KHASIAT CBT (COGNITIVE BEHAVIOR THERAPY) UNTUK KESULITAN BELAJAR DAN DEPRESI PADA REMAJA

Kesulitan belajar juga terjadi pada usia remaja, khususnya tingkatan SMP, SMA, bahkan mahasiswa.  Hal ini terjadi karena penanganan yang terlambat pada tingkatan sekolah dasar ataupun akibat dinamika tumbuh kembang mereka.  Oleh karena itu penangananan kasus kesulitan belajar pada remaja perlu penanganan yang khusus karena pada usia ini, mereka sudah terbentuk karakternya.  Sehingga pendekatan penanganan kesulitan belajar pada remaja lebih kepada arahan minat dan bakat belajar mereka.

Di sisi lain, penanganan kesulitan belajar tidak hanya bagaimana menemukan strategi belajar yang tepat sesuai minat dan bakat, namun juga harus dicari akar permasalahan agar tidak terjadi komorbiditas atau bertumpuknya masalah psikologis pada satu indvidu.

Kesulitan belajar pada usia remaja juga dapat disebabkan oleh gangguan psikologis, salah satunya adalah depresi.  Sering kali remaja dengan kesulitan belajar dan depresi memiliki sejarah pencapaian akademis yang cemerlang di tingkatan sekolah dasar (SD) ataupun sekolah menengah pertama (SMP).  Namun karena gangguan psikologis, yaitu depresi maka pencapaian akademis mereka menjadi menurun.

Oleh karena dinamika tumbuh kembang serta pembentukan karakter, sering kali kasus kesulitan belajar dan depresi pada remaja diikuti permasalahan sosial.  Hal inilah suatu bentuk permasalahan komorbiditas yang terjadi.  Permasalahan tersebut antara lain  komunikasi yang buruk dengan orang tua, konflik dengan teman sebaya, konflik dengan  orang tua ataupun guru di sekolah, menarik diri dari lingkungan, serta masalah gangguan perilaku ataupun adaptasi sosial lainnya.

Neuropsikologi Depresi

Pada pasien depresi neurotransmitter yang terpengaruh karena depresi adalah serotonin dan dopaminSerotonin merangsang  amigdala, anterior cingulate cortex (ACC),  medial prefrontal cortex dan (MPFC), sedangkan   dopamin

Mekanisme kerja otak dari pasien depresi (Kupfer, Frank, & Phillips, 2012).

Mekanisme kerja otak dari pasien depresi (Kupfer, Frank, & Phillips, 2012).

merangsang striatum ventral, oribitofrontal cortex (OFC) dan MPFC)].Area-area tersebut berkaitan erat dengan emosi, regulasi emosi, serta kendali emosi dan kognitif atau fungsi berpikir (Kupfer, Frank, & Phillips, 2012).

Orang dengan gejala depresi menunjukkan ketidaknormalan dalam aktivitas otak, contohnya aktivitas yang berlebihan di amydgala, ventral striatal, dan  medial prefrontal cortex ketika memproses rangsangan negatif dari suatu peristiwa (Kupfer, Frank, & Phillips, 2012).  Oleh karena itu pasien dengan depresi sering kali mengalami distorsi kognitif sehingga perlu bantuan untuk mengembalikan fungsi berpikirnya kembali normal serta keluar dari depresinya.

CBT dan Depresi

Salah satu terapi untuk penanganan kasus depresi pada usia remaja adalah dengan terapi kognitif dan perilaku (Cognitive and Behavior Therapy /CBT).  Terminologi terapi kognitif (CT) dan nama umum yaitu Cognitive Behavior Therapy (CBT) menggambarkan psikoterapi didasarkan kepada model kognitif atau melatih cara berpikir individu lebih ke arah yang positif sehingga timbul perasaan dan perilaku yang positif pula.  Pada kasus depresi, kehadiran CBT telah berlanjut untuk menangani distorted thinking (kesalahan dalam berpikir), dan penilaian dari pemikiran yang tidak realistis atas peristiwa dari perasaan dan perilaku individu (Knapp &  Beck, 2008).

Cognitive Behavioral Therapy (CBT) adalah terapi kognitif (berpikir) dan perilaku yang berorientasi pada pemecahan masalah dengan terapi yang dipusatkan pada keadaan “disini dan sekarang”.  Terapi ini memandang individu sebagai pengambil keputusan penting tentang tujuan atau masalah yang akan dipecahkan dalam proses terapi.  Cognitive Behavioral Therapiy (CBT) memperbaiki pikiran, perasaan, dan perilaku akibat depresi (Knapp &  Beck, 2008).

Studi menunjukkan bahwa CBT efektif mengurangi gejala dan tingkat kambuhnya gejala, dengan atau tanpa bantuan obat dalam kisaran luas dari gangguan psikiatrik.  Beberapa gangguan yang efektif dengan dilakukan CBT adalah depresi, anxiety disorder dan phobia, panic disorder, dan substance abuse, interpersonal problems dan amarah, hostility, kekerasan, schizophrenia, bipolar disorder, chronic pain, marital distress, childhood somatic disorders, bulemia nervosa dan makan yang berlebihan (Knapp &  Beck, 2008).

Neuropsikologi CBT

CBT mengembalikan keseimbangan neurotransmitter dopamine dan serotonin di otak dimana kedua neurotransmiter ini berfungsi penting dalam aktivitas otak.  CBT meningkatkan situs pengikatan  serotonin 5-HT1A di daerah cortical, sehingga menekankan fungsi pembelajaran emosi dimana diindikasikan perbaikan regulasi emosi dan mengurangi stress (Karlsson, H., J. Hirvonen, J. Kajander, J. Markkula, H. Rasi-Hakala, J.K. Salminen,K. Nagren, S. Aalto, & J. Hietala, 2010).

Hipotesis perbaikan kerja otak dengan CBT/CT dan anti depresan (ADM). (DeRubeis, Siegle & Hollon, 2008).

Hipotesis perbaikan kerja otak dengan CBT/CT dan anti depresan (ADM). (DeRubeis, Siegle & Hollon, 2008).

Berikut adalah hipotetis perubahan amigdala dan prefrontal fungsi yang berhubungan dengan obat antidepresan dan CBT.  Selama depresi akut, kegiatan amigdala meningkat dan aktivitas prefrontal menurun relatif terhadap aktivitas di wilayah ini pada orang sehat.  Terapi kognitif (CBT) secara efektif melatih prefrontal korteks (PFC), menghasilkan peningkatan fungsi PFC  dan menghambat daerah amigdala. Sedangkan obat antidepresan (Anti Depresan Medication) menembak langsung fungsi amigdala dengan mengurangi aktivitasnya.  Setelah meminum obat antidepresan atau melakukan terapi CBT, fungsi amigdala menurun dan fungsi prefrontal meningkat. Oleh karena itu CBT memiliki khasiat yang sama besarnya dengan pemberian obat anti depresan (DeRubeis, Siegle, & Hollon, 2008).

Setelah selesai CBT, perubahan metabolik yang signifikan terkait dengan perbaikan dari depresi menunjukkan pada kelompok perlakuan (melalui PET scan), termasuk penurunan aktivitas di dorsolateral prefrontal cortex, ventrolateral prefrontal cortex dan media frontal cortex, serta peningkatan kegiatan di hippocampus dan dorsal cingulate (Goldapple, Segal, Garson, Lau, Bieling, Kennedy, & Mayberg, 2004).

Perbaikan aktivitas kerja otak dengan CBT. (Goldapple, Segal, Garson, Lau, Bieling, Kennedy, & Mayberg, 2004).

Perbaikan aktivitas kerja otak dengan CBT. (Goldapple, Segal, Garson, Lau, Bieling, Kennedy, & Mayberg, 2004).

Individu depresi umumnya menunjukkan bias negatif selama self-referensial pengolahan dan evaluasi rangsangan emosional, melibatkan daerah otak seperti medial prefrontal cortex, amigdala, dan anterior cingulate cortex , sebagai fitur kognitif dari gangguan. Pasien depresi, yang telah mengambil antidepresan tetapi tidak menunjukkan perbaikan gejala, mengalami perbaikan dengan menyelesaikan setidaknya 12 minggu CBT.  Hasil neuroimaging (fMRI) menunjukkan aktivitas otak normal pada orang depresi setelah CBT, termasuk penurunan aktivitas di medial prefrontal cortex, dan anterior cingulate cortex selama memproses rangsangan emosional yang negatif (Yoshimura,  Okamoto, Onoda, Matsunaga, Okada, Kunisato, Yoshino, Ueda, Suzuki, & Yamawaki, 2013).

Di sisi lain sebaliknya, ada peningkatan aktivitas di daerah medial prefrontal cortex dan anterior cingulate cortex ketika memproses rangsangan positif. Perubahan neurologis berhubungan dengan perbaikan gejala depresi, termasuk mengurangi bias dari rangsangan negatif selama pemrosesan emosi (Goldapple et al., 2004)

Pelayanan CBT di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu memberikan pelayanan CBT khususnya untuk remaja dengan depresi dan kesulitan belajar.  Permasalahan yang dialami remaja tersebut antara lain kesulitan konsentrasi belajar, prestasi belajar menurun, konflik dengan orang tua, bermasalah dengan sekolah dan guru, dan menarik diri dari lingkungan sosial.

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu mengembangkan CBT untuk depresi dan kesulitan belajar dalam aplikasi keluarga atau terapi keluarga.  Diharapkan keluarga sebagai lingkungan terdekat dan terkecil dari remaja dapat memberikan dukungan serta mengingatkan kembali materi CBT yang diberikan di rumah.

Materi CBT diberikan dengan penyajian audio visual untuk memudahkan pemahaman bagi peserta terapi.  Selain dengan metode diskusi untuk memperbaiki distorsi kognitif, bantuan visualisasi materi memudahkan pembahasan selama sesi terapi.

Perubahan perilaku dari remaja peserta terapi ditunjukkan setelah mereka melalui 12 sesi terapi atau tiga bulan.  Mereka lebih komunikatif dengan orang tua dan keluarga, bersemangat, tidak melawan orang tua, mampu berkonsentrasi belajar, pencapaian akademis yang meningkat, dan adaptasi di rumah, sekolah dan lingkungan sekitar yang lebih baik.  Seiring terapi yang intensif dan berkelanjutan, perubahan lebih signifikan dan menetap akan terjadi setelah enam bulan hingga satu tahun tergantung komplesitas dari gejala yang dialami (ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

Daftar Pustaka

DeRubeis, R.J., G.J. Siegle & S.D. Hollon. (2008). Cognitive therapy versus medication for depression: treatment outcomes and neural mechanisms. NATURE, October, 2008, vol. 9:788-796

Goldapple, K., Z. Segal, C. Garson, M. Lau, P. Bieling, S. Kennedy, H.  Mayberg. (2004).  Modulation of cortical-limbic pathways in major depression: treatment-specific effects of cognitive behavior therapy. Arch. Gen. Psychiatry, Jan;61(1):34-41.

Karlsson, H., J. Hirvonen, J. Kajander, J. Markkula, H. Rasi-Hakala, J.K. Salminen,K. Nagren, S. Aalto, & J. Hietala. (2010). Research letter: psychotherapy increases brain serotonin 5-HT1A receptors in patients with major depressive disorder. Psychological Medicine, 40: 523–528.

Knapp, P., &  A.T. Beck (2008). Cognitive therapy: fondations, conseptual models, applications and research. Rev Bras Psiquiatr, 30 (suppl II): S54-64

Kupfer, D.J., E. Frank, & M.L. Phillips. (2012). Major depressive disorder: new clinical, neurobiological, and treatment perspectives. The Lancet. 379(9820): 10451055

Yoshimura, S., Y. Okamoto, K. Onoda, M. Matsunaga, G.Okada, Y. Kunisato,A. Yoshino, K. Ueda, S. Suzuki, & S. Yamawaki. (2013). Cognitive behavioral therapy for depression changes medial prefrontal and ventral anterior cingulate cortex activity associated with self-referential processing. Social  Cognitive Affective Neuroscience, Februari, 11, 1-7.

Perihal Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu
Dunia anak dan pendidikan adalah menjadi perhatian utama saya sejak tahun 2000. Sejak saat itu saya mulai melakukan penelitian dan mengembangkan terapi untuk mengatasi anak kesulitan belajar yang mencapai 10% dari populasi siswa di setiap sekolah. Hingga saat ini saya merasa beruntung telah mampu mempublikasikan penelitian ilmiah saya di jurnal internasional. Melani Arnaldi, M.Psi., Psi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: