MENINJAU SELF-AWARNES LEBIH DALAM: TIGA LEVEL EKSPLISIT SELF-AWARENESS

Kepedulian anak kepada lingkungan selalu dikaitkan dengan perkembangan self-awareness. Tentu saja hal ini berkaitan erat dengan prestasi akademis mereka di sekolah.  Dalam konteks ini, self-awareness berfungsi sebagai penunjuk arah atau passion sampai melakukan aktivitas kognitifnya (Kobayashi, 2010).

Self-awareness  yang berkembang secara optimal akan mendorong seseorang untuk membentuk strategi sosial dalam membentuk strategi kognitif dari pengalamannya.  Pada akhirnya self-awareness  akan menjadi arah sasaran untuk memperkuat pikiran atau perasaan psikologis dalam bentuk “goal expectation” (Toplak & Tannock, 2004 hal. 639).

Selanjutnya explicit and implicit events dapat membangkitkan cognitive control,  (Kunde, Reuss & Kiesel, 2012), sehingga proses pembelajaran dari lingkungan dapat mengembangkan kemampuan self-awareness pada anak yang kemudian membentuk cognitive control.

Terkait dengan cognitive control ada baiknya kita melihat lebih dalam tentang self-awareness, khususnya penelitian Legrain, Cleeremans, & Destrebecqz (2011).  Penelitian tersebut menjelaskan perkembangan tentang eksplisit dari selfawareness anak dalam hal mirror self recognition. Kondisi sudah lebih popular sebagai paradigm dalam mengukur kemampuan anak pada penelitian Rochart (2003).

Terdapat tiga perbedaan metroeksplisif selfawareness yang didesain dalam tiga selfrecognition task experiment yaitu Mirror self recognition task, picture selfrecognition task dan masked self recognition task ditujukan untuk melihat kemampuan attentionnya, memori dan diferensiasi. Kita melihat akhir dari most sophisticated selfawareness yang berupaya mengukur external self pada preverbal children (Legrain, Cleeremans, & Destrebecqz, 2011).

Selfawareness dapat didefinisikan sebagai keterlibatan pengetahuan tentang diri dan didefinisikan sebagi entity, independent other individual, unified, consistent and stable over time dan space. Lebih lanjut  Legrain, Cleeremans, dan Destrebecqz  (2011 hal. 578) mendefinisikan bahwa:

Self awareness further allows one to be the subject of one’s own attention”. Selfawareness tidak dipandang sebagai sebuah gejala tapi lebih sebagai kemampuan kompleks yang singkat dari beberapa level (Legrain, Cleeremans, & Destrebecqz, 2011).

Menurut James (1890 dalam Legrain, Cleeremans, & Destrebecqz, 2011) terdapat dua fundamental dan interelasi tingkatan dari the self.  Lebih lanjut deskripsi tersebut adalah level pertama merupakan “I” sebagai level implisit dan the self sebagai subjek pengalaman. Level kedua adalah “Me” sebagai level eksplisit yaitu  the self menjadi sebuah objek pengetahuan tentang diri sendiri.

Legrain, Cleeremans, dan Destrebecqz (2011) menjelaskan bahwa selfawareness mulai memiliki waktu yang panjang sebelum konsep the onset self recognition dan selanjutnya termasuk I sebagai implicit self . Begitu banyak self sangat berbeda dari setiap tahunnya (Lewis, 1994 dalam Legrain, Cleeremans, & Destrebecqz, 2011).

Dalam penelitian Rochart (2003) dijelaskan bahwa “Me” adalah sebuah eksplisit dan kesadaran ide tentang self. Selain itu Rochart menceritakan bahwa self menjadi subjek pada ones’ own attention dan juga menyebutkan tentang ide selfawareness tidaklah tunggal akan tetapi jamak . Dia mengklaim bahwa perkembangan adalah suatu proses yang berkelanjutan dan dinamis yang dapat dibedakan kedalam lima gradual level. Lima level dapat dengan mudah diintrogasikan antara facets of self awareness. “I” dikomposikan ke dalam dua level implisit pertama dan “Me” termasuk pada level ekspilist dari tiga tingkatan akhir.

Mengenali bahwa pencapaian mirror self recognition adalah sebuah perkembangan penting pada tahun kedua kehidupan (Kagan, 1981; Lewis, 1994; Rochart, 1995 dalam Legrain, Cleeremans, & Destrebecqz, 2011).  Diterangkan lebih lanjut yang dimaksud dengan Mirror self recognition adalah sebuah marker dari selfawareness yang tidak dapat dijadikan tantangan. Saat dalam interprestasi pada mirror responds sudah ditujukan dan bukan kebutuhan subjek yang memiliki explicit selfawareness. Secara lisan anak hanya memahami kesempurnaan kontingensi antara specular image dan real word yang mungkin cukup untuk melihat perilaku observasi.

Dalam hal ini genetic dan body awareness juga menjelaskan sebagai reaksi subjektif di depan kaca tanpa melibatkan kemampuan recognition mereka sendiri. Alternatif ini menginterprestasikan tidak adanya hubungan mental representation dan bukan sebagai mandate dari konsep selfawareness (Rochart, 2003 dalam Legrain, Cleeremans, & Destrebecqz, 2011).

Nielsen, Dissanayake, dan Kasima, (2003 dalam Legrain, Cleeremans, & Destrebecqz, 2011) menceritakan  bahwa manusia sudah mampu mengenali diri mereka sendiri biasanya usia 18-24 bulan.  Beberapa studi menunjukkan bahwa kaca dapat melihat lebih daripada kinetic dan body awareness secara instan. Anak juga dapat melihat self consist emotions seperti rasa kagum atau malu ataupun ketika anak gagal dalam menunjukkan emosinya (Berthenthal, & Fichter 1979; Lewis 1992 dalam Legrain, Cleeremans, & Destrebecqz, 2011). Kondisi ini mengindikasikan bahwa bagian otak secara aktif bekerja selama mirror selfrecognition dimana brain area activity dan other self menghubungkan proses autobiografi dan introspective prosesing.  Mirror self recognition merupakan pengukuran awal komponen dari selfawareness dan merupakan eshaustis dan exclusive test (Provinely, 2001 dalam Legrain, Cleeremans, & Destrebecqz, 2011).

Bagaimanapun kita memiliki dua level dari selfawareness yaitu permanent self dan external self. Legrain, Cleeremans, dan Destrebecqz (2011) menyarankan bahwa self recognition pada gambar dapat digunakan untuk mengukur permanent self pada level ini.  Anak memiliki sense of psychology berkelanjutan seiring waktu dan tempat.  Anak seharusnya mampu mengenali diri mereka sendiri lewat gambar beberapa hari sebelum tes. Anak mampu mengenali diri mereka sendiri disini dan sekarang melalui mirror experiment. Setelah tes ini familiar anak kemudian muncul dan mereka mampu membedakan gambar mereka sendiri dan anak lain secara familiar.

Studi menunjukkan bahwa picture self recognition lebih sulit daripada mirror self recognition (Courage, 2004 dalam Legrain, Cleeremans, & Destrebecqz, 2011). Picture self recognition akan menunjukkan kesesuaian cara untuk mengetes perkembangan self awareness level dua dan permanent self. Level terakhir dari konsep model adalah lebih kompleks daripada yang lainnya dan tidak hanya berhubungan dengan diri tapi juga dengan external self dimana the self dapat diterima oleh orang lain.

Kesimpulan penelitian Legrain, Cleeremans, & Destrebecqz (2011) yaitu self awareness tidaklah monolotik tapi merupakan keseluruhan atau  lebih kurang  sedikitnya melibatkan tiga level. Dalam hal ini batasan di dalam pikiran merupakan suatu pola yang juga merefleksikan peningkatan kompleksitas dari ketiga tugas. Hal ini dapat juga menjelaskan skill perkembangan di dalam self awareness. Mirror task, pengukuran di level pertama pada explicit self awareness sukses ditunjukkan pada kebanyakan anak, kemudian gambar self recognition dan after walk self recognition dengan menggunakan mask juga dapat mengukur sophisticated level dari self awareness anak. Performance di dalam tugas ini mengindikasikan bahwa anak telah menunjukkan awareness external self pada usia 22 bulan (Legrain, Cleeremans, & Destrebecqz, 2011).

Referensi

Kobayashi, H. (2010). Self-awareness and menta perception. Journal Indian Philosophy, 38, 233-245

Kunde, W., Reuss, H., & Kiesel, A. (2012). Consciousness and cognitive control. Advance in cognitive psychology, 8 (1), 23-32

Legrain, L., A. Cleeremans, & A. Destrebecqz. (2011). Distinguishing three levels in explicit self-awareness. Consciousness and Cognition.20,578-585.

Rochat, P. (2003). Five levels of self-awareness at the unfold early in life.  Consciousness and Cognition, 12, 717-731.

Toplak, M., & Tannock, R. Time perception; modality and duration effect in ADHD. Journal of abnormal child psychology, 33(5),639-654.

Perihal Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu
Dunia anak dan pendidikan adalah menjadi perhatian utama saya sejak tahun 2000. Sejak saat itu saya mulai melakukan penelitian dan mengembangkan terapi untuk mengatasi anak kesulitan belajar yang mencapai 10% dari populasi siswa di setiap sekolah. Hingga saat ini saya merasa beruntung telah mampu mempublikasikan penelitian ilmiah saya di jurnal internasional. Melani Arnaldi, M.Psi., Psi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: