DISKALKULIA: GANGGUAN PEMEROSESAN INFORMASI NUMERIKAL DALAM TINJAUAN NEUROPSIKOLOGI

Kesulitan belajar matematika atau diskalkulia erat kaitannya dengan pemerosesan informasi numerikal.  Seiring perkembangan ilmu neuroscience, khususnya neuropsikologi, proses kerja neuron dan kerja otak yang berhubungan erat dengan keberhasilan pemerosesan informasi numerikal ini telah diketahui.  Sebelum berkembangnya neurosains, informasi tentang pemerosesan angka ini hanya seputar tentang pemerosesan simbol, aritmetika, mental matematika, dan analogi tanpa didukung informasi kerja otak dan neuron.  Para psikolog telah mengetahui fungsi pemerosesan informasi numerikal ini dan adanya hambatan pada anak dengan diskalkulia.  Hanya saja, pada bagian otak atau kerja fungsi neuron apa yang terganggu belum diketahui hingga akhir tahun 2000 awal seiring berkembangnya ilmu neurosciene.

Pengetahuan tentang diskalkuia dan kesulitan belajar matematika saat ini telah berkembang pessat seiring perkembangan neuroscience.  Bahkan peneliti diskalkulia telah menciptakan perangkat lunak atau software  bernama “The Number Race” untuk mendeteksi anak dengan gangguan diskalkulia (Wilson  dkk, 2006).  Software ini diperuntukkan bagi anak usia sekolah dasar dengan hambatan matematika sebagai bahan remedial dan latihan matematika, khususnya untuk anak dengan diskalkulia.

Peneliti neuroscience telah menemukan berbagai kemajuan dalam kesulitan belajar matematika ini.  Banyak literartur yang menceritakan perkembangan diskalkulia dengan mempertimbangkan hal berikut: 1) bahwa diskalkulia dapat dibedakan antara “number sense” diskalkulia dan “verbal memory” diskalkulia, 2) mempertimbangkan hubungan antara “number sense” diskalkulia dan “verbal memory” diskalkulia, serta 3) mempertimbangkan hubungan “number sense” diskalkulia lobus parietal inferior (inferior parietal lobes), khususnya “angular gyrus” (Wilson & Dehaene, 2007).

Berikut adalah gambar penampakan otak manusia.  Bagian tertentu dari otak, khususnya horizontal intra-parietal sulcus (HIPS) berkaitan erat dengan pemerosesan informasi numerikal.

 

images_otak

Gambar 1. Penampakan Otak Manusia

 

 

 

ParietCapts_lateral

Gambar 2. Bagian Kanan Cerebral pada penampakan samping.  Bagian yang berwarna biru adalah parietal lobes. Intraparietal sulcus terletak secara horizontal pada bagian tengah dari parietal lobes.

 

nrn1684-f3_gambar

Gambar 3. Lokasi pemerosesan angka pada intraparietal sulcus (Edward M. Hubbard, Manuela Piazza, Philippe Pinel & Stanislas Dehaene. Nature Reviews Neuroscience 6, 435-448 (June 2005). doi :10.1038/nrn1684)

Wilson dan Dehaene (2007) menjelaskan bahwa jika terdapat “core defisit” tunggal yang menyebabkan diskalkulia, maka hal tersebut dikarenakan oleh:

  1.  Deficit dalam number sense atau reprentasi non-symbolic dari angka.  Deficit ini dikarenakan terjadinya imparment dari bagian HIPS.
  2. Gangguan yang terjadi pada representasi symbolic dan non-symbolic.

Lebih lanjut Wilson dan Dehaene (2007), mendeskripsikan kelompok dari diskalkulia, yaitu:

  1. Adanya deficitverbal symbolic representation”, yang berhubungan dengan kerusakan dari angular gyrus, pada bagian inferior frontal dan atau area temporal bahasa, atau pada bagian kiri basal ganglia.  Gangguan tersebut menyebabkan kesulitan belajar dan mengingat fakta-fakta aritmatika (misalnya perkalian), dan kemungkinan juga dalam belajar dari penjumlahan kompleks.
  2. Adaya deficit dalam executive function, karena disfungsi frontal.  Hal ini mengakibatkan kesulitan untuk mengingat fakta aritmatika, akan tetapi hal ini lebih lanjut mengakibatkan kesulitan dalam penggunaan strategi dan prosedur matematika.
  3. Adanya deficit dalam spatial attention, yang dikarenakan disfungsi posterior super parietal.  Tipe ini dapat dihubungkan dengan sistem pencarian “object file”, dan mengakibatkan kesulitan dalam subitizing.  Hal ini juga mengakibatkan kesulitan dalam persepsi dari non-symbolic quantity information, and quantity manipulation.  Namun demikian, dikarenakan erat kaitannya antara representasi spatial dan numerical, sub tipe ini mungkin sulit untuk dipisahkan dari subtipe “number sense”

Temuan dan informasi neuropsikologi di atas terkait diskalkulia telah sangat membantu untuk deteksi dini dan intervensi yang tepat untuk anak dengan diskalkulia atau kesulitan belajar matematika.  Melalui intervensi yang tepat sesuai akar permasalahan gangguan maka kesulitan belajar matematika atau diskalkulia dapat diatasi sehingga pencapaian akademis di sekolah menjadi optimum.

 

Referensi

Wilson, A. J. & Dehaene, S. (2007). Number sense and developmental dyscalculia. Coch, D., Fischer, K, & Dawson, G. (Eds). Human Behavior and the Developing Brain (2nd Edn).

Wilson, A.J., S.K. Revkin, D. Cohen, L. Cohen, & S. Dehaene. (2006) An open trial assessment of “The Number Race”, an adaptive computer game for remediation of dyscalculia. Behavioral and Brain Functions 2006, 2:20

Perihal Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu
Dunia anak dan pendidikan adalah menjadi perhatian utama saya sejak tahun 2000. Sejak saat itu saya mulai melakukan penelitian dan mengembangkan terapi untuk mengatasi anak kesulitan belajar yang mencapai 10% dari populasi siswa di setiap sekolah. Hingga saat ini saya merasa beruntung telah mampu mempublikasikan penelitian ilmiah saya di jurnal internasional. Melani Arnaldi, M.Psi., Psi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: