitian psikologi.

Semakin kuat struktur otak terutama pada lokasi prefontal korteks jelas berhubungan dengan psikometrik “g” (Duncan, 2000; Alkire, 2004 dalam Demetriou & Kazi, 2005). Shultz, (2003 dalam Demetriau & Kazi, 2005) melakukan penelitian tentang Neural Network menyarankan kuatnya mekanisme umum belajar dan perkembangan di dalam domain yang berbeda. Akhirnya perkembangan dari teknologi komputer dapat menjelaskan spesifikasi kognitif proses dan kemampuan kognitif. Di dalam menginterprestasikan general reflek pada tingkatan general inferensial proses seperti deduktif, induktif serta analogical reasoning yang mampu mengintegrasikan informasi kedalam konstrak konsep tentang lingkungan, belajar informasi baru dan keterampilan memecahkan problem dengan fleksibel menggunakan pengetahuan dan skills.

General “g” adalah sebuah bentuk biologikal daripada psikologikal konstruk yang merefleksikan secara efisiensi kapasitas otak untuk merepresentasikan dan memproses informasi. Dari pandangan ini “g” didefinisikan didalam bentuk domain free fungsional manifestasi efisiensi dan kapasitas seperti kecepatan proses dan working memori. Proses memiliki konstrain yang kompleks dan considerable ekstern. Begitu banyak informasi yang dapat direpresentasikan dan proses di dalam point ini (Demetriau & Kazi, 2005).

Menurut Gensen (1998 dalam Demetriou & Kazi, 2005) dalam kenyataannya  menyatakan tingkatan inferensial proses dapat direduksi pada tingkatan proses potensial yang lebih besar. Dalam hal ini executive control merupakan suatu proses efisiensi atau kapasitas didalam sebuah central core general intelegensi. Lebih lanjut Conway, Cowan, Bunting, Therriault, dan Minkoff (2002 dalam Demetriou & Kazi, 2005) bercerita bahwa executive control didefinisikan sebagai kemampuan untuk tetap fokus pada tujuan dan mengorganisasikan aksi sehingga mencapai tujuan secara efisien dan mungkin dapat menyesuaikan seleksi stimulus untuk kemudian dihadirkan dan menjadi performance maupun inhibiting the processing atau eksekusi the relevan action. Dalam hal ini Frye, Zelazo, dan  Burack, (1998 dalam Demetriou & Kazi, 2005) menyatakan bahwa executive control mengarah pada perkembangan reasoning dan kemampuan imprasial lainnya.  Proses yang mengimplikasikan awareness dan mental proses seperti theory of mind (Perner & Lang, 1999 dalam Demetriou & Kazi, 2005).

Akhirnya teori intelegensi berargumen bahwa secara umum intelegensi juga melibatkan langsung pengetahuan problem solving skill, proses self monitoring, self evaluation, selfrepresentation dan selfregulation. Proses ini mampu untuk mengkapitalisasikan aktifitas pikiran mereka dengan bentuk peningkatan yang lebih akurat pada maps mental activity dan problem solving process yang langsung mampu me-regard decision making process secara efisien dan possible (Demetrium & Efklides, 1989; Flavell, Green, & Flavell, 1995 dalam Demetriou & Kazi, 2005). Beberapa studi terakhir menunjukkan bahwa aspek selfawareness seperti selfconfidence dan selfevaluation intellectual performance, stand out seperti faktor otonomi dari sisi fluid intelligence (Stankov, 2000 dalam Demetriou & Kazi, 2005).

Penelitian Demetriou & Kazi (2005) menggali lebih dalam tentang fokus pada executive control melibatkan selfawareness.  Hal ini dilatarbelakangi penelitian psikometri sangat sedikit attention-nya pada aspek intelegensi dan general intelegensi  seperti penelitian Jensen (1998 dalam Demetriou  & Kazi, 2005) dan struktur intelegensi dari penelitian Carrols (1993 dalam Demetriou & Kazi, 2005). Lebih lanjut Demetriou dan Kazi (2005) meneliti dalam memahami variasi selfawareness di dalam general dan hubungannya dengan processing efficiency dan inferential process adalah sangat lemah karena penelitian menunjukkan secara spesifik dan relatif kuat dengan prosesing efficiency, kapasitas inferensial proses dan selfawareness process. Setiap studi ini menunjukkan sistem atau semua sistem yang secara spesifik menunjukkan kontribusi selfawareness untuk membentuk formasi “g” relatif pada proses lain yang berhubungan dengan mental efficiency dan reasoning.

Penelitian Demetriou dan Kazi (2005) menyimpulkan beberapa hal. Pertama, bahwa  bahwa “g” melibatkan 3 tipe proses yaitu prosesing efisiensi, representasional kapasitas, inferensiasi proses, asosiasi dengan variasi domain understanding dan problem solving. Selfawareness underlying self monitoring, self evaluation dan self representation. Di dalam kenyataan jelas menunjukkan implikasi bahwa ketiga proses menjadi dan segera atau setelah memiliki komponen general. Di sini terlihat bahwa general factor memiliki thriacic composision general sugest yang menginterprestasikan dari teori intelegensi. Selanjutnya Sperman (1904 dalam Demetriou & Kazi, 2005) mempertimbangkan refleksi tingkatan dari proses inferensial sebagai dimensi utama perbedaan intelegensi individu.  Secara umum Catle (1971 dalam Demetriou & Kazi, 2005) menceritakan bahwa konsep general adalah perbedaan dalam dua komponen yaitu fluid dan crystalized intelegensi yang merefleksikan prosedur dan deklaratif aspek pada fungsi intelektual, respektif. Perkembangan membuka hubungan koneksi psikometrik general dengan contruct dan proses efisiensi yang diformulasi dan dites didalam psikologi kognitif. Dalam hal ini proses efisiensi dan kapasitas menunjukkan 3 permainan aksi selfawareness, selfrepresentative, dan self-concept (Demetriou & Kazi, 2005).

Kesimpulan kedua, penelitian menghubungkan selfawareness  dengan dua pemain di dalam general intelegensi yaitu proses efisiensi kapasitas dan proses inferensial. Ketiganya menunjukkan bahwa selfawareness merefleksikan pemain lain secara akurat dengan merefleksikan langsung kondisi proses efisiensi dan kapasitas didalam mengorganisasikan domain bahwa mirror adalah actual domain dari reasoning. Dalam hal ini jelas kenyataan bahwa beberapa domain hadir di antara faktor pertama pada proses aktual berpikir dan berbagai aspek di selfawareness. Hal ini juga mencatat bahwa organisasi dari mind berada di antara level actual process dan selfawareness level dimana kondisi ini tidak berkaitan dengan usia. Ini sangat jelas menggambarkan  bahwa anak yang lebih kecil lebih mudah dipengaruhi karena selfawareness adalah sebuah bagian integral dari mind dan secara umum bentuk awal dari general intelegensi (Demetriou & Kazi, 2005).

Kesimpulan ketiga dari penelitian Demetriou & Kazi (2005) dikonsentrasikan dengan perkembangan dimana tidak ada perubahan fungsi atau variasi sistem di dalam hubungan mereka. Di sini terlihat lemahnya proses efisiensi faktor didalam hubungannya dengan general intelegensi disebabkan karena proses transformasi dan selfawareness merupakan komponen dari general intelegensi. Dengan kata lain bahwa transformasi inferensial dan selfawareness membawa perubahan dalam prosesing efisiensi. Di dalam kenyataannya menunjukkan bahwa selfawareness adalah modul atau pola dari proses dari setiap fase perkembangan. Selfawareness merefleksikan tingkatan bentuk dan dinamik dari proses yang dicapai setiap fasenya dengan menunjukan kelemahan dan impresiasinya dimulai dari fase yang lebih rendah. Lebih dari itu pada setiap fase perkembangan ditunjukkan bahwa awareness bergerak dari permukaan atau content best karakteristik kemampuan untuk dapat dicapai di dalam sebuah fase dalam prosedur dan fungsi karakteristik. Dengan kata lain perkembangan self awareness merupakan proses siklus di setiap fase perkembangan dari lemah dan semakin kuat pada proses akhirnya. Oleh sebab itu perkembangan reasoning akhirnya akan menjadi proses formal yang secara konstan membentuk maps inferensial pattern dan action skema di dalam dan di antara domain dengan lebih menciptakan tata kelola baru, validasi dan pola reasoning. Pencapaian awareness sebagai proses karakteristik setiap siklus adalah sebuah Sine Qua Non Condition untuk transisi pada siklus berikutnya. Sebab ini mampu berpikir untuk lebih menggambarkan proses dan skema dari setiap level kedalam tingkatan yang lebih tinggi, lebih efisien dan fleksibel pada tingkatan representation seperti halnya penelitian Karnilog dan Smith (1992 dalam Demetriou & Kazi, 2005).

Demetriou dan Kazi (2005) bercerita bahwa dalam model perkembangan reasoning peningkatan awareness pada inferensial proses adalah factor crusial untuk mentransisikan ke dalam tingkat reasoning yang lebih tinggi.  Jadi kunci dari conection mechanism baris ketiga aspek human main convert adalah Executive Function yang bertanggung jawab dalam melakukan self, pursuing mental sampai dengan pencapaian tujuan perilaku. Directive-Executive Function (DEF) kemudian terlibat dengan sebuah aktivasi storage dimana tujuan akhir direpresentasikan sebagai sebuah fungsi planning yang membentuk langkah pro aktif untuk mencapai tujuan. Sebuah fungsi kendali yang dapat mencatat perbedaan antara tujuan dan tingkatan terakhir dari efek collective action dan fungsi evaluasi yang mampu memfinalisasikan rangkaian action. DEF ada di dalam “self”, domain free dan selalu diaplikasikan dalam beberapa aspek lingkungan yang direpresentasikan dan diproses dengan beberapa mental proses yang relevan pada aspek ini. Hasilnya fungsi ini selalu konsentrasi dengan proses akhir dari potensial system seperti kecepatan operasi dan kapasitas representasi serta domain aktivasi berpikir. Selfawareness adalah bagian integral dari DEF sebab proses ini melakukan setting mental goal, pencapaian planning, monitoring action, tujuan serta perencanaan. Kemampuan regulating real atau mental action  membutuhkan sebuah sistem yang dapat mengingat dan melakukan review lebih jauh pengetahuan itu. Lebih jauh kesadaran awareness dan seluruh fungsi misalnya self-concept (awareness of one’s own mental characteristics, function, and mental states). Teori of mind (that is, awareness of other’s mental function and states) adalah bagian yang dapat membentuk system.

Disimpulkan dari ketiga studi oleh Demetriou dan Kazi (2005) bahwa domain yang terlibat memiliki kekuatan domain spesifik sistem pada mental operation dan skills. Kondisi ini sangat kuat dalam membentuk sistem domain secara general yang bersifat constrain, monitor, evaluation dan mampu merepresentasikan functioning domain sebagai spesifik system dengan memberikan mereka meaning, making dan inferensial system yang kemudian diapresiasikan pada domain relation concept. Ketika tipe general process ini selalu hadir dan membuat komposisi dari kondisi dan perkembangan sejarah. Konsep belajar pada individu harus ditekankan sebagai domain spesifik proses sehingga constrain tidak pernah dilewati dalam bentuk general tapi kekuatannya lebih pada domain yang interference melalui pikiran di antara realms the world. Dengan kata lain general proses mungkin menjadi selalu ada dan tidak pernah berfungsi sendiri pada spesialis domain yang terlibat didalam general proses. Jadi merupakan bagian dari three construction yang dibutuhkan dalam mengefisiensikan fungsi dan perkembangan (Demetriou & Kazi, 2005).

Referensi

Demetriou, A. & S. Kazi. (2006). Self awareness in g (with processing efficiency and reasoning). Intelligence. (34):297-317

Perihal Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu
Dunia anak dan pendidikan adalah menjadi perhatian utama saya sejak tahun 2000. Sejak saat itu saya mulai melakukan penelitian dan mengembangkan terapi untuk mengatasi anak kesulitan belajar yang mencapai 10% dari populasi siswa di setiap sekolah. Hingga saat ini saya merasa beruntung telah mampu mempublikasikan penelitian ilmiah saya di jurnal internasional. Melani Arnaldi, M.Psi., Psi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: