Sosialisasi ADHD di SD Harapan Ibu, Pondok Pinang, Jakarta Selatan

Kasus ADHD (Attention Deficit/Hyperactivity Disorder) merupakan kasus tersulit dalam kelompok kesulitan belajar.  Sedangkan kasus kesulitan belajar di Indonesia, khususnya di sekolah formal diprediksi angkanya dapat mencapai 5% dari populasi siswa bersekolah formal.  Fenomena ini bagai buah simalakama bagi penyelenggara sekolah formal terlebih dengan dorongan untuk menjadikan mereka sekolah inklusi.

Sekolah formal baik pengelola dan tenaga pendidik, tidak dipersiapkan bahkan terlatih untuk menangani anak kebutuhan khusus ataupun anak kesulitan belajar.  Bahkan tak jarang mereka kecolongan dalam seleksi penerimaan siswa baru.  Karena banyak anak dengan kesulitan belajar, khususnya ADHD memiliki intelegensi yang cukup bahkan tinggi. Selain itu, pengelola dan tenaga pendidik sangat awam terhadap wacana kesulitan belajar, khususnya anak dengan ADHD.  Sehingga hal ini bertambah menjadi komplek saat kegiatan belajar dan mengajar berlangsung.

img-20160929-wa0009

Acara sosialisasi ADHD oleh Agus Syarifudin, S.Si., dari Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu kepada guru di SD Harapan Ibu, Pondok Pinang, Kamis, 29 September 2016 (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Menyikapi permasalahan di lapangan, Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu mengadakan  kegiatan pengabdian masyarakat berupa Screening Anak Dengan ADHD di Sekolah Dasar Umum di Jakarta Selatan.  Kegiatan ini diawali dengan sosialisasi kepada tenaga pendidik dan kependidikan dan kemudian ditindaklanjuti dengan screening atau pengetesan anak yang diduga  ADHD di sekolah terkait.  Hasil dari screening ini dapat mengetahui populasi dan tingkat keparahan yang terjadi dari anak kesulitan belajar ADHD; memberikan informasi kepada orang tua dan pihak sekolah terkait hasil screening;  dan dapat ditindaklanjuti dengan konseling ataupun terapi di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu.

Kegiatan pengabdian masyarakat tersebut salah satunya dilakukan di SD Harapan Ibu, Pondok Pinang, Jakarta Selatan.  Kegiatan tersebut diawali dengan sosialisasi ADHD kepada tenaga pendidik dan tenaga kependidikan di SD Harapan Ibu pada Kamis, 29 September 2016.  Acara sosialisasi ini disampaikan oleh Agus Syarifudin, S.Si. sebagai asisten riset dan terapis dari Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu. Pada acara tersebut terungkap bahwa secara umum, guru mata pelajaran dan guru kelas sudah mengetahui jika siswa mereka terindikasi ADHD. Hanya saja informasi bagaimana penanganan dan memperlakukan siswa dengan ADHD secara tepat saat pembelajaran belum mereka dapatkan.

Disampaikan oleh Agus Syarifudin, S.Si., ADHD atau Attention Deficit/Hyperactivity Disorder merupakan salah satu gangguan kesulitan belajar yang perlu perhatian khusus.  Anak dengan ADHD memiliki kesulitan dalam memusatkan perhatian, impulsivitas, serta mengalami gangguan hiperaktivitas. Pencapaian akademis mereka dapat jatuh dan dibawah KKM yang ditetapkan oleh guru dan sekolah karena gangguan tersebut meskipun mereka memiliki intelegensi yang tinggi.

Terkait penanganan di sekolah saat jam belajar, Agus Syarifudin, S.Si. memberikan  tips kepada guru atau tenaga pendidik dalam menangani anak ADHD.  Diantaranya dengan menyelenggarakan kelas sosialisasi dengan memisahkan anak ADHD saat tantrum atau bermasalah di kelas.  Kemudian saat anak dengan ADHD berulah, lebih baik dinasehati setelah dia dalam keadaan tenang dengan teknik menyindir. Selain itu bagi guru untuk terus menasehati berulang-ulang karena memang anak dengan ADHD memiliki kelemahan dalam recall comprehension mereka.

Di sisi lain Agus Syarifudin, S.Si., juga memberikan wacana bahwa guru dan manajemen sekolah memegang peranan penting dalam deteksi dini anak dengan ADHD yang bekerja sama dengan psikolog atau pun pelayanan psikologi. Hal ini penting untuk dapat memberikan diagnosa yang tepat serta intervensi yang efektif. Intervensi yang tepat akan memberikan solusi terhadap permasalahan kesulitan yang dialami oleh siswa. Jika sinergi ini dilakukan oleh sekolah dengan psikolog atau lembaga pelayanan psikologi, maka anak dengan ADHD yang diintervensi mampu survive dan berprestasi di sekolah formal (Ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

 

 

 

Perihal Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu
Dunia anak dan pendidikan adalah menjadi perhatian utama saya sejak tahun 2000. Sejak saat itu saya mulai melakukan penelitian dan mengembangkan terapi untuk mengatasi anak kesulitan belajar yang mencapai 10% dari populasi siswa di setiap sekolah. Hingga saat ini saya merasa beruntung telah mampu mempublikasikan penelitian ilmiah saya di jurnal internasional. Melani Arnaldi, M.Psi., Psi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: