Self-Awareness Sebagai Bentuk Sosial Intelegensi

Melani Arnaldi (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Melani Arnaldi (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

          Self-awareness menurut Gallup (1998) dalam artikelnya “Self-awareness and the evolution of social intelligence” sebenarnya merupakan strategi sosial yang dikembangkan untuk berkompetisi dan berkerjasama antara satu dengan yang lainnya dalam bentuk (gratitude, grudging, sympathy, empathy, deception, pretending, dan sorrow).  Kemampuan ini dihasilkan oleh self-awareness dan dikembangkan dari beberapa tampilan dan dugaan. Kemampuan ini akhirnya dikembangkan menjadi model sosial intelegensi yang digunakan (Gallup 1998 hal. 241). Gallup (1998) kemudian menjelaskan bagaimana seseorang memiliki kemampuan untuk memilki perhatian pada suatu objek dari tidak adanya perhatian pada objek tersebut. Gallup (1998) menjelaskan bahwa mahluk hidup memiliki kemampuan mengarahkan perhatian pada objek tertentu karena manusia memiliki kemampuan untuk memahami posisi diri mereka ketika melakukan berbagai kegiatan.

Pertama dikarenakan  mereka memiliki kemampuan mempertahankan sense mereka melewati ruang dan waktu, sehingga mereka dapat mengaitkan diri mereka dalam sejumlah peristiwa dari masa lampau, kini, dan masa depan.  Kedua, karena manusia memiliki “mind” yang merujuk kepada kemampuan untuk menggunakan pengalaman dan mental state sehingga dapat membuat hubungan atas apa yang diketahui, dirasakan, atau yang diinginkan oleh orang lain (Gallup, 1998 hal. 241).

Dalam pengertian ini, “mind” dapat diperkirakan sebagai sinonim dari istilah “mental-state attribution” dan “social cognition” (Whitten & Byrne, 1988 dalam Gallup, 1998 hal. 241).  Ketiga, mereka mampu menggambarkan kemampuan mental states orang lain karena berkaitan dengan beberapa keuntungan strategi/kecerdasan ketika dioperasikan dan menemukan persaingan  antara yang satu dengan yang lain (Humphrey, 1976 dalam Gallup, 1998 hal. 242).

Gallup (1998, hal.242) menggambarkan hal ini  ketika organisme (individu) gagal mengerti dirinya di dalam cermin, hal ini dikarenakan ketidakmampuannya untuk memahami diri pada tahap awal, kemudian mereka akhirnya menjadi gagal untuk menunjukkan  variasi introspeksi di dalam beberapa strategi sosial seperti grudging, gratitude, sympathy, empathy, attribution, intentional, deception, sorrow, pretending, boredom, dan  role playing. (Gallup, 1998 hal. 242). Kondisi ini dapat menggambarakan bagaimana otak secara cerdas dapat dipahami memiliki kemampuan belajar, mengingat, dan memecahkan beberapa masalah, sehingga pikiran yang kosong dapat dipahami sebagai akibat karena kurangnya kemampuan untuk menampilkan mental state dalam dirinya maupun dalam diri orang lain  Maka Rene Descartes, tidak salah menyatakan “Aku berpikir, maka saya ada ‘(Gallup, 1998 hal. 245).

Perkembangan self-awerness ini penting, khususnya dalam terapi anak kesulitan belajar.  Melalui pelatihan metakognisi, anak kesulitan belajar diharapkan mampu menemukan potensi dan kekurangan mereka melalui self-awareness yang tumbuh dan berkembang dengan baik.  Sehingga mereka akan menyadari potensi dan kekurangan dia.  Setelah itu kemampuan metakognisi yang telah terlatih ini akan menimbulkan strategi dari dirinya sendiri untuk mengatasi kekurangan mereka.

Referensi

Gallup, G.G.(1998). Self-awareness and the evolution of social intelligence. Behavioral Processes, 42,239-247

Perihal Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu
Dunia anak dan pendidikan adalah menjadi perhatian utama saya sejak tahun 2000. Sejak saat itu saya mulai melakukan penelitian dan mengembangkan terapi untuk mengatasi anak kesulitan belajar yang mencapai 10% dari populasi siswa di setiap sekolah. Hingga saat ini saya merasa beruntung telah mampu mempublikasikan penelitian ilmiah saya di jurnal internasional. Melani Arnaldi, M.Psi., Psi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: