MASALAH KEMAMPUAN SCRIPTING (GIRUS ANGULARIS) SEBAGAI BAGIAN FUNGSI SELF AWARENESS PADA KASUS ANAK KETERLAMBATAN BICARA.

Melani Arnaldi & Amitya Kumara

Terapi Wicara Tunarungu

Keterlambatan bicara pada anak usia batita merupakan masalah yang selalu menghantui para orang tua didalam menghantar  perkembangan awal usianya. Pada saat anak masuk prasekolah pada umumnya anak  akan di test kemampuan kemandirian dan komunikasi. Gierut (Kumara, 2014) mengemukakan data NIDC  bahwa lebih dari 10% anak usia prasekolah mengalami masalah fonologi dalam berkomunikasi. Kondisi ini menunjukan bahwa masalah yang sifatnya bukan neurologis (Davidson dalam Kumara 2014) harus mendapat perhatian. Karena keterlambatan bicara dapat dikaitkan dengan keterlambatan kematangan fungsi organ sehingga fungsi kognitif jadi terganggu. Gangguan itu meliputi  indra pendengaran, jalur infus ke kognitif, bagian kognitif, bagian motorik sampai dengan organ pembuat berbicara  seperti bagian wernicke dan broka.

Masalah indentifikasi menjadi sulit apabila ditemukan bahwa anak yang berusia 3 tahun (batita) memiliki fungsi fisiologis bahasa yang normal, tetapi belum dapat berbicara. Terkadang ada juga kasus seorang anak batita, dimana dia mampu mengerti pembicaraan saat orang tuanya menyuruhnya menutup pintu, tetapi tidak dapat menjawab pertanyaan secara benar. Ada juga kasus anak batita yang hampir tidak pernah berbicara tetapi secara spontan tiba tiba menyebutkan kata dengan fonologi yang benar saat melihat sebuah benda atau kasus yang lebih ekstrim dimana anak tidak mampu berkomunikasi dua arah dan sama sekali tidak memiliki attention terhadap apapun.

Mengenali penyebab masalah sangatlah penting karena kemampuan komunikasi dimasa batita sering dijadikan dasar penilaian kemampuan intelektual anak. Anak yang terlihat aktif berbicara sering dikategorikan anak yang cerdas sedangkan anak yang terlambat berbicara sering dikategorikan anak yang bodoh. Kondisi ini sangat mempengaruhi harapan dan label yang diberikan lingkungan pada anak. Oleh sebab itu penting pengenalan lebih dalam masalah keterlamabatan biacara dari sudut pandang psikolingusitik dan neurokognitif.

Seperti yang kita ketahui organ bicara terdiri dari bagian wernick untuk kemampuan pemahaman dan broca untuk kemampuan motorik bicara, kemudian alat penginderaan seperti bagian telinga dan mata yang mampu mempersepsi sensoris sedangkan proses dalam working memory lebih kepada kemampuan memproses infomasi yang diterima.      Selama ini tolak ukur kemampuan anak dalam berbicara terpusat pada kemampuan motorik bicara dan pendengarannya. Anak yang sulit bicara biasanya dilatih dengan tehnik ABA dan tehnik memberikan ransangan pada fungsi lidahnya. Apabila seorang ahli medis telah menyatakan semua organ telah matang hanya saja belum berfungsi dengan baik, sudah tentu intervensi akan mengarah kemasalah fungsi psikologisnya.

Dalam kenyataanya fungsi psikologis (sistem limbic) berperan sebagai energi penghantar sirkuit di dalam otak (Carter, 2009). Fungsi psikologis muncul saat anak telah memiliki self awareness terhadap lingkungannya. Anak yang telah memiliki fungsi self awareness, akan memiliki kemampuan phonological awareness karena berkaitan dengan kematangan pada organ bicaranya. Pada saat ini anak telah menyadari bahwa untuk berbicara membutuhkan kemampuan mengucapkan kata yang merupakan hasil penggabungan kata sampai terjadi rangkaian bunyi yang bermakna (westwood dalam Kumara 2014). Secara struktural, proses pengolahan infromasi didalam otak terjadi secara berurutan. Dimulai ditangkapnya sinyal oleh indera pendengaran yaitu telinga, dan proses yang langsung berhubungan dengan bagian syaraf kloklearis 8. Proses pada bagian ini kemudian  dilanjutkan di bagian (wernicke) untuk diterjemahkan dalam bentuk pemahaman sampai dengan dihasilkannya suara.

Kondisi ini ternyata berbeda saat anak menerima informasi dari indera penglihatan. Indera penglihatan memproses informasi lebih dulu di bagian girus angularis sebelum di terjemahkan di bagian wernick sampai di hasikannya suara di daerah Broca. Dibagian girus angularis terjadi fungsi perkembangan bahasa, number processing, spatial cognition, memory retrieval, attention, theory of mind (Ramachandran, VS. Hubbard, EM, 2003)

Self  awareness dalam hal ini  dikaitkan dengan passion yang berbentuk ketertarikan dari dalam diri  untuk mempertahankan attentionya  (Kobayashi, 2010). Dibagian girus angulais inilai self awareness mempertahankan attentionya untuk memproses infromasi dalam otak. Dimulai dari proses membuat bayangan spatial (scripting), proses retrieval memory, menterjemahkan sampai menghasilkan suara. Oleh sebab itu  fungsi self awareness erat kaitannya dengan kemampuan attention anak dalammemproses apa yang di persepsi di lingkungan. Self awareness terbentuk dari konsep diri dan kematangan dalam kemampuan pemahaman secara kognitif. Sehingga fungsi Self awareness pada akhirnya akan menentukan  tingkat kemampuan mental persepsi seseorang (Kobayashi,2010). Kemampuan mental persepsi berperan penting didalam memelihara proses kognisi dalam working memory. Proses kognisi meliputi kemampuan executive process yang terdiri dari  kemampuan selecting, switching, inhibition dan maintainance (Matlin,2000). Dari hasil pengalaman semua proses kognitif tersebut,semua bagian syaraf akan berkonsolidasi dan membentuk respon komunikasi secara tepat (Carter, 2009).

Menurut Piaget (Chaer, 2009) kemampuan bahasa memiliki struktur yang kompleks dan dipelajari dari lingkungan. Kemampuan bahasa tidak muncul secara alamiah tetapi melalui proses interaksi yang terus menerus antara tingkat formasi menjadi suatu fungsi kognitif anak dengan lingkungan kebahasaannya. Oleh sebab itu Piaget menekankan pentingnya kesiapan kognitif atau kematangan kognitif pada seorang anak untuk mempelajari bahasa. Piaget mengaitkan fungsi  kognitif  dengan kematangan kognitif yang terkait dengan bahasa dengan membagi dalam sejumlah tahapan perkembangan bedasarkan usia.  Piaget  menggolongkan anak yang berusia 2-6 tahun  masuk ke dalam masa pra operasional. Pada masa ini anak sudah mampu melakukan imitasi dari kemampuannya mempersepsi dan membuat perspektif secara simbolik dunia sekitarnya. Dalam tahap ini anak sudah mampu melakukan scripting (visualisasi) dan menginhbition informasi secara baik dalam bentuk  methapore. Sampai pada masa (usia 18-60 bulan)  anak sudah mampu berbahasa dan memiliki Vocabulary  mencapai 100 kata.

Bedasarkan ulasan diatas  dapat  disimpulkan bahwa sejak lahir seorang anak yang normal telah memiliki kemampuan untuk berbicara. Kemampuan bicara baru dapat terjadi jika anak telah memiliki kemampuan untuk memproses bahasa. Dalam kenyataanya kemampuan visual berkembang lebih dulu dibandingkan kemampuan bahasa (verbal). Oleh sebab itu kemampuan anak memahami kata dimulai saat anak telah mampu melakukan methapore sebagai cara anak mengenali kata. Setelah itu barulah anak sampai dengan kemampuan membentuk sintaksis maupun semantik. Walaupun Piaget mengatakan bahwa kematangan kognitif  mengawali semua fungsi diatas, tetapi ransangan lingkungan sosial harus mengawali semuanya. Ransangan lingkungan dalam hal ini berfungsi sebagai pembangkit (trigger) kemampuan self awareness  yang akan mendorong untuk sampai pada ketrampilan berbahasa. Lingkungan dalam hal ini mengajarkan anak cara  mengenali waktu dan saat yang tepat untuk berkomunikasi. Cara dan strategi berbahasa diajarkan kepada anak melalui proses imitasi dan methapore yang di bangun dari aktivitas di lingkungan. Dimulai dari anak meniru cara mengucapkan kata secara fonologi, membentuk sintaksis, semantik maupun grammar yang diajarkan secara tidak langsung dari lingkungan. Oleh sebab itu masalah keterlambatan bicara  haruslah digali lebih dalam dari sudut pandang neurokognitif agar dapat dibuat suatu rancangan intervensi yang  lebih mendasar.

 

Daftar Pustaka

 

Carter, Rita (2009) Human Brain Dorling Kindersleylimited:China

Chaer, A (2009). Psikolinguistik kajian teoritik. PT Rineka Cipta: Jakarta

Kobayashi, H. (2010). Self-awarenss and mental perception. Journal Indian Philosophy, 38, 233-245

Kumara, A (2014) Kesulitan berbahasa pada anak. PT Kanisius Yogyakarta

Matlin, M.W. (2002). Cognition. New York:  Wadsworth Thomson Learning

Ramachandran, VS. Hubbard, EM,(2003) The phenomenology of synaesthesia, journal of consciousness studies, 10, No.8,.pp 49-57

Perihal Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu
Dunia anak dan pendidikan adalah menjadi perhatian utama saya sejak tahun 2000. Sejak saat itu saya mulai melakukan penelitian dan mengembangkan terapi untuk mengatasi anak kesulitan belajar yang mencapai 10% dari populasi siswa di setiap sekolah. Hingga saat ini saya merasa beruntung telah mampu mempublikasikan penelitian ilmiah saya di jurnal internasional. Melani Arnaldi, M.Psi., Psi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: